Arang Buatan Ponpes di Purwakarta Banjir Pesanan Jelang Idul Adha

Arang Buatan Ponpes di Purwakarta Banjir Pesanan Jelang Idul Adha

Dian Firmansyah - detikJabar
Selasa, 26 Mei 2026 12:00 WIB
Produksi arang di Pondok Pesantren Al Islam Darul Iman, Purwakarta
Produksi arang di Pondok Pesantren Al Islam Darul Iman, Purwakarta (Foto: Dian Firmansyah/detikJabar)
Purwakarta -

Membakar sate di hari raya kurban menjadi tradisi yang kerap dilakukan umat muslim, hal ini membuat kebutuhan arang, salah satu bahan pembakaran untuk sate meningkat.

Para produsen arang pun kebanjiran orderan, salah satunya Pondok Pesantren Al Islam Darul Iman, yang berlokasi di Desa Sela Awi, Kecamatan Pasawahan, Purwakarta.

Sudah lebih dari satu bulan, produksi arangnya meningkat signifikan, jika biasanya produksi di bawah 10 ton, namun jelang lebaran Idul Adha ini produksi arang sudah mencapai puluhan ton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alhamdulillah di moment idul adha permintaan arang meningkat, jadi produksi kita melonjak yang biasanya hanya berapa ton sebulan, tapi ini sudah satu bulan lebih kita bisa produksi puluhan ton," ujar Muhammad Abdul Haris Ridwanullah, Pimpinan ponpes, saat ditemui di sekitar lokasi produksi, Selasa (26/05/2026).

Haris menjelaskan, permintaan arang ini buka hanya di wilayah Purwakarta namun mayoritas permintaan datang dari wilayah Bandung, dengan harga jual Rp.15-23 Ribu perkilogramnya, ia menggunakan batang pohon jambu dan rambutan karena kayunya kuat dan bagus untuk dijadikan arang.

ADVERTISEMENT

"Banyak di wilayah sekitaran Purwakarta juga, cuma paling banyak orderan itu dari Bandung," katanya.

Produksi arang di Pondok Pesantren Al Islam Darul Iman, PurwakartaProduksi arang di Pondok Pesantren Al Islam Darul Iman, Purwakarta Foto: Dian Firmansyah/detikJabar

Tim detikJabar melihat proses pembuatan arang, kayu dipilah dan disusun rapi di dalam tungku pembakaran, setelah rapi di susun kemudian tungku di tutup hanya menyisakan celah untuk membuat api di dalam tungku.

Terdapat empat tungku di tempat produksi ini, tiga tungku membutuhkan waktu lima hari dalam pembakaran hingga arang bisa diambil dan satu tungku membutuhkan 8 hari karena kapasitasnya lebih besar. Setelah selesai pembakaran kemudian arang dikemas dalam karung kemudian diantarkan ke pemesan.

Masih kata Haris, pesantren yang ia pimpin secara turun temurun dari orang tuanya, sudah berdiri sejak 1980, dan pesantren ini memiliki tiga kategori penerimaan santri. Kategori pertama santri reguler pada umumnya, kedua santri korban kenakalan remaja seperti gang motor, terlibat tindak pidana, narkoba dan kemudian kategori ketiga menerima orang-orang berkebutuhan khusus seperti depresi berat hingga ODGJ.

Uniknya, lokasi produksi yang berada di lingkungan pesantren, yang mengajarkan dan melibatkan anak-anak santri untuk belajar berwirausaha produksi arang.

"Setelah sembuh, mereka diajarkan keahlian produksi arang agar memiliki bekal saat keluar dari pesantren, bahkan ada juga santri yang tetap ikut melakoni usaha produksi arang ini, untuk usaha arang ini sudah berjalan sejak tahun 2014," ungkapnya.

Tidak hanya arang kayu, arang batok kelapa pun diproduksi, hasil penjualan digunakan untuk biaya operasional pondok pesantren ini.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads