Jejak Lari Abah Duni, dari Panggung Juara ke Senja Sunyi

Kabupaten Indramayu

Jejak Lari Abah Duni, dari Panggung Juara ke Senja Sunyi

Burhannudin - detikJabar
Minggu, 10 Mei 2026 09:30 WIB
Abah Duni, mantan atlet tingkat provinsi yang berasal dari Kabupaten Indramayu.
Abah Duni, mantan atlet tingkat provinsi yang berasal dari Kabupaten Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Suara riuh pertandingan itu kini tinggal gema dalam ingatan. Di sebuah sudut sederhana tak jauh dari GOR Singalodra, Desa/Kecamatan Sindang, Indramayu, seorang lelaki tua menghabiskan hari-harinya dengan ritme yang jauh berbeda dari masa mudanya. Dia adalah Duni (80), mantan pelari yang pernah mencicipi manisnya podium juara pada era 1970-an.

Dulu, lintasan lari adalah dunianya. Kakinya berlari cepat, napasnya teratur, dan sorak penonton menjadi energi yang menguatkan. Pria yang akrab disapa "Abah Duni" ini bukan sekadar pelari biasa. Ia pernah menorehkan prestasi di tingkat Jawa Barat, bahkan menjadi juara dalam berbagai kejuaraan.

Dalam satu kisah yang masih ia ingat, ia menaklukkan lomba 10 kilometer dengan catatan waktu 32 menit di Porda Jabar yang diselenggarakan di Bogor pada 1974, sebuah capaian yang membanggakan pada masanya. Waktu itu ia mendapatkan juara 4 atau juara harapan 1. Kemudian, ia juga pernah tergabung dalam kontingen Jawa Barat dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 1977 di Jakarta. Sayang, saat itu ia belum beruntung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua pencapaian terbesar di atas yang akan selalu ia ingat bersamaan dengan prestasi-prestasi lainnya di tingkat kabupaten dan antar sekolah.

ADVERTISEMENT

Namun waktu, seperti lintasan yang terus berputar, membawa Abah Duni ke garis kehidupan yang berbeda.

Kini, di usia senjanya, tak ada lagi medali yang berkilau di dada, tak ada pula sorak penonton yang menyebut namanya. Abah Duni tinggal di rumah sederhana bersama keluarganya. Sehari-hari, ia membantu putri bungsunya, Ulfa, berjualan di depan rumah. Pekerjaan kecil seperti menyiapkan dagangan atau mengisi air menjadi rutinitasnya.

"Kegiatan saya sehari-hari bantu anak dagangan," ujar Abah Duni menjawab pertanyaan tentang rutinitasnya saat ini.

Kehidupan tidak selalu berpihak. Setelah masa kejayaannya berakhir, Abah Duni menjalani berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup -mulai dari mencari kayu di hutan, menjadi kuli panggul beras, hingga pekerjaan kasar lainnya.

Bahkan becak yang dulu ia kayuh untuk mencari nafkah kini tak lagi mampu ia tarik seperti dulu. Tenaganya sudah tak sekuat masa mudanya; kini ia hanya sesekali menggunakannya untuk keperluan ringan, seperti mengantar gas.

Di balik kesederhanaan hidupnya, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan. Abah Duni adalah ayah dari tujuh anak, kakek dari 18 cucu, dan buyut dari enam cicit. Namun keterbatasan ekonomi membuat pendidikan anak-anaknya tak bisa melampaui bangku SMP.

Saat ditanya tentang masa lalunya, matanya masih menyimpan kilau kebanggaan. Ia mengenang piala-piala yang pernah ia raih -hadiah yang dulu menjadi simbol kemenangan, meski tak pernah benar-benar mengubah nasib hidupnya. Tidak ada kontrak besar, tidak ada jaminan masa depan. Hanya kenangan dan pengalaman yang tersisa.

Ada nada haru dalam suaranya ketika berbicara tentang kehidupan atlet. Ia menyiratkan harapan sederhana: agar para atlet yang berjaya tidak berakhir dalam kesulitan seperti dirinya.

"Pestasi seharusnya dihargai, bukan hanya saat mereka berada di puncak, tetapi juga ketika mereka menua dan tak lagi mampu berlari," ujar Abah Duni dalam bahasa Indramayu, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Kisah Abah Duni adalah potret yang jujur tentang kehidupan -tentang kejayaan yang fana dan realitas yang sering kali tak ramah. Di tengah segala keterbatasan, ia tetap menjalani hari dengan keteguhan, seolah masih berlari, bukan di lintasan stadion, melainkan di lintasan kehidupan yang panjang dan tak selalu mulus.

Piala Ditukar Beras

Perjalanan hidupnya tak mudah. Setelah meninggalkan dunia atletik, Abah Duni menjalani berbagai pekerjaan kasar: mencari kayu di hutan, menjadi kuli panggul beras, hingga pekerjaan serabutan lainnya.

Namun, dari semua cerita hidupnya, ada satu kenangan yang paling membekas; sebuah ironi yang sulit dilupakan.

Suatu hari, sepulang bekerja dari Eretan, Kandanghaur, -sebagai kuli panggul di TPI Eretan- Abah Duni mendapati kabar dari ibunya: salah satu piala kemenangannya telah ditukar dengan beras seberat 25 kilogram. Piala itu berasal dari lomba yang digelar di Pasar Mambo Indramayu, saat pasar tersebut belum dipindahkan.

"Saya sedih waktu itu," kenangnya lirih.

Abah Duni, mantan atlet tingkat provinsi yang berasal dari Kabupaten Indramayu.Abah Duni, mantan atlet tingkat provinsi yang berasal dari Kabupaten Indramayu. Foto: Burhannudin/detikJabar

Ia sempat mendatangi toko tempat piala itu dijual. Namun, ucapan pemilik toko yang mengatakan bahwa ia bisa mendapatkan piala lagi membuatnya terdiam. Pada akhirnya, ia pulang tanpa membawa kembali piala tersebut, ia terpaksa membawa pulang rasa kehilangan yang tak tergantikan.

Piala yang dulu menjadi simbol kejayaan, kini berubah menjadi kebutuhan paling mendasar: beras untuk bertahan hidup.

Ironisnya, hampir semua kemenangan yang ia raih dahulu hanya dihargai dengan piala. Tak ada hadiah uang, tak ada jaminan masa depan. Ketika usia tak lagi memungkinkan untuk berlari, tak ada pula sistem yang menopang kehidupannya.

"Waktu itu, ya, dapat makan saja, dapat penginapan, dan fasilitas penunjang selama lomba saja," kata Abah Duni.

Halaman 2 dari 2
(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads