Memasuki musim tanam gadu (MT II), petani di Kabupaten Indramayu dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Menipisnya pasokan air akibat kemarau panjang memaksa mereka berjaga hingga larut malam demi memastikan sawah tetap mendapat aliran air.
Pemandangan itu terlihat di Blok Sampang, Kecamatan Jatibarang. Saat sebagian besar warga terlelap, para petani justru bergantian mengawasi saluran irigasi agar air tidak berhenti sebelum mencapai petak sawah mereka.
Adi (42), salah satu petani, mengaku begadang sudah menjadi rutinitas sejak debit air terus menurun. Menurutnya, jika lengah sedikit saja, sawah yang berada di bagian tengah maupun ujung saluran bisa tidak kebagian air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tidak dijaga semalaman, sawah yang posisinya jauh dari saluran bisa tidak mendapat air. Yang penting tanaman jangan sampai puso," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Fenomena serupa juga dialami banyak petani lainnya. Kebutuhan air yang meningkat secara bersamaan pada awal musim tanam membuat persaingan memperoleh aliran irigasi semakin ketat, meski jadwal pembagian air telah diberlakukan.
Harto (50) bahkan harus mengandalkan pompa untuk mengangkat air menuju lahannya. Namun, perjuangannya tidak berhenti di sana. Setelah air berhasil dipompa, ia masih harus mengawal alirannya agar tidak dialihkan ke lahan lain yang juga membutuhkan pasokan.
"Kalau tidak terus diawasi, air bisa lebih dulu masuk ke sawah lain karena sekarang semua petani sedang membutuhkan," katanya.
Teriknya cuaca selama musim kemarau membuat air di lahan pertanian lebih cepat menguap. Di Blok Sampang, diperkirakan sekitar 10 hektare sawah menjadi wilayah yang paling terdampak kekurangan air.
Para petani berharap ada langkah tambahan dari pemerintah untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, tidak hanya melalui pengaturan jadwal giliran air, tetapi juga upaya lain yang dapat menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu Sugeng Heryanto mengatakan, musim tanam gadu memang memiliki tantangan lebih besar dibanding musim hujan. Karena itu, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan instansi terkait terus melakukan pengamanan distribusi air agar pembagiannya berjalan lebih tertib.
Selain itu, bantuan pompanisasi dari Kementerian Pertanian juga telah dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan air petani di sejumlah wilayah.
Meski kekeringan mulai dirasakan di beberapa daerah, Sugeng memastikan kondisi tanaman padi sejauh ini masih dapat dipertahankan dan belum memasuki kategori puso. Pemerintah pun tetap optimistis target produksi padi Kabupaten Indramayu sebesar 1,6 juta ton pada 2026 masih dapat diwujudkan melalui kerja sama seluruh pihak.
