Mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) menginisiasi solusi konkret menghadapi ancaman kekeringan dengan menciptakan mesin pengolah air payau menjadi air layak pakai. Inovasi ini hadir di tengah krisis air bersih yang melanda sejumlah titik di Kabupaten Indramayu akibat musim kemarau panjang.
Teknologi yang dikembangkan sebagai proyek tugas akhir tersebut kini telah diimplementasikan di kawasan wisata Pantai Balongan Indah (Bali 2). Mesin ini difungsikan untuk menyokong kebutuhan sanitasi serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) dengan mengubah karakteristik air payau menjadi air yang aman digunakan pengunjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Polindra, Rofan Aziz, memaparkan bahwa proyek ini merupakan wujud kolaborasi antara pihak akademisi dan pengelola destinasi wisata yang selama ini terkendala pasokan air bersih.
"Di Pantai Balongan ini ada permasalahan air bersih. Kami selesaikan dengan membuat mesin penjernih air yang mengolah air payau menjadi air yang layak digunakan untuk mandi dan kebutuhan pembersihan di kawasan pantai," kata Rofan, Rabu (22/7/2026).
Rofan menambahkan, alat ini membuktikan bahwa hasil riset mahasiswa tidak hanya berhenti di lingkungan kampus, tetapi mampu memberikan dampak langsung bagi produktivitas masyarakat.
Ahmad Farhani, salah satu mahasiswa pengembang, menjelaskan bahwa sistem ini bekerja melalui tahapan filtrasi berlapis. Proses penyaringan menggunakan kombinasi pasir silika, mangan, karbon aktif, dan zeolit untuk mengeliminasi bau, kadar zat besi, hingga partikel halus. Setelah itu, air melewati membran khusus untuk memastikan kualitas akhirnya.
"Mesin mampu menghasilkan sekitar tujuh liter air per menit atau setara 420 liter per jam. Apabila beroperasi tanpa henti selama 24 jam, kapasitas produksinya dapat mencapai sekitar 10 ribu liter air per hari," ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Proses rancang bangun mesin ini memakan waktu sekitar dua bulan. Ahmad mengakui tantangan utama terletak pada minimnya referensi teknologi serupa, sehingga tim harus melakukan studi mandiri dengan bimbingan intensif dari dosen dan teknisi ahli.
Ide pengembangan alat ini dipicu oleh tingginya biaya operasional pengadaan air bersih di Pantai Balongan Indah. Ahmad berambisi menghadirkan teknologi yang mampu menekan biaya tersebut melalui pengolahan sumber daya yang tersedia di lokasi.
Selain untuk kebutuhan wisata, mesin ini diproyeksikan dapat membantu wilayah-wilayah yang menjadi langganan krisis air saat kemarau. Dengan mengandalkan sumur bor, teknologi ini berpotensi dikembangkan lebih luas untuk mendukung sektor domestik hingga pertanian.
"Kami berharap inovasi tersebut dapat diterapkan di desa-desa yang kesulitan memperoleh air bersih, sehingga ketergantungan terhadap pasokan PDAM dapat dikurangi," pungkas Ahmad.
