Sebanyak 60 warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Majalengka mengikuti program pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C. Program tersebut digulirkan agar narapidana tetap dapat mengenyam pendidikan meski sedang menjalani masa hukuman.
Kepala Lapas Kelas IIB Majalengka Rian Firmansyah mengatakan, pendidikan merupakan hak setiap warga negara, termasuk warga binaan. Karena itu, pihaknya membuka akses pendidikan melalui kerja sama dengan PKBM Dharmawangsa Panca Kalijati dan Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka.
"Pendidikan merupakan hak setiap warga negara Indonesia. Walaupun mereka sedang menjalani pidana di dalam lapas, bukan berarti mereka harus tertinggal dalam hal pendidikan. Karena itu kami memberikan program pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C sehingga mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan selama menjalani masa pidana," kata Rian kepada detikJabar, Jumat (24/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini terdapat 60 warga binaan yang mengikuti program pendidikan kesetaraan, terdiri dari 30 peserta Paket B dan 30 peserta Paket C. Mayoritas merupakan warga binaan usia produktif yang dinilai masih memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti.
"Harapannya ketika keluar dari sini mereka bisa lebih berdaya guna. Mereka masih punya kesempatan mengejar ketertinggalan pendidikan," ujarnya.
Menurut Rian, proses belajar akan dilakukan secara tatap muka dengan menyesuaikan jadwal tenaga pengajar dari PKBM. Ia menilai metode tersebut lebih efektif dibanding pembelajaran daring.
"Kami inginnya tatap muka, jangan online. Hasilnya tentu akan berbeda kalau tatap muka," ungkapnya.
Selain pendidikan kesetaraan, Lapas Majalengka juga menjalankan program pembinaan keagamaan melalui pesantren. Menurut Rian, pembinaan spiritual menjadi bagian penting untuk membentuk karakter warga binaan agar menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke masyarakat.
"Yang pertama kami sentuh hati mereka. Kalau hati mereka tergerak untuk berubah, insyaallah ke depan bisa berubah menjadi lebih baik," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka Umar Ma'ruf menyambut baik pelaksanaan pendidikan kesetaraan di dalam lapas. Menurutnya, program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan rata-rata lama sekolah (RLS) sekaligus menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Majalengka.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di Majalengka meningkat dari 7,53 tahun menjadi 7,81 tahun pada akhir 2025. Di saat yang sama, jumlah anak tidak sekolah juga terus mengalami penurunan.
"Program pendidikan di Lapas Majalengka ini sangat luar biasa. Pemerintah pernah hadir melalui SKB pada 2024 dan sekarang dilanjutkan oleh PKBM Dharmawangsa bekerja sama dengan lapas. Pendidikan merupakan indikator utama pembangunan manusia," kata Umar.
Menurutnya, pendidikan kesetaraan tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi warga binaan yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan formal.
Pemkab Majalengka, lanjut Umar, juga memiliki program AKSIRAMA (Akselerasi Capaian Rata-rata Lama Sekolah) yang bertujuan meningkatkan akses pendidikan melalui Paket A, Paket B, dan Paket C hingga tingkat desa.
"Kami ingin memberikan pelayanan pendidikan kepada semua warga masyarakat, termasuk mereka yang belum sempat mengenyam pendidikan formal. Bahkan ke depan kami berharap mereka bisa melanjutkan hingga perguruan tinggi," ujarnya.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Ketua DPRD Majalengka Didi Supiadi. Menurutnya, pendidikan menjadi bekal penting bagi warga binaan agar dapat kembali produktif setelah menyelesaikan masa pidana.
"Alhamdulillah ini program yang sangat baik. Saya melihat masih banyak warga binaan yang usianya muda dan belum lulus SMP. Mudah-mudahan melalui Paket B dan Paket C mereka bisa melanjutkan pendidikan," kata Didi.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti sampai jenjang pendidikan dasar dan menengah. Menurutnya, warga binaan yang masih berusia muda perlu diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
"Harapan saya mereka bisa melanjutkan pendidikan hingga SMA, bahkan kalau memungkinkan sampai perguruan tinggi. Mereka masih punya kesempatan mengejar pendidikan yang sempat tertunda," pungkasnya.
(yum/yum)
