Lelah, sesak, dan dinginnya angin malam menjadi sahabat setia puluhan relawan yang berjibaku memadamkan kobaran api di Gunung Gede Pangrango. Bahkan nyawa pun dipertaruhkan demi menjangkau titik api di kawasan Kawah Wadon.
Seperti yang diketahui, kebakaran di kawasan Kawah Wadon Gunung Gede Pangrango sudah berlangsung selama tujuh hari. Puluhan hektare lahan di kawasan tersebut ludes dilalap api.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap harinya, puluhan relawan berusaha menjangkau titik-titik api agar bisa segera mengakhiri kebakaran tersebut sehingga tak terus meluas.
Tidak mudah untuk bisa tiba ke titik api. Para relawan mengawali perjuangannya dengan berjalan selama empat jam dari pintu utama Gunung Gede Pangrango menuju Alun-alun Suryakancana.
Setelah sejenak beristirahat, mereka mesti melanjutkan kembali perjalanan selama dua jam menuju kawasan Kawah Wadon, tempat kebakaran terjadi.
"Sebagian relawan ada yang lewat Gunung Putri, dan sebagian lagi melalui jalur Cibodas," ungkap Eko Wiwid, salah seorang relawan, Rabu (12/8/2026).
Rasa lelah selama perjalanan mereka abaikan kala melihat kobaran api yang melalap pepohonan serta rerumputan kering di Kawasan Wadon.
Dengan alat seadanya, mulai dari tongkat, ranting, hingga alat khusus berisi air, mereka memadamkan api.
"Jelas lelah setelah menempuh perjalanan panjang, ditambah kondisi medan Kawah Wadon yang ekstrem. Tapi begitu lihat api, rasa lelah dikesampingkan. Kami langsung berusaha memadamkan api supaya tidak membesar dan merambat. Ada yang pakai kantong air khusus, ada juga yang pakai tongkat atau ranting," kata dia.
Kepulan asap putih membuat napas terasa sesak. Tetapi rasa sesak melihat Gunung Gede terbakar lebih besar, membuat semangat dari para relawan berkobar.
"Untuk mengurangi sesak dari asap, kita pakai kait yang menutupi hidung dan mulut. Yang penting tidak menghirup asap langsung. Memang sesak oleh asap, tapi kami lebih sesak dan sedih melihat Gunung Gede terbakar," tuturnya.
Sebagian relawan secara bergantian bertugas memadamkan api, tapi tidak sedikit yang bertahan lebih dari lima hari di lokasi kebakaran.
Bahkan, bau keringat lantaran berhari-hari tak mandi sudah tak lagi dihiraukan. Pemadaman api menjadi fokus utama dari para relawan.
"Saya sendiri lebih dari tiga hari di lokasi. Ada juga yang sudah lima hari di sana. Karena api belum padam, sehingga terus ingin berada di sana, berusaha memadamkan setiap titik api," kata dia.
Untuk beristirahat, tentunya tidak ada tempat yang nyaman. Bivak menjadi 'rumah' yang mewah bagi para relawan untuk beristirahat.
Tidak jarang, Eko dan teman-temannya tidur di atas tumpukan rerumputan. Bahkan kala angin malam datang, jaket tebal tak sanggup menahan dingin yang menusuk.
Rerumputan pula yang menjadi selimut tambahan bagi relawan untuk mengusir rasa dingin tersebut.
"Kalau malam hari tidur sembarang saja, bagus-bagus bisa bikin bivak. Kalau tidak tidur beralas rumput, dan berselimut rumput, sudah seperti mode survivalnya babi hutan di alam liar," kata dia.
Senada, Niko Rastagil, relawan, mengatakan banyak titik api yang berada di lereng curam. Hal itu membuat relawan mesti menuruni medan terjal demi menjangkaunya.
Nyawa pun dipertaruhkan, sebab sekali salah berpijak bukan hanya risiko cedera tetapi memungkinkan kehilangan nyawa.
"Beberapa kali saya menggunakan tali untuk bisa turun ke titik api. Karena tidak ada jalan dan susah dijangkau. Di pikiran tidak ada lagi takut celaka atau kehilangan nyawa, terpenting bisa segera memadamkan titik api. Meskipun setelahnya baru berpikir, gimana kalau saya jatuh saat menuruni tebing," ungkap dia.
Kendati menguras tenaga dan mental, semangat dari sesama relawan membuat mereka terus menguatkan diri.
"Semuanya berjuang, termasuk ada juga porter yang setiap hari naik-turun gunung mengantarkan logistik makan dan minum untuk relawan yang memadamkan api. Jadi semangat terbangun karena saling menguatkan," kata dia.
Di sisi lain, doa pun terus dipanjatkan, berharap keselamatan terus menyertai para relawan yang bertugas.
"Tentu kita makin kuatkan diri dengan berdoa. Kami juga terus berdoa agar segera turun hujan. Ikhtiar dan doa diharapkan menjadi jalan agar api bisa segera padam, semua bisa kembali menikmati keindahan Gunung Gede Pangrango," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, kebakaran lahan kembali terjadi di Gunung Gede Pangrango, Jumat (7/8/2026). Bahkan kebakaran yang terjadi di dekat kawah aktif ini masih dalam proses pemadaman oleh puluhan relawan.
(sud/sud)
