Cerita Pemberdayaan Ekonomi Warga Sayana Kuningan Lewat Balai Ternak

Cerita Pemberdayaan Ekonomi Warga Sayana Kuningan Lewat Balai Ternak

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Rabu, 27 Mei 2026 20:30 WIB
Sodri dan Rusdianto saat sedang mempersiapkan ternak untuk kurban dan Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid
Sodri dan Rusdianto saat sedang mempersiapkan ternak untuk kurban dan Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid. (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Sodri (47), seorang peternak di Balai Ternak Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Mukti Raharja, Desa Sayana, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, tampak sibuk mempersiapkan hewan ternak yang akan dikurbankan. Kambing-kambing tersebut merupakan hasil rawatannya selama satu tahun terakhir.

Sodri menjelaskan sebelum bergabung dengan Balai Ternak Baznas, ia adalah perantau yang berdagang di Bekasi selama puluhan tahun. Namun, akibat biaya sewa tempat usaha yang kian melambung, Sodri memutuskan kembali ke kampung halaman dan beralih profesi menjadi peternak di Balai Ternak Baznas Desa Sayana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebelumnya kerja merantau di Bekasi. Sudah 25 tahun merantau. Terus tahun kemarin pulang ke kampung, karena biaya kontrak warungnya mahal naik. Terus pas di rumah, diajak buat ngurusin ternak di sini," tutur Sodri, Rabu (27/5/2026).

Sodri memaparkan bahwa di lokasi tersebut, ia tidak hanya mendapatkan bimbingan mengenai teknik perawatan ternak, tetapi juga mengenai pengolahan limbah. Terdapat dua jenis limbah yang dikelola di Balai Ternak Baznas, yakni kotoran hewan (kohe) dan urine ternak.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kedua limbah tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanaman. Sodri menyebutkan bahwa pupuk tersebut nantinya dapat dipasarkan kepada warga sekitar bersamaan dengan penjualan kambing.

"Kita garap kohe untuk dijadikan pupuk. Di sini bisa hasilkan ratusan karung kohe sebulan. Kalau untuk air kencingnya ternyata bisa diolah jadi penyiraman tanaman. Tapi nggak bisa langsung, harus difermentasi dulu beberapa hari. Baru bisa buat nyiram tanaman. Itu bisa buat basmi hama tanaman. Untuk satu karungnya itu harganya Rp 10.000. Untuk kambingnya harga Rp 2.5 juta per ekor," tutur Sodri.

Senada dengan Sodri, warga lain yang turut diberdayakan adalah Rusdianto (45). Sebelum menjadi peternak, Rusdianto merupakan petani ubi dengan sistem sewa lahan. Namun, lantaran pendapatannya yang tidak menentu, ia memilih untuk bergabung dengan Balai Ternak Baznas.

Ia menjelaskan bahwa dibandingkan dengan bertani, profesi peternak saat ini lebih menjanjikan dengan potensi pendapatan mencapai jutaan rupiah. Penghasilan tersebut diperoleh dari sistem bagi hasil penjualan ternak serta pengelolaan limbah kotoran hewan di balai tersebut.

"Di sini sistemnya bagi hasil. Jadi kalau ada yang beli nanti kita bagi hasil. Mending di sini, kalau dulu kan tanam Ubi di lahan sewa. Tapi hasilnya lama cuman Rp 3 juta sekali panen. Itu juga harus nunggu 4 bulan dulu. Tapi kalau di sini, segitu sebulan juga mungkin bisa dapat," tutur Rusdianto.

Ketua Kelompok Balai Ternak Sayana, Albret Alexander Lumantaw, memaparkan bahwa saat ini terdapat sekitar 244 ekor ternak di Balai Ternak Sayana. Seluruh ternak tersebut dikelola oleh 30 peternak yang merupakan warga setempat dengan sistem bagi hasil.

"Ada 244 ekor. Yang 120 untuk pembiakan, 120 untuk penggemukan. Nah, salah satunya yang emang kita potong sekarang itu untuk domba penggemukan. Nanti kita ada sharing pendapatan sesuai kontribusi mereka. Kebetulan kan ini ternaknya khusus dijual baru untuk kurban saja. Mungkin kalau sudah berjalan sekitar 3 jutaan per peternak itu bisa," tutur Albert.

Sementara itu, Ketua Baznas Republik Indonesia, Sodik Mudjahid menjelaskan bahwa di seluruh Indonesia terdapat ratusan Balai Ternak yang dikelola oleh ribuan peternak yang berasal dari warga sekitar. Keberadaan balai ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sekaligus mempermudah proses distribusi hewan kurban.

"Total se-Indonesia 2.089 peternak yang tersebar di 103 Balai ternak yang tersebar di 16 Provinsi. Ke depan Baznas itu akan makin mengalokasikan dana lebih besar untuk kegiatan-kegiatan produktif para peternak. Intinya adalah kita akan mengalokasikan dana yang lebih besar untuk kegiatan pemberdayaan dan pendayagunaan, bukan hanya berbagi-berbagi saja," pungkas Sodik.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads