Hamparan lahan pertanian hijau membentang luas di Desa Kalisapu, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Di sana, beragam komoditas tumbuh subur bergantung pada musimnya.
Biasanya, sawah-sawah di desa itu didominasi tanaman padi. Namun saat kemarau menyapa, para petani beralih menanam semangka dan blewah yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi ketersediaan air yang terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun di balik rutinitas bertani itu, masyarakat Desa Kalisapu masih memegang teguh kepercayaan tentang pantangan yang diwariskan secara turun-temurun.
Warga meyakini padi ketan hitam tidak boleh ditanam di desa tersebut. Mereka percaya, menanam komoditas tersebut dapat mendatangkan berbagai persoalan bagi siapa saja yang melanggarnya.
Kepala Desa (Kuwu) Kalisapu, Suhana, mengungkapkan bahwa kepercayaan tentang larangan menanam ketan hitam merupakan warisan dari orang-orang terdahulu yang masih dijaga hingga kini.
"Kalau di Desa Kalisapu itu tidak boleh menanam ketan merah atau ketan hitam. Itu arahan dari orang zaman dulu. Apakah benar atau tidak, saya juga tidak tahu. Tapi biasanya kalau dilanggar, ada saja masalahnya," kata Suhana saat ditemui di Desa Kalisapu, Rabu (8/7/2026).
Menurut Suhana, hampir setiap desa biasanya memiliki pantangan yang berbeda-beda. Di Kalisapu, pantangan itu berkaitan erat dengan penanaman padi ketan hitam.
"Setiap wilayah, setiap desa biasanya punya pantangan masing-masing. Ya kalau di sini, kita mau tidak mau, yang penting ingin selamat, ya ikut saja," ujarnya.
Suhana menuturkan, pantangan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun sehingga tetap dipatuhi oleh generasi sekarang. "Memang sudah dari dulu. Ketan hitam itu tidak boleh," ucapnya.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, orang yang nekat menanam ketan hitam dipercaya akan menghadapi berbagai kemalangan. "Katanya usaha jadi seret. Terus rumah tangga juga ada saja masalahnya," tutur Suhana.
Meski begitu, Suhana mengaku tidak bisa memastikan kebenaran anggapan tersebut secara ilmiah. Menurutnya, kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun itu telah menjadi bagian dari kearifan lokal dan kehidupan masyarakat.
"Kita mengikuti arahan orang tua saja supaya selamat," pungkasnya.
Di tengah kepercayaan yang masih dijaga kuat itu, aktivitas pertanian di Desa Kalisapu tetap berjalan dinamis mengikuti perubahan musim.
Saat musim kemarau tiba, hamparan sawah yang biasanya hijau oleh padi akan berganti rupa. Para petani memilih beralih menanam semangka dan blewah untuk menyiasati keadaan.
Perubahan pola tanam ini bukan tanpa alasan. Keterbatasan pasokan air memaksa petani memilih tanaman yang lebih efisien dan sesuai dengan kondisi lahan yang kering, seperti semangka dan blewah.
"Yang di sini itu tanamannya semangka, blewah, sama palawija lain. Kalau semangka sama blewah perawatannya lebih ringan. Airnya enggak terlalu banyak. Kalau padi kan harus basah terus," tutur Suhana.
(orb/orb)
