Bau menyengat langsung tercium begitu memasuki kawasan Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah di Jalan K.H. Abbas, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Tumpukan sampah yang menggunung hingga meluber ke bahu jalan menjadi pemandangan yang setiap hari harus dihadapi warga maupun para pengguna jalan.
Berbagai jenis sampah, mulai dari limbah rumah tangga hingga sampah plastik, tampak menumpuk tanpa penanganan. Gunungan sampah itu bahkan telah melebihi kapasitas penampungan yang tersedia. Akibatnya, aroma tak sedap menyelimuti kawasan sekitar dan memaksa setiap orang yang melintas menutup hidung.
Warga sekitar mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah agar persoalan sampah tidak semakin memburuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang warga, Wainah (53), mengatakan tumpukan sampah di TPS tersebut diperkirakan sudah hampir satu bulan tidak diangkut oleh dinas terkait. Selama itu pula volume sampah terus bertambah setiap harinya karena masih menjadi lokasi pembuangan bagi masyarakat dari sejumlah desa di sekitarnya.
"Ada mungkin udah sebulanan sampahnya nggak diangkut-angkut," ujar Wainah saat dijumpai detikJabar, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, kondisi akan semakin parah ketika hujan turun. Selain menimbulkan bau yang lebih menyengat, air lindi yang mengalir dari tumpukan sampah juga membuat badan jalan menjadi licin dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
"Apa maning baka uwis udan, mambue blenak ditambah banyue gawe lunyu dalan (Apalagi kalau sudah hujan, baunya semakin tidak enak, ditambah airnya membuat jalan menjadi licin)," katanya dalam bahasa Cirebon.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sebuah kontainer milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon memang tersedia di dalam area TPS. Namun kapasitas kontainer tersebut dinilai tidak lagi mampu menampung volume sampah yang terus berdatangan setiap hari.
Akibatnya, sampah meluber keluar kontainer hingga membentuk gunungan setinggi lebih dari satu meter dengan panjang diperkirakan mencapai enam hingga sepuluh meter. Sebagian tumpukan bahkan telah memakan bahu jalan sehingga mengganggu kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
Persoalan tersebut juga berdampak pada aktivitas pelayanan publik. Tepat di samping TPS berdiri bangunan pelayanan uji berkala kendaraan atau KIR milik Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon. Warga yang datang untuk mengurus administrasi kendaraan harus menghadapi aroma menyengat selama berada di lokasi.
Salah satunya dirasakan Toni (34), yang saat ditemui tengah mengurus perpanjangan uji KIR kendaraannya.
"Kebetulan saya lagi mau ngurus KIR kendaraan buat perpanjangan. Posisi TPS ini pas di samping, jadi baunya bikin pelayanan publik enggak nyaman," tuturnya.
Menurut Toni, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain mengganggu kenyamanan masyarakat yang mengakses pelayanan publik, keberadaan sampah yang terus menumpuk juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serta menciptakan kesan kumuh di kawasan tersebut.
"Pastinya warga yang dateng buat ngurusin KIR alami yang saya rasakan harus hirup aroma bau semacam ini," ungkapnya.
Warga berharap Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon segera melakukan pengangkutan sampah secara rutin serta menambah kapasitas penampungan di TPS tersebut. Dengan begitu, tumpukan sampah tidak lagi meluber ke jalan dan aktivitas masyarakat maupun pelayanan publik di sekitar lokasi dapat kembali berlangsung dengan nyaman.
Sekadar diketahui, dari hasil perhitungan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup, dalam sehari ada sebanyak 1.200 ton sampah. Namun, dinas terkait hanya mampu mengangkut setengah dari sampah yang dihasilkan sehingga 600 ton sampah tidak dapat terangkut di setiap harinya.
Simak Video "Video Pramono Pastikan DKI Siap Bantu Angkut Sampah Tangsel"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
