Seorang perempuan asal Kabupaten Indramayu bernama Husnia (21) viral di media sosial setelah mengunggah video berisi permohonan tolong kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Husnia mengaku menjadi korban praktik "pengantin pesanan" dan kini terjebak dalam kondisi tersiksa di China.
Dalam video singkatnya, Husnia tampak terisak saat menceritakan kekerasan fisik dan seksual yang dialaminya. Ia mengaku tidak diperbolehkan keluar rumah, sementara dokumen penting miliknya, termasuk paspor, ditahan oleh pihak keluarga suami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sering kali mendapatkan kekerasan seksual jika tidak menuruti kemauan dia (suami). Berkas-berkas saya semua ditahan dan saya tidak boleh ke mana-mana. Pak, tolong saya, saya ingin pulang," ujar Husnia dalam video tersebut, dikutip detikJabar pada Selasa (12/5/2026).
Awal Mula Tergiur Iming-Iming Agen
Ibu kandung Husnia, Darkem (53), mengungkapkan bahwa petaka ini bermula saat putrinya ditawari pekerjaan di sebuah restoran oleh seorang rekan. Pekerjaan tersebut berlokasi di China dan diproses melalui seorang agen di Karawang.
Namun, saat sudah sampai di tempat agen, tawaran tersebut berubah menjadi ajakan untuk mengikuti program "kawin pesanan" dengan janji hidup mewah, mahar besar, dan jaminan kesejahteraan keluarga di kampung halaman.
"Husnia diminta Rp7 juta kalau nggak mau ngambil tawaran itu. Dia nggak bisa bayar. Akhirnya menjelang keberangkatan, saya dikasih Rp1 juta dari Husnia, katanya itu dari agen," ungkap Darkem.
Darkem menjelaskan bahwa seluruh dokumen keberangkatan Husnia diduga dipalsukan oleh agen karena putrinya tidak memahami prosedur administrasi.
"Dia orang desa, tidak mengerti. Akhirnya agen yang membuat semua data palsu. Katanya suaminya kaya dan orang tua akan dibahagiakan, tapi ternyata semuanya bohong. Mahar yang diberikan hanya Rp22 juta," ungkap Darkem saat ditemui di kediamannya, di Desa Jambak, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Selasa (12/5/2026).
Kondisi Memprihatinkan di China
Setelah tiba di China, kenyataan pahit harus diterima Husnia. Alih-alih hidup enak, ia justru diperlakukan layaknya barang yang telah dibeli. Sang suami kerap mengungkit biaya mahal yang telah dikeluarkan untuk "membeli" Husnia setiap kali korban menolak melayani atau meminta uang kiriman bagi orang tuanya.
Darkem menambahkan, Husnia sempat mengalami kekerasan fisik berupa tendangan dan tamparan. Saat ini, Husnia dikabarkan berada di sebuah panti jompo untuk mengurus lansia sebagai bentuk paksaan kerja. Kondisi fisiknya pun melemah karena kabarnya hanya bisa makan roti sekali sehari.
"Paspornya disembunyikan mertua atas arahan agen dari pihak suaminya Husnia agar Husnia tidak kabur. Dia hanya bisa makan jika ada penjaga panti yang kasihan memberinya roti," kata Darkem dengan nada sedih.
Menanti Bantuan Pemerintah
Pihak keluarga mengaku telah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di China. Berdasarkan informasi terakhir, surat perceraian Husnia dijadwalkan turun pada 17 Mei mendatang. Setelah itu, Husnia diminta segera meninggalkan China sebelum izin tinggalnya habis.
Kini, keluarga Husnia di Indramayu berharap penuh kepada pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk membantu proses kepulangan dan biaya tiket agar Husnia bisa kembali ke tanah air dengan selamat.
"Harapan saya cuma satu, saya ingin anak saya bisa pulang," pungkas Darkem dengan suara pelan dan penuh isak tangis.
(iqk/iqk)
