Majalengka Tidak Punya Pantai, tapi Kenapa Anginnya Kencang?

Majalengka Tidak Punya Pantai, tapi Kenapa Anginnya Kencang?

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Kamis, 09 Jul 2026 07:00 WIB
Salah satu jalan di kawasan Kadipaten, Majalengka
Salah satu jalan di kawasan Kadipaten, Majalengka (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar)
Majalengka -

Pengendara yang baru pertama kali melintasi jalan-jalan di Kabupaten Majalengka biasanya dibuat sedikit terkejut. Di tengah cuaca yang cerah, tiba-tiba hembusan angin datang cukup kuat. Setang motor bergoyang, jaket berkibar, bahkan sesekali kendaraan terasa terdorong ke samping.

Pengalaman itu bukan hanya terjadi sekali. Bagi warga Majalengka, angin kencang seolah sudah menjadi bagian dari keseharian. Di ruas jalan menuju Kertajati, kawasan Jatitujuh, Ligung hingga hamparan persawahan di wilayah utara, hembusan angin hampir selalu menemani perjalanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang menarik, Majalengka bukanlah daerah pesisir. Kabupaten ini bahkan tidak memiliki pantai. Lalu, dari mana datangnya angin yang begitu kencang?

Menurut Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati Dyan Anggraeni, angin kencang di Majalengka merupakan fenomena yang lazim terjadi setiap musim kemarau.

ADVERTISEMENT

"Rata-rata kecepatan angin di Majalengka berada pada kisaran 6 sampai 10 knot atau sekitar 11 hingga 19 kilometer per jam. Dalam satu minggu terakhir, kecepatan angin maksimum yang tercatat dari tiga titik pengamatan kami mencapai 26 knot atau sekitar 48 kilometer per jam," kata Dyan kepada detikJabar, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan, pada puncak musim kemarau kecepatan angin di Majalengka dapat meningkat hingga mencapai 32 knot atau sekitar 60 kilometer per jam, bahkan lebih pada kondisi tertentu.

Menurut Dyan, penyebab utama angin di Majalengka terasa lebih kencang dipicu oleh faktor alam. Jika dilihat dari peta, bagian selatan Majalengka dipagari kawasan pegunungan dengan Gunung Ciremai yang menjulang.

Sementara di bagian utara terbentang dataran rendah yang didominasi sawah dan lahan terbuka yang membuat hembusan angin melaju tanpa banyak hambatan.

"Majalengka berada di sebelah utara Gunung Ciremai. Pada musim kemarau, angin akan bergerak menuruni lereng gunung menuju wilayah Majalengka dengan membawa sifat angin yang panas, kering, dan berkecepatan tinggi atau yang biasa kita sebut sebagai angin kumbang," jelasnya.

Meski begitu, Dyan mengingatkan masyarakat agar tetap waspada saat angin bertiup kencang. Risiko yang perlu diantisipasi antara lain pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, hingga atap bangunan yang rapuh.

"Hindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame, jauhi bangunan tua, dan batasi aktivitas di ruang terbuka. Selain itu, masyarakat juga harus berhati-hati saat melakukan pembakaran karena kondisi angin yang kencang dan cuaca yang kering membuat api lebih mudah menyebar," pungkasnya.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads