Alat Berat TPA Rusak, Sampah Liar di Cirebon Menggunung

Alat Berat TPA Rusak, Sampah Liar di Cirebon Menggunung

Dev - detikJabar
Kamis, 16 Jul 2026 23:30 WIB
Tumpukan sampah di kawasan Pasar Batik Trusmi Kecamatan Weru.
Tumpukan sampah di kawasan Pasar Batik Trusmi Kecamatan Weru. (Foto: Devteo Mahardika)
Kabupaten Cirebon -

Keluhan masyarakat terkait maraknya tumpukan sampah liar di sejumlah titik di Kabupaten Cirebon, mulai dari kawasan Pasar Batik Trusmi di Kecamatan Weru dan di Kecamatan Arjawinangun, akhirnya mendapat respons dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon. Pemerintah mengakui penanganan sampah belum berjalan optimal akibat kerusakan alat berat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Santri.

Kondisi tersebut menyebabkan proses pembuangan dan penataan sampah di TPA mengalami hambatan, sehingga berdampak pada meningkatnya volume sampah di sejumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS) maupun titik-titik pembuangan liar yang dikeluhkan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Bidang Pertamanan dan Kebersihan DLH Kabupaten Cirebon, Yanto mengatakan, pemerintah daerah sebenarnya terus melakukan pengangkutan sampah secara rutin. Pengangkutan dilakukan berdasarkan laporan masyarakat maupun hasil pemantauan petugas di lapangan ketika volume sampah mulai menggunung.

"Selama ini kami tetap melakukan pengangkutan. Namun memang saat ini ada kendala di TPA Gunung Santri. Beberapa alat berat yang digunakan untuk penataan dan pengelolaan sampah mengalami kerusakan, sehingga operasional di TPA tidak berjalan maksimal. Dampaknya, terjadi penumpukan sampah di sejumlah TPS maupun lokasi pembuangan liar," katanya pada Kamis (16/7/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada satu wilayah, tetapi turut memengaruhi sistem pengangkutan sampah di berbagai kecamatan karena armada harus menunggu proses bongkar muat di TPA yang menjadi lebih lambat dari biasanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, DLH telah melakukan koordinasi lintas sektoral bersama pemerintah kecamatan dan pemerintah desa, terutama di wilayah yang mengalami penumpukan sampah cukup parah seperti Kecamatan Arjawinangun dan Weru.

Yanto mengatakan, pemerintah menargetkan aksi pengangkutan massal dapat mulai dilakukan pada pekan depan dengan memprioritaskan titik-titik yang paling banyak dikeluhkan masyarakat.

"Koordinasi sudah kami lakukan dengan camat dan para kuwu. Mudah-mudahan minggu depan kami sudah mulai bergerak melakukan pengangkutan secara bertahap," ujarnya.

Ia mengungkapkan volume sampah yang harus diangkut tidak sedikit. Di wilayah Arjawinangun saja diperkirakan membutuhkan sekitar 20 rit armada dump truck agar seluruh tumpukan sampah dapat dibersihkan dan dibawa ke TPA Gunung Santri.

Selain kerusakan alat berat di TPA, keterbatasan armada pengangkut juga menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat penanganan sampah di Kabupaten Cirebon.

Saat ini DLH hanya memiliki 64 unit kendaraan operasional yang harus melayani seluruh wilayah Kabupaten Cirebon. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 unit difokuskan melayani wilayah timur, sementara armada lainnya melayani wilayah barat serta berbagai titik pelayanan lainnya.

Dengan keterbatasan tersebut, pengangkutan sampah harus dilakukan secara bergiliran sesuai dengan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah.

"Kami harus membagi armada ke banyak lokasi. Jadi penanganannya dilakukan secara bertahap karena tidak mungkin seluruh titik bisa diselesaikan dalam waktu bersamaan," jelasnya.

Sebagai langkah awal, DLH menegaskan fokus utama saat ini adalah mengurangi tumpukan sampah liar yang sudah mengganggu aktivitas masyarakat dan berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan maupun pencemaran lingkungan.

Pemerintah berharap perbaikan alat berat di TPA Gunung Santri dapat segera diselesaikan sehingga proses pengelolaan sampah kembali normal dan pengangkutan di lapangan berjalan lebih efektif.

"Target jangka pendek kami adalah mengosongkan titik-titik penumpukan sampah terlebih dahulu. Mudah-mudahan dalam beberapa minggu ke depan pengangkutan di Arjawinangun, Weru, dan wilayah lainnya bisa dilakukan secara bertahap hingga kondisi kembali normal," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads