Peristiwa penyerudukan babi di Desa Subang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan yang terjadi pada Minggu (2/8/2026) ternyata bukan peristiwa yang pertama kali terjadi. Setidaknya, ada dua peristiwa penyerudukan babi hutan terhadap warga bahkan hingga menyebabkan salah seorang warga mendapatkan puluhan jahitan.
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Desa Subang, Sujana memaparkan bahwa insiden terbaru yang menimpa Anas sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling parah. Sebagai orang yang sejak kecil tinggal di Desa Subang, setidaknya ada sekitar dua peristiwa penyerudukan babi kepada warga yang mengakibatkan luka parah hingga harus mendapatkan puluhan jahitan.
"Udah pernah ngalamin yang paling parah. Yang dulu mah yang orang Madura sampai pahanya aja 35 jahitan gitu. Yang tukang sate dulu tuh, si Rahmat namanya. Itu sudah lama kejadiannya, saat masih banyak hutan, ada 1 dekade yang lalu mah," tutur Sujana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memaparkan kasus pertama paling mengenaskan terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu yang menimpa seorang penjual sate asal Madura bernama Rahmat. Sama seperti yang dialami Anas, peristiwa tersebut bermula ketika ada beberapa orang sedang berburu babi di hutan.
Namun, saat diburu, babi tersebut malah masuk ke area permukiman warga. Saat babi tersebut masuk ke permukiman, babi tersebut kemudian menyerang Rahmat yang saat itu sedang beraktivitas memotong daging di lapaknya.
Awalnya, Rahmat mengira babi jantan tersebut mudah untuk ditaklukkan. Namun, kondisi babi yang sedang stres dan besar membuat babi tersebut malah menyerang balik Rahmat dengan menggunakan gigi dan taringnya.
"Babi lagi diburu, dianya lagi potongin daging. Dengar ada babi di saluran air, kan dekat di ujung permukiman. Mungkin dia disangkanya babi disamain kayak babi yang berwarna putih-putih itu yang mudah diamankan. Dia sampai bawa pisau, ternyata babinya ini sudah ganas itu mah," tutur Sujana.
Akibat kejadian tersebut, Rahmat mendapatkan banyak luka khususnya di bagian kaki dan memperoleh sekitar 35 jahitan. Tak hanya itu, kejadian tersebut juga membuat Rahmat trauma dan enggan untuk berjualan kembali di Desa Subang.
"Iya, itu mah jantan. Jantan itu 35 jahitan sampai dievakuasi ke rumah sakit. Tapi dia sampai sekarang nggak balik lagi ke Desa Subang," tutur Sujana.
Selain pedagang sate, catatan penyerangan babi hutan di Desa Subang juga pernah menimpa seorang petani lansia setempat bernama Jarkon beberapa tahun yang lalu. Kala itu, saat sedang mencari rumput di dekat hutan, Jarkon tiba-tiba diseruduk oleh babi hutan hingga menyebabkan terjatuh dan tulang pundaknya patah.
"Kedua yang Bapak-bapak yang lagi ngarit gitu kan namanya pak Jarkos sudah lansia itu diseruduk sampai ditabrak. Dianya jatuh kayak kemarin si Anas, cuma itu mah tulang pundaknya aja sampai patah. Dia sudah tua. Sampai dibawa ke rumah sakit segala macam. Itu kejadian sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu," tutur Sujana.
Sujana menjelaskan babi hutan yang diburu oleh warga sendiri bukan tanpa alasan. Menurutnya, babi tersebut diburu karena dianggap sebagai hama yang sering merusak tanaman di lahan pertanian warga. Oleh karena itu, ketika sudah cukup parah, beberapa warga memutuskan untuk memburu babi hutan sebagai upaya untuk membasmi hama.
"Ya itu kan hama. Tanaman mah habis. Sekarang mah jangankan singkong, padi aja habis. Babi udah kehilangan makanannya, sumber makanannya sudah sulit mungkin. Dan salah satu cara untuk mengatasi hama ya dengan diburu, karena memang populasinya banyak," tutur Sujana.
Meskipun diburu, lewat kejadian masuknya babi ke permukiman, Sujana mengimbau agar masyarakat yang hendak berburu babi hutan untuk lebih berhati-hati. Untuk mencegah babi kabur ke area permukiman, Sujana menyarankan agar berburu babi dengan menggunakan jaring berukuran besar bukan dengan tombak.
"Harapannya, kalau ketika mau dilakukan perburuan, mungkin masyarakat juga harus tahu jadwal perburuan, titik lokasi perburuan. Kalau lokasi perburuan dekat ke permukiman, mungkin masyarakat kan mesti waspada juga, takutnya lari ke permukiman. Alangkah lebih baiknya regu pengendali hama. Mungkin kita konsepnya jangan diburu pakai tombak, mendingan pakai porog lah, pakai jaring. Kalau pakai jaring kan kita pasang di jalur. Kalau babi jalannya ke sana ya ke sana, nggak berpaling," pungkas Sujana.
(yum/yum)
