Di sebuah rumah sederhana di Jalan Bima, Perumahan Marga Mekar, Kelurahan Lemah Mekar, Kabupaten Indramayu, hidup seorang perempuan bernama Novianti, yang akrab dipanggil Opi. Selama enam tahun terakhir, ia memilih mengurung diri di dalam kamar sempit rumah ibunya.
Bukan tanpa alasan. Kegagalan rumah tangga yang berujung perceraian membuat kondisi mental Opi perlahan runtuh. Perempuan kelahiran 1989 itu mengalami depresi berat hingga kehilangan semangat menjalani hidup.
Hari-harinya kini hanya dihabiskan di dalam kamar. Tidur, makan, bermain game sesekali, lalu kembali terdiam dalam dunianya sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah yang ditempatinya bersama sang ibu tampak jauh dari kata layak. Bangunan sederhana itu nyaris tidak mengalami perubahan sejak pertama dibangun. Ruang tamunya sempit, sementara kamar tempat Opi mengurung diri menjadi saksi bagaimana seseorang bisa kehilangan harapan akibat luka batin yang tak kunjung sembuh.
Menurut sang ibu, Tari, perubahan perilaku Opi mulai terlihat sejak konflik rumah tangganya membesar. Puncaknya terjadi ketika sang suami menceraikannya.
"Sedih, Mas. Sangat sedih," ujar Tari lirih saat menceritakan kondisi anaknya, Selasa (19/5/2026).
Sebagai seorang ibu, Tari hanya ingin putrinya kembali seperti dulu. Bisa bekerja, kembali bersosialisasi, dan menjalani hidup dengan normal.
Namun harapan itu terasa berat bagi perempuan paruh baya tersebut. Selain harus merawat anaknya yang depresi, ia juga harus bertahan hidup seorang diri sebagai tukang pijat keliling setelah suaminya meninggal dunia.
"Sekarang saya sudah tua, badan pegal. Pengin dibantu sama anak," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Meski kondisi Opi memburuk, komunikasi di antara keduanya terkadang masih terjalin. Ada saat-saat ketika Opi mampu merespons percakapan dengan baik, meski di waktu lain ucapannya sulit dipahami.
Berbagai cara pengobatan telah ditempuh keluarga. Mulai dari pengobatan medis, mendatangi "orang pintar" hingga paranormal. Namun belum ada perubahan berarti.
Harapan Tari kini sederhana: melihat putrinya sembuh. "Pengen waras, pengene, mah, bisa menata hidup lagi kayak dulu," ucapnya.
Kondisi Opi akhirnya menarik perhatian relawan sosial setempat. Dibantu beberapa kerabat dan relawan bernama Sakam serta Didi, keluarga sepakat membawa Opi ke rumah sakit demi mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Momen itu berlangsung penuh haru dan ketegangan. Setelah bertahun-tahun menutup diri dari dunia luar, Opi akhirnya dibujuk untuk keluar dari kamar yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya.
"Bismillah..." ucap Didi, salah seorang relawan sebelum proses evakuasi dilakukan.
Kisah Opi menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah persoalan serius yang bisa menimpa siapa saja.
Luka batin akibat kegagalan rumah tangga, tekanan hidup, serta minimnya dukungan psikologis dapat menghancurkan seseorang perlahan-lahan tanpa disadari.
Perempuan memprioritaskan perasaan, ia selalu ingin dimengerti. Di balik pintu kamar sempit itu, ada seorang perempuan yang sebenarnya hanya ingin dipahami dan dipulihkan kembali dari perasaan galau yang berkepanjangan.
(yum/yum)
