Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di wilayah Priangan Timur selama sepekan. Mulai dari aksi seorang pedagang es teh berinisial AAS (28), seorang mantan narapidana terorisme yang nekat meledakkan bom rakita di kawasan komplek olahraga Dadaha, Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, hingga seorang petugas penjaga perlintasan kereta api di Garut dikeroyok.
Berikut rangkuman Priangan Timur sepekan:
Jejak Eks Napiter di Balik Ledakan Bom Rakitan Tasikmalaya
Kawasan olahraga Dadaha, Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, tiba-tiba menjadi mencekam pada Sabtu (11/7) malam. Warga yang sedang beraktivitas di sana dikagetkan dengan ledakan keras yang belakangan diketahui berasal dari bom rakitan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulanya saat kejadian, insiden itu diduga dipicu perselisihan antara AAS (28), pedagang es teh dengan pedagang tahu gejrot berinisial E yang ditengarai sedang berada di bawah pengaruh minuman keras. Namun setelah penusuran dilakukan, sosok AAS pun terbongkar sebagai mantan napiter.
Saat kejadian, ledakan tersebut memicu kepanikan di lokasi, meski kondisi saat itu relatif sepi pengunjung karena sudah larut malam. Namun untungnya, sejauh ini, otoritas terkait belum melaporkan adanya korban jiwa maupun luka-luka akibat peristiwa tersebut.
Polisi pun lalu dikerahkan le lokasi. Sejumlah barang bukti diamankan seperti material logam dan zat kimia berbahaya, di antaranya pupuk KCL, belerang, bubuk aluminium, baterai, instalasi kabel, hingga perangkat kendali jarak jauh (remote).
Penyelidikan kemudian dikembangkan dengan menggeledah rumah kontrakan AAS di Kampung Gunung Koneng, Kecamatan Cihideung. Kedatangan aparat dalam jumlah besar dengan pengamanan super ketat ini sontak memicu keheranan warga di lingkungan tempat tinggal terduga pelaku.
Bagaimana tidak, AAS tercatat sebagai warga baru yang berstatus mengontrak rumah di sana selama kurang lebih dua bulan terakhir. Meski pun AAS tercatat berasal dari Kota Tasikmalaya, kampung halaman aslinya diketahui berada di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya.
Selama dua bulan tinggal, AAS dilaporkan sama sekali tidak pernah mendaftarkan diri secara administratif. Apalagi sehari-hari, AAS mengais rezeki di area yang menjadi titik lokasi ledakan.
Saat penggeledahan berlangsung, AAS sendiri sudah tidak ada di rumah karena telah diamankan terlebih dahulu oleh pihak kepolisian. Petugas hanya mendapati istri AAS yang kemudian diminta untuk menyaksikan proses penggeledahan.
Usai merampungkan penggeledahan dan menyita barang bukti dari rumah kontrakan AAS, aparat kepolisian langsung bergeser untuk melanjutkan penyisiran di lapak dagangan es teh milik AAS, yang berlokasi di kawasan Kompleks Olahraga Dadaha. Setelah itu polisi kemudian melepas garis polisi yang sebelumnya dipasang di lapak PKL tersebut.
Hingga kemudian, Polres Tasikmalaya Kota menetapkan AAS sebagai tersangka. Dia sudah ditahan di Mapolres Tasikmalaya Kota, sejak diamankan usai kejadian.
"Terkait perkembangan kasus perselisihan yang terjadi di komplek Dadaha, kami dari Polres Tasikmalaya Kota bergabung dengan Ditkrimum, kami sudah melakukan proses penyelidikan dan telah melakukan serangkaian kegiatan dan kami telah melaksanakan gelar perkara. Dan sudah disepakati kami telah menetapkan satu orang tersangka atas kejadian perkara kemarin," kata Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto, Senin (13/7/2026).
Tersangka AAS terjerat dengan pasal tindak pidana penyalahgunaan senjata tajam, senjata api, dan bahan peledak, sebagai dimaksud dalam pasal 306 atau pasal 308 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Andi menegaskan dalam perkara ini, motif tersangka tidak mengarah kepada aksi teror, melainkan lebih kepada motif personal antar sesama pedagang kaki lima di Dadaha.
"Sebetulnya ini motif sepele hanya perselisihan antar kedua belah pihak, saling ejek hingga menyebabkan kejadian seperti itu, motifnya ada masalah pribadi dan tidak ada teror motifnya," kata Andi.
Andi juga mengatakan proses penyidikan masih berlangsung dan tengah dikoordinasikan dengan tim dari Dirkrimum Polda Jawa Barat. Ada opsi tersangka akan dibawa ke Polda Jawa Barat untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.
Komandan Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jabar, Kompol Iyus Ali Yusup, mengonfirmasi bahwa benda tersebut merupakan bom berdaya ledak rendah (low explosive). Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), bom yang dikendalikan melalui remote itu diduga kuat dirancang hanya untuk menimbulkan efek suara tanpa tujuan melukai orang di sekitar.
"Jadi intinya, tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan memang, karena kan dia buatnya hanya kecil saja di situ. Tidak terlalu high eksplosif, ya low eksplosif dan tidak ada niat mencelakakan orang," kata Iyus.
Iyus menambahkan bahwa komposisi material bom tersebut tidak lengkap sehingga daya rusaknya sangat minim. "Unsur material ledakannya nggak lengkap, jadi tidak lengkap itu. Kalau ada bubuk mesiu, belerang dan segala macam, nah itu bisa berbahaya. Tapi ini kan tidak menyebabkan orang di sekitarnya terluka," lanjutnya.
Terkait suara ledakan yang terdengar sangat nyaring, Iyus menjelaskan hal itu dipicu oleh resonansi karena bom diletakkan di dalam kotak instalasi tiang penerangan jalan umum (PJU). "Karena ditaruh di kotak tiang lampu. Jadi karena ada lubang sedikit jadi kedengarannya besar, seperti letusan ban pecah. Betul kedengaran bisa radius 1 kilometer, karena dia ditaruh di kotak itu. Jadi suaranya kehimpun," jelas Iyus.
Pasca-kejadian, Tim Jibom melakukan sterilisasi menyeluruh di lokasi dan menggeledah rumah kontrakan tersangka di wilayah Cilembang, Kecamatan Cihideung. Dari penggeledahan tersebut, polisi menyita sedikitnya 13 item barang bukti, mulai dari bahan kimia, buku-buku bertema jihad, senapan angin, hingga perangkat elektronik seperti kabel dan baterai.
Seorang Wisatawan Hilang di Pantai Pangandaran.
Deburan ombak di kawasan Pantai Barat Pangandaran yang semula menenangkan, mendadak berubah menjadi mencekam pada Jumat (17/7/2026) sore pukul 18.00 WIB. Keceriaan tiga wisatawan yang tengah menikmati main air seketika sirna saat gulungan arus menyeret mereka ke tengah laut.
Insiden bermula saat Jatmiko, Ryan, dan Mohamad Rizki mencoba menaklukkan ombak dengan papan selancar. Namun, hempasan gelombang mengubah situasi.
Di tengah asyiknya mereka berenang, sebuah hantaman ombak besar datang tanpa peringatan, memutus kendali mereka atas papan selancar yang dibawanya.
Kasat Polairud Polres Pangandaran Iptu Anang Tri membenarkan adanya kejadian wisatawan yang berenang di Pantai Barat Pangandaran pada Jumat kemarin. Korbanya tiga wisatawan, dua selamat dan satu masih dalam pencarian.
Ketiga wisatawan itu merupakan warga asal Kabupaten Bandung. Mereka berlibur sejak hari Kamis kemarin. "Pada saat kejadian kondisi sudah mulai malam sehingga kesulitan melakukan pencarian dan dilanjutkan hari ini," ucap Anang.
Ia mengatakan kronologi kejadian bermula saat ketiga wisatawan Mohamad Rizki (20), Jatmiko (25), Ryan (18) berenang di sekitaran pantai barat pos 3 dan 4. Namun, mereka berenang terlalu sore.
"Sehingga saat kejadian sulit melakukan evakuasi. Dari tiga wisatawan dua selamat atas nama Rian dan Jatmiko, sementara Rizki dalam pencarian," ucapnya.
Salah satu saksi Jatmiko dalam keterangan tertulis menceritakan, kejadian bermula saat bermain selancar meskipun sudah mulai sore tetap melakukan aktivitas.
"Kejadiannya tadi lagi berenang bertiga. Kami pakai papan selancar, tapi ombak datang sangat deras. Dari situ saya tidak ingat apa-apa lagi sampai akhirnya ditolong oleh nelayan yang kebetulan sedang melintas dengan perahu," ujar Jatmiko saat memberikan keterangan kepada petugas.
Dalam situasi hidup dan mati itu, Ryan berhasil mengerahkan seluruh tenaganya untuk menepi ke daratan secara mandiri. Namun, nasib berbeda dialami Jatniko dan Mohamad Rizki. Keduanya sempat terombang-ambing dan kesulitan melawan tarikan arus yang begitu kuat ke tengah laut. Tubuh Mohamad Rizki perlahan menjauh hingga akhirnya hilang ditelan cakrawala.
Beruntung bagi Jatmiko, maut belum menjemputnya sore itu. Seorang nelayan lokal yang tengah melintas melihat lambaian tangan penuh keputusasaan dari tengah laut. Dengan sigap, perahu nelayan tersebut mendekat dan menariknya dari cengkeraman arus.
"Beruntung ada nelayan setempat yang sedang bersiaga di kawasan tersebut dengan sigap memberikan pertolongan kepada saya saat melambaikan tangan meminta bantuan," ucap.
Kini, suasana di bibir pantai masih diselimuti ketegangan. Meski Jatmiko dan Ryan telah dinyatakan selamat setelah mendapatkan penanganan medis, duka masih menggelayut karena satu rekan mereka belum ditemukan.
Hingga berita ini diturunkan, Mohamad Rizki masih dinyatakan hilang. Petugas gabungan terus menyisir setiap sudut perairan Pangandaran, berpacu dengan waktu dan cuaca demi menemukan keberadaan korban yang hilang ditelan ombak sore kemarin.
Siswi MTs di Garut Tewas Tenggelam
SJ, seorang pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Garut meninggal dunia usai tenggelam. SJ tenggelam, saat sedang berenang bersama 7 orang temannya, di sela-sela kegiatan penjelajahan bersama rekan-rekannya.
Kejadian tersebut berlangsung di sebuah bak penampungan air desa yang berlokasi di Kampung Cibolang, Desa Cidatar, Kecamatan Cisurupan, Garut, Kamis, (16/7).
Menurut Kasi Humas Polres Garut Ipda Susilo Adi, kejadian bermula saat korban bersama rekan-rekannya yang lain yang duduk di bangku kelas 8 dan 9 salah satu MTs di Kecamatan Cigedug, melakukan pendampingan pelaksanaan penjelajahan di sekolahnya.
"Kejadiannya terjadi setelah acara penjelajahan berlangsung. Saat itu, setelah selesai kegiatan tadabur alam, para pelajar berenang," ungkap Adi, Jumat (17/7/2026).
Adi menuturkan, korban diketahui duduk di bangku kelas 9 MTs tersebut. Korban bersama teman-temannya yang lain, datang ke lokasi, untuk melakukan pendampingan terhadap para pelajar baru yang melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Singkat cerita, setelah kegiatan penjelajahan berlangsung, para pelajar lelaki, bukan peserta MPLS, berenang di sebuah bak penampungan air dengan ketinggian air lebih dari 2 meter.
