Air menjadi kebutuhan utama tubuh untuk menjaga fungsi organ, mengatur suhu tubuh, serta mendukung berbagai proses metabolisme. Meski begitu, mengonsumsi air secara berlebihan juga dapat membahayakan kesehatan. Kondisi ini kerap tidak disadari karena banyak orang menganggap semakin banyak minum air, semakin baik bagi tubuh.
Konsumsi air dalam jumlah berlebih dapat memicu keracunan air atau water intoxication. Risiko tersebut muncul ketika seseorang mengonsumsi lebih dari satu liter air dalam waktu sekitar satu jam sehingga kadar elektrolit, terutama natrium, menurun. Penurunan kadar natrium atau hiponatremia membuat keseimbangan cairan dalam tubuh terganggu.
Hiponatremia dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari mual, muntah, sakit kepala, pusing, kebingungan, hingga kelemahan otot. Pada kondisi yang lebih berat, cairan dapat menyebabkan sel-sel otak membengkak sehingga meningkatkan tekanan di dalam tengkorak. Dampaknya dapat berujung pada kejang, koma, bahkan kematian jika tidak segera ditangani.
Kasus nyata pernah dialami seorang perempuan berusia 35 tahun yang mengonsumsi sekitar dua liter air hanya dalam 20 menit. Setelah mengalami rasa haus berlebihan, ia pingsan setibanya di rumah. Pemeriksaan dokter menunjukkan pembengkakan otak akibat konsumsi air yang berlebihan menjadi penyebab kondisi tersebut.
Dokter menyesuaikan penanganan hiponatremia dengan tingkat keparahannya, mulai dari pemberian obat hingga infus natrium. Selain memperhatikan jumlah air yang diminum, masyarakat juga dapat memantau warna urine sebagai indikator sederhana status hidrasi. Urine yang sangat bening dapat menjadi tanda tubuh sudah cukup cairan atau bahkan kelebihan asupan air.
(sud/sud)