Cerita Darmin Lestarikan Tahu Gejrot Lintas Generasi

Cerita Darmin Lestarikan Tahu Gejrot Lintas Generasi

Burhannudin - detikJabar
Senin, 18 Mei 2026 09:00 WIB
Tahu gejrot yang disajikan Darmin di Jalan Pasar Baru Indramayu.
Tahu gejrot yang disajikan Darmin di Jalan Pasar Baru Indramayu. (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Usianya tak lagi muda, tapi semangatnya tetap sama sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di "Bumi Wiralodra." Darmin (65), pria asal Ciledug, Kabupaten Cirebon, berjualan tahu gejrot sejak 1995.

Saat ditemui di Jalan Pasar Baru Indramayu, Sabtu (9/5/2026), tangannya masih cekatan mengulek cabai dan bawang putih untuk dipadukan dengan kuah asam-manis dan tahu kepada seorang pembeli.

Di bawah pohon rindang pinggiran jalan tersebut, ia setia menunggu dan melayani pembeli dari pukul 11.00 WIB, sampai senja datang dan lantunan azan magrib menggema -sebagai pertanda ia harus segera pulang ke rumah kontrakannya, di Kelurahan Karangmalang, Indramayu. Di tempat itu ia hanya sendirian karena istrinya di kampung halaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dulu, saat awal-awal kedatangannya di Indramayu, ia berjualan hingga malam hari dan berkeliling di Kelurahan Karangmalang hingga ke Kelurahan Paoman, menyusuri jalanan di jantung kota.

"Sekarang di sini saja (di dekat Pasar Baru Indramayu), karena selain fisiknya nggak kayak dulu, ada anak dan cucu yang jualan juga," katanya.

ADVERTISEMENT

Mendengar cerita Darmin, pepatah "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" memang terbukti. Anak dan cucu Darmin mengikuti jejaknya berjualan salah satu makanan khas Cirebon ini.

Anaknya rutin berjualan di depan kantor PLN ULP Indramayu, Jalan Letjen S Parman, sedangkan sang cucu berkeliling seperti dirinya pada masa lalu. Darmin bersama anak dan cucunya, tiga generasi ini membawa misi penting di Indramayu; mempertahankan eksistensi makanan legendaris tahu gejrot.

Terlepas dari kenyataan mendapat penghasilan yang tidak menentu, ia bangga lantaran anak dan cucunya sudah mandiri secara finansial terlebih lagi karena mengikuti jejak dirinya.

Darmin memiliki tiga anak, yang pertama laki-laki memiliki istri orang Indramayu dan menetap di Indramayu. Dari pasangan tersebut, lahir seorang anak laki-laki. Nah, anak laki-laki ini mengikuti jejak ayah dan kakeknya berjualan tahu gejrot sebagaimana disebutkan di atas.

"Kemudian anak kedua dan ketiga itu perempuan semua, berkeluarga semua, di Cirebon semua, dan sudah pada mandiri semua, saya merasa bangga sudah sampai di fase ini karena menghidupi mereka hanya dari tahu gejrot," ungkap Darmin dengan suara pelan.

Tahu gejrot yang disajikan Darmin di Jalan Pasar Baru Indramayu.Tahu gejrot yang disajikan Darmin di Jalan Pasar Baru Indramayu. Foto: Burhannudin

Saat ini, Darmin mengaku bisa mendapatkan Rp350 ribu jika dagangannya ludes terjual. "Sehari paling banyak 35 porsi harganya Rp10 ribu, berarti dapat Rp350 ribu, itu pun kalau ramai, kalau habis," ucapnya.

Konsistensi Darmin seringkali diuji dengan kondisi kesehatannya. Ia mengaku telah menderita paru-paru basah sejak lama. Sudah beragam upaya ia lakukan bersama anak-anaknya.

"Sering dirawat di rumah sakit MM, Mitra Plumbon Cirebon juga pernah, terus sekarang saya lagi kontrol tiap bulan sudah 9 bulan di Mitra Plumbon Cirebon," ujar Darmin.

Di usia senja, semangatnya berjualan bukan lagi tentang pundi-pundi rupiah karena ia merasa biaya hidupnya tidak lagi besar, melainkan karena semangat untuk tetap sehat.

"Kalau nggak jualan, saya bisa tambah sakit. Alhamdulilah tadi kata sampean saya masih segar, begitupun teman saya di kampung bilang katanya saya kelihatannya masih sehat-sehat saja. Kuncinya adalah mensyukuri penghasilan dagang, dan terus beraktivitas setiap hari," pungkasnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads