Mencicipi Gurihnya Bubur Suro Khas Keraton Kasepuhan Cirebon

Mencicipi Gurihnya Bubur Suro Khas Keraton Kasepuhan Cirebon

Ony Syahroni - detikJabar
Minggu, 28 Jun 2026 04:30 WIB
Bubur Suro yang menjadi sajian utama dalam tradisi Suroan di Keraton Kasepuhan
ubur Suro yang menjadi sajian utama dalam tradisi Suroan di Keraton Kasepuhan. (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)
Cirebon -

Hidangan bubur suro tersaji di dalam tepak yang diletakkan di tengah Langgar Alit Keraton Kasepuhan Cirebon. Bubur itu menjadi sajian utama dari tradisi Suroan yang rutin digelar di Keraton Kasepuhan.

Sekilas tampilannya tak berbeda dengan bubur pada umumnya. Namun, permukaannya dipenuhi aneka pelengkap yang membuatnya tampak begitu khas.

Ada potongan tempe goreng yang dipotong kecil-kecil, taburan kacang goreng, daun kemangi segar, irisan cabai merah besar, potongan telur dadar, hingga berbagai pelengkap lain yang berpadu di atas bubur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat disantap, rasa gurih bubur berpadu dengan renyahnya kacang dan tempe, sementara aroma kemangi memberi sentuhan segar di setiap suapan. Berbagai isian lain turut melengkapi, menghadirkan perpaduan rasa yang khas.

ADVERTISEMENT

Sajian bubur itu bukan sekadar hidangan biasa. Di Keraton Kasepuhan Cirebon, bubur suro menjadi bagian yang selalu hadir saat tradisi Suroan digelar.

"Pembuatan bubur suro ini memang sudah menjadi tradisi di Keraton Kasepuhan saat tradisi Suroan," Kata Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat, Sabtu (27/6/2026).

Seperti yang berlangsung pada hari ini. Selepas waktu asar, keluarga Keraton, abdi dalem, dan warga sekitar berkumpul di Langgar Alit untuk mengikuti tradisi Suroan.

Mengenakan pakaian khas keraton, mereka duduk bersila memenuhi bangunan kecil yang biasa digunakan sebagai tempat ibadah. Acara diisi dengan tausiyah dan doa bersama yang dipimpin oleh Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kiai Jumhur.

Setelah doa selesai, bubur suro yang telah ditempatkan di tepak makan kemudian dibagikan kepada seluruh orang yang hadir.

Pangeran Raja Goemelar, mengatakan tradisi tersebut menjadi puncak rangkaian dalam kegiatan menyambut bulan Muharam.

"Hari ini puncaknya Suroan dengan tradisi membuat bubur suro. Ini bagian dari rangkaian menyambut Tahun Baru Islam yang setiap tahun dilaksanakan di Keraton Kasepuhan," kata Goemelar.

Ia menambahkan, penyajian dan pembagian Bubur Suro dalam tradisi itu menjadi wujud rasa syukur sekaligus makna berbagi kepada sesama.

"Intinya bersyukur dan berbagi. Mudah-mudahan kita semua diberi keselamatan dunia dan akhirat," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads