Dulu Dijuluki Bocah Jenius, Kini Hidup Sebatang Kara karena Terobsesi Matematika

Dulu Dijuluki Bocah Jenius, Kini Hidup Sebatang Kara karena Terobsesi Matematika

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 16 Jul 2026 20:03 WIB
Liu Hanqing
Foto: Weibo
Bandung -

Nama Liu Hanqing pernah menjadi kebanggaan sebuah desa kecil di China. Sejak usia belia, ia dikenal sebagai bocah jenius dengan kemampuan akademik yang jauh melampaui teman-teman seusianya. Namun puluhan tahun kemudian, kehidupan Liu berubah drastis. Pria yang kini berusia sekitar 60 tahun itu hidup seorang diri di pedesaan dengan mengandalkan subsidi pemerintah sebesar 400 yuan atau sekitar Rp1 jutaan per bulan.

Perjalanan hidup Liu kembali menjadi sorotan publik setelah kisahnya viral di media sosial China. Banyak yang menyayangkan bagaimana sosok yang dahulu digadang-gadang memiliki masa depan cemerlang justru menjalani hidup sederhana akibat obsesinya terhadap dunia matematika.

Dari Anak Petani Miskin Menjadi Bocah Jenius

Liu Hanqing lahir di Taizhou dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi sederhana. Meski tumbuh dalam keterbatasan, kecerdasannya sudah terlihat sejak masih kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mampu menghafal berbagai teks klasik dan bahkan mempelajari kalkulus secara otodidak saat baru berusia 11 tahun.

"Saya selalu menjadi juara pertama di seluruh sekolah saat SD dan SMP," kenang Liu dalam wawancara pada 2017 dengan Sina News.

ADVERTISEMENT

Prestasi tersebut mengantarkannya menjadi salah satu siswa paling berprestasi di daerahnya. Pada usia 16 tahun, Liu berhasil diterima di Institut Teknologi Harbin, salah satu perguruan tinggi bergengsi di China.

Nilai ujian masuk yang diraihnya hampir sempurna, yakni 398,5 dari total 400 poin.

"Nilai ini lebih dari 10 poin di atas standar nilai untuk universitas unggulan," katanya.

Prestasi itu terasa semakin luar biasa mengingat pada tahun tersebut sekitar 3,33 juta orang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, namun hanya sekitar 280 ribu peserta yang berhasil diterima. Bagi seorang anak desa pada awal 1980-an, keberhasilan itu merupakan pencapaian yang sangat langka.

Keberhasilannya membuat seluruh kampung ikut berbangga. Ayah Liu bahkan mengadakan pesta sederhana sebagai bentuk rasa syukur.

Warga desa mengantarnya menuju universitas menggunakan perahu sambil diiringi tabuhan genderang.

"Tidak ada yang menyangka phoenix emas bisa terbang dari desa kecil kita," kata kepala desa saat itu.

Mahasiswa Berprestasi yang Terobsesi Matematika

Di kampus, Liu menjadi mahasiswa termuda di kelasnya. Selama dua tahun pertama, prestasi akademiknya tetap gemilang dan para dosen menaruh harapan besar terhadap masa depannya.

Namun semuanya berubah ketika memasuki tahun ketiga kuliah.

Saat itu Liu membaca kisah matematikawan terkenal China, Chen Jingrun, yang berhasil memecahkan sebagian Konjektur Goldbach, salah satu persoalan matematika paling rumit yang pertama kali diajukan matematikawan Jerman Christian Goldbach pada tahun 1742.

Kisah tersebut membuat Liu terpesona.

Ia kemudian mengalihkan seluruh fokusnya untuk mempelajari matematika secara mendalam. Obsesi itu membuatnya mengabaikan jurusan utama yang sedang ditempuh.

Liu hanya tidur sekitar dua jam setiap hari dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di perpustakaan untuk meneliti berbagai teori matematika.

Melihat semangatnya, pihak universitas bahkan sempat memberikan kesempatan bekerja paruh waktu di departemen matematika. Sejumlah profesor turut mengawasi penelitian yang ia lakukan.

Namun setelah ditelaah, para akademisi menemukan kelemahan mendasar pada metode dan logika penelitian Liu.

"Saat itu, saya tidak peduli semua itu. Saya hanya belajar sendiri dan tidak menghadiri kelas jurusan apa pun," katanya.

Karena terlalu fokus pada matematika, Liu mengabaikan seluruh mata kuliah wajib di jurusan pemrosesan termal yang diambilnya.

Akibatnya, ia gagal menyelesaikan studi dan harus meninggalkan bangku kuliah tanpa memperoleh gelar.

Kepala departemen saat itu menyebut Liu sebenarnya merupakan mahasiswa yang sangat cemerlang pada dua tahun pertama, tetapi kemudian kehilangan arah karena mengabaikan perkuliahan utamanya.

Sepulang dari kampus pada 1985, Liu kembali ke kampung halamannya. Berbeda dengan teman-temannya yang memperoleh pekerjaan bergengsi, ia memilih menghabiskan waktu untuk terus meneliti matematika.

Pada awalnya, kedua orang tuanya masih memberikan dukungan penuh terhadap pilihan tersebut. Namun seiring waktu, harapan bahwa Liu akan menghasilkan karya besar perlahan memudar.

Selama lebih dari tiga dekade melakukan penelitian secara mandiri, Liu hanya menghasilkan satu makalah akademik.

Makalah itu kemudian diunggah temannya ke media sosial luar negeri. Seorang pemegang gelar doktor matematika dari Finlandia disebut menilai karya tersebut memiliki terlalu banyak kesalahan sehingga belum layak disebut sebagai makalah ilmiah.

Memasuki tahun 2007, kondisi kesehatan Liu mulai memburuk sehingga ia tidak lagi mampu begadang seperti sebelumnya.

Setahun kemudian, sebuah sekolah dasar di daerahnya sempat mengundangnya menjadi guru.

Namun kesempatan tersebut ia tolak karena kondisi kesehatannya sudah tidak memungkinkan.

Kini Liu tinggal sendirian di rumah tua yang kondisinya mulai rapuh. Barang-barang yang dimilikinya pun sangat terbatas.

Pemerintah desa kemudian membantu mengurus subsidi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada 2017, mantan teman-teman kuliahnya juga menggalang dana untuk memperbaiki rumah Liu, membelikan telepon seluler, serta memasang sambungan internet agar ia tetap dapat berkomunikasi dengan dunia luar.

Kisah yang Memicu Beragam Pandangan

Kisah Liu Hanqing kembali ramai diperbincangkan di China. Sebagian orang menilai ia adalah sosok yang kehilangan masa depan karena terlalu terobsesi mengejar sesuatu yang sulit dicapai.

Namun tidak sedikit pula yang melihat Liu sebagai pribadi yang teguh memegang idealismenya. Selama puluhan tahun ia memilih terus mengejar ilmu pengetahuan tanpa menjadikan kekayaan maupun status sosial sebagai tujuan hidup.

Ketika ditanya apakah dirinya menganggap hidupnya sebagai sebuah keberhasilan, Liu memberikan jawaban yang sederhana namun penuh makna.

"Apa itu sukses? Apakah memiliki uang dan karier berarti sukses?" ucapnya.

Ia kemudian melanjutkan pandangannya mengenai arti kesuksesan menurut dirinya.

"Saya rasa jika Anda pandai dalam matematika, itu bisa disebut sukses. Bagi saya, saya tidak ingin berubah. Saya mungkin tidak memiliki kekayaan materi, tetapi saya memiliki kebebasan batin," pungkasnya.

Kisah Liu Hanqing menjadi pengingat bahwa kecerdasan luar biasa tidak selalu menjamin kehidupan berjalan sesuai harapan. Di sisi lain, perjalanan hidupnya juga memperlihatkan bagaimana seseorang dapat memiliki definisi kesuksesan yang berbeda dengan ukuran kebanyakan orang, meski harus membayar harga yang tidak sedikit atas pilihan yang diambilnya.



(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads