Angin desa berhembus pelan di Blok Bojong, Desa Panyingkiran Kidul, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. Di antara deretan rumah sederhana, berdiri sebuah rumah yang tampak paling rapuh -dindingnya usang, lantainya masih tanah, dan perabotan seadanya. Di sanalah Dasinih (76) menghabiskan hari-harinya.
Sudah hampir 24 tahun lamanya Dasinih hidup dalam gelap. Semua bermula dari sebuah kejadian sederhana yang berujung petaka di tahun 2002. Saat itu, ia tengah beristirahat di pematang sawah setelah bekerja. Tiba-tiba matanya terasa "kemasukan angin."
Awalnya dianggap sepele, namun perlahan penglihatannya memburuk hingga akhirnya hilang sepenuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kadang-kadang kalau dikasih obat tetes mata, agak terang sedikit," ujar Dasinih saat ditemui di kediamannya, Rabu (29/4/2026) sore.
Berbagai upaya pengobatan pernah dilakukan oleh anak-anaknya. Rumah sakit didatangi, harapan disandarkan pada kesembuhan. Namun takdir berkata lain. Penglihatan itu tak pernah kembali.
Cobaan hidupnya tak berhenti di situ. Sang suami meninggal dunia, meninggalkan beban hidup yang semakin berat. Enam orang anak yang dulu ia besarkan dengan penuh perjuangan kini telah berkeluarga. Dulu, demi menghidupi mereka, Dasinih bahkan rela merantau dan bekerja serabutan.
Kini, hari-harinya dihabiskan dengan duduk di kursi depan rumah. Meski tak lagi mampu melihat dunia, senyumnya tetap mengembang, seolah menjadi tanda bahwa harapan belum benar-benar padam.
Di tengah keterbatasan itu, ada satu sosok yang setia mendampingi: Wastiri, anak bungsunya. Dengan penuh kesabaran, Wastiri merawat sang ibu; memberi makan, menemani, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Maunya sama saya. Ya saya terima saja. Namanya juga orang tua, harus diurus," ujar Wastiri saat ditemui di rumah ibunya, Rabu (29/4/2026) sore.
Bagi Wastiri, merawat ibu bukan beban, melainkan kewajiban yang lahir dari kasih sayang. Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap bertahan.
Bantuan dari pemerintah pernah datang, namun tak rutin. Harapan pun masih tersisa, agar ada perhatian lebih bagi sang ibu yang telah puluhan tahun hidup dalam kegelapan.
Di sudut kecil Indramayu, kasih itu tetap hidup, meski dalam sunyi dan gelap.
(yum/yum)
