Dinkes Kab Cirebon Ungkap Cara Cegah Penularan Hantavirus

Dinkes Kab Cirebon Ungkap Cara Cegah Penularan Hantavirus

Devteo Mahardika - detikJabar
Senin, 18 Mei 2026 20:00 WIB
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus setelah adanya surat kewaspadaan dini dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Langkah antisipasi dilakukan menyusul ditemukannya kasus penyakit tersebut di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Yogyakarta dan Semarang.

Meski begitu, hingga saat ini Kabupaten Cirebon dipastikan masih bebas dari kasus Hantavirus. Dinas Kesehatan pun meminta masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Mona Isabella Saragih mengatakan, Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di dunia kesehatan. Virus ini telah banyak ditemukan di kawasan Asia dan Amerika, namun kasusnya di Indonesia masih tergolong jarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hantavirus memang sudah masuk Indonesia meskipun kasusnya masih sedikit. Untuk di Kabupaten Cirebon sendiri sampai sekarang belum pernah ditemukan kasusnya," ujar Mona, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, Hantavirus ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus yang membawa virus tersebut. Penularannya berbeda dengan leptospirosis yang selama ini lebih dikenal masyarakat.

ADVERTISEMENT

Jika leptospirosis menular melalui bakteri yang masuk lewat luka atau selaput lendir tubuh, Hantavirus justru dapat menyebar melalui udara. Virus bisa masuk ke tubuh manusia saat seseorang menghirup debu atau partikel yang telah terkontaminasi urine maupun kotoran tikus.

"Jadi tidak harus ada luka di tubuh. Debu yang terkontaminasi kotoran atau urine tikus juga bisa menjadi media penularan," jelasnya.

Gejala awal Hantavirus umumnya ditandai dengan demam tinggi selama tiga hingga enam hari dengan suhu tubuh mencapai 39 derajat celsius. Selain itu, penderita juga dapat mengalami mata merah, nyeri pada bola mata, nafsu makan menurun, tekanan darah rendah hingga gangguan saluran kemih.

Menurut Mona, berdasarkan panduan dari Kementerian Kesehatan, tingkat fatalitas Hantavirus cukup beragam tergantung jenis virus yang menyerang.

"Fatalitasnya bisa mencapai 1 sampai 50 persen tergantung tipe virusnya. Karena itu masyarakat perlu waspada," katanya.

Langkah Pencegahan

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar agar terbebas dari tikus. Warga juga diminta berhati-hati terhadap makanan maupun minuman kemasan yang disimpan di tempat terbuka.

"Kalau minuman botol atau kaleng sebaiknya dicuci dulu bagian atasnya sebelum diminum. Kita tidak tahu apakah terkena kencing atau kotoran tikus," ungkapnya.

Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi disertai gejala lain yang mengarah pada infeksi Hantavirus.

Dinkes Kabupaten Cirebon memastikan akan terus memantau perkembangan kasus serta meningkatkan koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus di wilayah Kabupaten Cirebon.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads