Di tengah padatnya lalu lintas Kabupaten Cirebon, Oki (28) memarkirkan sepeda motornya di sebuah bengkel usai menyelesaikan sejumlah pesanan. Bagi seorang pengemudi ojek online (ojol), kendaraan roda dua bukan sekadar alat transportasi, melainkan penopang utama penghasilan yang harus selalu berada dalam kondisi prima.
Namun belakangan, menjaga performa kendaraan menjadi semakin mahal. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi turut diikuti oleh melonjaknya harga oli kendaraan. Kondisi tersebut menjadi beban tambahan bagi para pengemudi yang menggantungkan hidupnya pada motor yang digunakan setiap hari.
Kenaikan harga itu langsung dirasakan Oki. Ia mengaku terkejut ketika mengetahui biaya yang harus dikeluarkan untuk mengganti oli kini jauh lebih besar dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bulan kemarin ganti oli motor cuma Rp60 ribu sudah sama jasa, tapi sekarang olinya saja sudah sampai Rp70 ribu," ujar Oki saat ditemui detikJabar, Senin (15/6/2026).
Sebagai pengemudi ojol yang hampir setiap hari berada di jalan, Oki rutin mengganti oli motornya hingga dua kali dalam sebulan. Intensitas penggunaan kendaraan yang tinggi membuat perawatan berkala menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.
Karena itu, kenaikan harga oli secara langsung menambah beban pengeluarannya. Di saat pendapatan tidak selalu stabil dan persaingan antarpengemudi semakin ketat, tambahan biaya sekecil apa pun terasa cukup signifikan.
"Jujur pas tahu harga oli naik saya kaget. Naiknya enggak kira-kira sih," katanya.
Menurut Oki, kondisi saat ini memaksa para pengemudi untuk semakin cermat mencari waktu dan lokasi yang berpotensi mendatangkan lebih banyak pesanan. Ia berharap harga kebutuhan perawatan kendaraan dapat kembali stabil sehingga beban para pekerja sektor informal tidak semakin berat.
"Pengennya sih normal lagi ya. Soalnya tahu sendiri, persaingan di ojol sekarang sudah enggak kira-kira. Kita harus pintar-pintar cari celah dan waktu yang tepat buat dapat order," ungkapnya.
Bagi sebagian orang, kenaikan harga oli mungkin terlihat sebagai persoalan kecil jika dibandingkan dengan lonjakan harga BBM. Namun bagi para pengemudi ojol yang bergantung penuh pada kendaraan roda dua, biaya perawatan merupakan pengeluaran rutin yang tidak bisa dihindari.
Setiap kenaikan harga suku cadang maupun pelumas secara langsung mengurangi pendapatan harian mereka. Di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat dan persaingan yang semakin ketat, para pekerja jalanan kini menghadapi tantangan baru: menjaga kendaraan tetap layak beroperasi dengan biaya yang terus membengkak.
"Buat saya motor yang sehat berarti dapur tetap mengepul. Kenaikan harga oli bukan cuma soal angka tapi persoalan buat keberlangsungan penghasilan saya setiap hari," bebernya.
Bengkel Ikut Merasakan Dampaknya
Dampak kenaikan harga oli tidak hanya dirasakan para pengendara, tetapi juga pelaku usaha bengkel. Maman Rohman, pemilik bengkel motor di Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, mengatakan lonjakan harga oli sebenarnya sudah terjadi beberapa pekan sebelum harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan.
"Sebenarnya harga oli sudah naik dari beberapa minggu lalu," kata Maman.
Menurutnya, kenaikan harga oli bervariasi, mulai dari 20 hingga 30 persen, tergantung merek dan jenis produk yang digunakan. Kenaikan tersebut secara perlahan mengubah pola konsumsi pelanggan.
Jika sebelumnya banyak pelanggan datang ke bengkel untuk membeli sekaligus mengganti oli, kini sebagian memilih hanya membeli produk olinya saja. Penggantian dilakukan sendiri di rumah demi menghemat biaya jasa.
"Karena harga oli naik, kebanyakan pelanggan sekarang cuma beli olinya saja lalu ganti sendiri di rumah," ujarnya.
Perubahan kebiasaan pelanggan itu membuat para pemilik bengkel berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, biaya modal usaha terus meningkat. Namun di sisi lain, menaikkan tarif jasa terlalu tinggi berpotensi membuat pelanggan enggan datang ke bengkel.
"Kalau ditarif mahal pasti sepi. Jadi ya jujur saya ambil untung tipis, yang penting bengkel tetap ramai," tuturnya.
Bagi pelaku usaha bengkel maupun para pengemudi ojol, kenaikan harga oli menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Satu pihak berupaya menjaga usahanya tetap berjalan, sementara pihak lain berjuang mempertahankan penghasilan di tengah biaya operasional yang terus meningkat. Di tengah situasi tersebut, keduanya sama-sama berharap harga kebutuhan perawatan kendaraan dapat kembali stabil agar roda ekonomi tetap berputar.