Namun, aksi para siswa itu kemudian diikuti oleh SJ dan 7 siswi lainnya. Mereka bermain air di tepian. Namun, entah apa alasannya, SJ dan beberapa orang temannya tenggelam saat mencoba berenang.
"7 pelajar lainnya dapat diselamatkan, sedangkan korban tenggelam dan dinyatakan meninggal dunia," katanya.
Personel Polsek Cisurupan yang dikabari kejadian ini kemudian langsung meluncur ke lokasi. Petugas kemudian mengevakuasi jasad korban ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan.
Di sisi lain, para personel lainnya dari Polsek Cisurupan dan Unit Inafis Sat Reskrim Polres Garut dipimpin Kapolsek AKP Julius Siswantoro kemudian langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi.
Adi menjelaskan, setelah sempat dilakukan pemeriksaan, jasad korban kemudian langsung diserahkan kepada pihak keluarga. "Jasad korban sudah dimakamkan," ucap Adi.
SD di Ciamis Hanya Terima 1 Murid
Hari pertama masuk sekolah biasanya identik dengan wajah-wajah baru, suasana ramai, dan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Namun, pemandangan berbeda terlihat di SD Negeri 2 Salakaria, Desa Salakaria, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Rabu (15/7/2026).
Saat sekolah lain sibuk menyambut peserta didik baru, suasana di sekolah yang berada di pelosok Ciamis itu justru tampak lengang. Tak ada upacara pembukaan MPLS maupun barisan murid baru yang memenuhi halaman sekolah. Di ruang-ruang kelas, hanya terlihat aktivitas belajar siswa kelas 2 hingga kelas 6 yang seluruhnya berjumlah 31 orang.
Rupanya, satu-satunya siswa baru yang diterima pada tahun ajaran 2026/2027 berhalangan hadir karena sakit. Akibatnya, kegiatan MPLS yang telah dipersiapkan khusus untuknya terpaksa ditunda.
Guru kelas 1, Maya Nurhidayah, mengaku sudah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk menyambut murid barunya. Mulai dari alat peraga hingga materi pengenalan sekolah telah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya.
"Sedih juga karena hari pertama seharusnya MPLS. Muridnya hanya satu orang, tetapi hari ini tidak bisa masuk karena sakit," ujar Maya.
Bagi Maya, tahun ajaran ini merupakan pengalaman pertamanya menjabat sebagai wali kelas 1. Sebelumnya, ia mengajar siswa kelas 2. Meski hanya memiliki satu murid, semangatnya tak berkurang sedikit pun.
"Awalnya yang mendaftar ada dua anak, tetapi satu lagi pindah ke Bogor. Saya tetap semangat menyambut murid baru meski hanya satu orang," katanya.
Ia berharap siswanya segera pulih agar kegiatan MPLS bisa segera dilaksanakan. Menurutnya, mengajar satu murid justru membuka ruang untuk memberikan perhatian lebih dalam proses belajar-mengajar.
"Kalau hanya satu murid, saya bisa lebih fokus mendampingi. Saya ingin memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, memberi motivasi, dan membuatnya betah di sekolah. Rasanya seperti mengajar les privat," tutur guru honorer tersebut.
Kepala SD Negeri 2 Salakaria, Deni Purnama, menyebut total siswa di sekolahnya saat ini hanya 32 orang. Rinciannya: kelas 1 satu siswa, kelas 2 tujuh siswa, kelas 3 sembilan siswa, kelas 4 lima siswa, kelas 5 lima siswa, dan kelas 6 enam siswa.
Menurut Deni, minimnya jumlah peserta didik dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar yang memang memiliki jumlah anak usia sekolah relatif sedikit.
"Wilayah kami dikenal sebagai kampung KB sehingga jumlah anak usia sekolah tidak banyak. Biasanya setiap tahun kami menerima sekitar lima siswa, tetapi tahun ini hanya satu. Mudah-mudahan tahun depan jumlahnya kembali meningkat," ujarnya.
Meski jumlah siswa sedikit, Deni memastikan kualitas layanan pendidikan tetap menjadi prioritas. Para guru tetap mengajar secara maksimal dengan dukungan fasilitas belajar yang memadai. Salah satunya penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran di kelas.
"Jumlah murid memang sedikit, tetapi kami terus berupaya memberikan pendidikan terbaik. Alhamdulillah sekolah ini juga pernah meraih prestasi tingkat Provinsi Jawa Barat di bidang keagamaan, serta juara tingkat kabupaten untuk cabang tari dan Pendidikan Agama Islam," katanya.
Deni mengakui bahwa mengelola sekolah dengan jumlah siswa minim bukanlah perkara mudah. Namun, kekompakan para guru menjadi kekuatan utama agar proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan baik.
"Semua guru saling mendukung. Kalau ada kekurangan, kami berusaha menutupinya bersama-sama demi memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, mengatakan hasil evaluasi di lapangan menunjukkan minimnya jumlah siswa bukan disebabkan oleh kualitas sekolah yang rendah. Menurutnya, faktor utama berasal dari kondisi demografi masyarakat di sekitar sekolah.
"Setelah kami evaluasi, ternyata bukan karena sekolah ini tidak berkualitas. Memang jumlah anak usia sekolah di lingkungan sini sudah sedikit. Banyak penduduk yang usianya sudah lanjut dan kawasan ini juga merupakan Kampung KB, sehingga jumlah kelahiran tidak banyak," kata Erwan.
Meski hanya menerima satu siswa baru, Erwan menilai semangat para guru di SDN 2 Salakaria tetaptinggi. Bahkan, sekolah tersebut pernah menorehkan prestasi hingga tingkat Provinsi Jawa Barat.
"Tadi kami melihat langsung, guru-gurunya tetap semangat. Sekolah ini juga punya prestasi, bahkan pernah menjadi juara tingkat provinsi. Artinya kualitas sekolah tetap terjaga meskipun jumlah siswanya sedikit," ujarnya.
Ia memastikan tidak ada perbedaan pelayanan antara sekolah yang memiliki banyak siswa dengan sekolah yang jumlah muridnya minim.
"Sedikit atau banyak siswanya, pelayanan pendidikan harus tetap sama. Justru dengan jumlah siswa yang sedikit, guru bisa memberikan perhatian yang lebih maksimal kepada peserta didik," ucapnya.
Erwan mengungkapkan, SDN 2 Salakaria bukan satu-satunya sekolah dengan jumlah murid yang sedikit. Kondisi serupa juga ditemukan di beberapa sekolah dasar lainnya di Kabupaten Ciamis.
"Ada beberapa sekolah lain yang siswanya juga sedikit, seperti di wilayah Lakbok, Rancah, Ciamis dan beberapa daerah lainnya. Karena itu kami datang untuk memberi semangat kepada guru dan siswa agar tetap optimistis menjalankan proses belajar mengajar," katanya.
Menurut Erwan, hal terpenting bagi pemerintah adalah memastikan seluruh anak usia sekolah tetap memperoleh layanan pendidikan, di mana pun mereka bersekolah.
"Orang tua memiliki hak memilih sekolah, baik SD negeri, SD swasta maupun Madrasah Ibtidaiyah. Tugas kami adalah memastikan layanan pendidikan tersedia dan terus ditingkatkan. Kalau masih ada kekurangan, itu menjadi bahan evaluasi kami," jelasnya.
Ia menegaskan, keberadaan sekolah dengan jumlah siswa yang sedikit tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.
"Walaupun muridnya hanya satu orang, layanan pendidikannya tetap harus maksimal. Anak-anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas," tegas Erwan.
Penjaga Perlintasan KA di Garut Dikeroyok
Aksi pengeroyokan terhadap petugas penjaga pintu perlintasan kereta api di Kabupaten Garut viral di media sosial. Insiden yang melibatkan tiga orang pria tersebut terkonfirmasi terjadi di pos jaga perlintasan sebidang JPL 227 Leuwigoong.
Dalam rekaman video yang beredar luas pada Senin (13/7/2026), terlihat para pelaku mengejar petugas hingga masuk ke dalam bangunan pos. Meski detail kejadian di dalam ruangan tidak terekam sepenuhnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan petugas tersebut menjadi korban kekerasan fisik.
"Penjaga perlintasan JPL 227 Leuwigoong mengalami luka lebam di wajah serta luka gores di tangan," ungkap Manajer Humas Daop 2 PT KAI, Kuswardojo.
Berdasarkan data yang dihimpun, peristiwa itu berlangsung pada Minggu (12/7) siang di KM 210+8, petak Jalan Karangsari-Cibatu. Pihak KAI mengecam keras tindakan anarkis tersebut dan meminta aparat penegak hukum segera meringkus ketiga pelaku yang melarikan diri.
Kuswardojo menegaskan bahwa tindakan para pelaku tidak hanya melukai petugas, tetapi juga membahayakan operasional perjalanan kereta api.
"Kami sangat menyayangkan sekaligus mengecam tindakan pengeroyokan terhadap petugas penjaga perlintasan yang sedang menjalankan tugas untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api," kata Kuswardojo.
Kuswardojo menjelaskan, berdasarkan keterangan korban, kejadian terjadi sekitar pukul 14.00 WIB bermula saat petugas yang menerima informasi akan melintasnya KA Serayu menutup pintu perlintasan tersebut.
Namun, saat pintu perlintasan telah tertutup, seorang pengendara sepeda motor menerobos masuk. Melihat tindakan yang membahayakan tersebut, petugas kemudian memberikan teguran kepada pengendara.
"Namun teguran itu justru direspons dengan tindakan arogan. Pengendara itu kembali ke pos bersama dua orang lainnya dan melakukan pengeroyokan terhadap petugas," ungkap Kuswardojo.
Akibat kejadian tersebut, petugas mengalami luka lebam di bagian wajah, serta luka goresan di tangan. Kuswardojo menuturkan, pihaknya sangat mengecam tindakan arogan tersebut.
Terkait kejadian ini, Kasat Reskrim Polres Garut AKP Herman Saputra menjelaskan, saat ini pihaknya tengah memburu tiga orang pria yang melakukan aksi bang jago terhadap petugas pintu perlintasan kereta api tersebut. "Kasusnya sedang dalam proses penyelidikan kami," katanya.
Kejadian ini mengundang amarah dari berbagai pihak, tidak terkecuali dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pria yang akrab disapa KDM itu mengutuk aksi bang jago yang dilakukan oleh ketiga pria tersebut.
"Tindakan yang dilakukan oleh Abang Jago di Kabupaten Garut pada petugas penjaga lintasan kereta api adalah tindakan yang sangat memalukan," katanya.
"Orang menjalankan tugas dengan baik, mencegah terjadinya kecelakaan yang diakibatkan kelalaian adalah tugas yang sangat mulia. Dan orang yang marah ketika ditegur adalah tindakan yang sangat bodoh," ucap Dedi menambahkan.
KDM berharap agar petugas berwenang segera meringkus para pelaku pengeroyokan terhadap petugas penjaga pintu perlintasan kereta api di Garut tersebut. Di sisi lain, KDM juga memastikan akan mengawal kasusnya.
"Segera masalah ini ditangani dengan cepat dan pelakunya mendapatkan hukuman. Saya ucapkan terima kasih untuk pak penjaga kereta api. Mohon untuk tetap tenang, saya akan membantu mendampingi sampai selesai kasus ini," pungkas KDM.
(sud/sud)
