Kepulan uap perlahan membubung dari sebuah kuali besar di sudut rumah warga Desa Plumbon, Kecamatan Indramayu, Kamis (25/6/2026). Aroma rempah yang menguar memenuhi udara, bercampur dengan harum jagung, labu, dan beras yang sedang dimasak bersama.
Di tengah kesibukan itu, terdengar sesekali tawa para perempuan lanjut usia yang duduk melingkar. Tangan mereka bergerak tanpa ragu, membungkus bubur hangat ke dalam wadah-wadah kecil yang telah disiapkan.
Bagi 'orang luar', pemandangan tersebut mungkin tampak seperti kegiatan memasak biasa. Namun bagi warga Desa Plumbon, hari itu adalah bagian dari ritual tahunan yang menyimpan jejak panjang sejarah dan ingatan kolektif masyarakat. Tradisi itu bernama bubur sura.
Di antara para perempuan yang sibuk bekerja, tampak sosok Sareh (70). Kerutan di wajahnya menjadi penanda perjalanan hidup yang panjang, tetapi semangatnya masih sama seperti puluhan tahun silam ketika pertama kali mengenal tradisi tersebut.
Setiap kali bulan Muharam tiba, ia selalu hadir.
"Saya dari kecil sudah ikut bikin. Dulu bantu nenek, terus bantu ibu, sekarang masih ikut juga," tuturnya sambil merapikan bungkusan bubur, Kamis (25/6/2026).
Bagi Sareh, bubur sura bukan sekadar makanan yang muncul setahun sekali. Ia adalah penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Ingatannya melayang ke masa kecil ketika hampir setiap rumah di kampungnya memiliki kuali sendiri untuk memasak bubur sura. Saat itu, suasana bulan Sura terasa begitu hidup. Asap mengepul dari dapur-dapur warga, sementara anak-anak berlarian membawa wadah untuk mengambil bubur dari rumah tetangga.
Kini, pemandangan itu perlahan memudar.
Tradisi yang dahulu tersebar di hampir seluruh rumah warga kini lebih sering dilakukan secara bersama-sama. Bukan karena kehilangan makna, melainkan sebagai cara agar kebiasaan lama itu tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
"Kalau dulu hampir semua keluarga bikin sendiri. Sekarang sudah jarang, jadi dibuat bersama supaya tetap ada," kata Sareh.
Di Desa Plumbon, bubur sura lahir dari prinsip sederhana, yakni memanfaatkan apa yang tersedia.
Tak ada ukuran pasti atau resep yang harus diikuti. Beras, jagung, waluh, labu, hingga aneka bahan pangan lain yang ada di rumah warga dikumpulkan, lalu dimasak dalam satu wadah besar hingga menjadi bubur.
Ketika matang, bubur disajikan bersama pelengkap seperti ayam suwir, telur dadar, dan kuah rempah yang kaya rasa.
Kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan tradisi ini.
(sud/sud)