Hidupkan Jejak Sejarah Sunda, Karnaval Binokasih Digelar Lintas Daerah

Hidupkan Jejak Sejarah Sunda, Karnaval Binokasih Digelar Lintas Daerah

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 29 Apr 2026 12:30 WIB
Sejumlah budayawan Sunda dan peserta mengikuti kirab mahkota Binokasih di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/5/2023). Mahkota Binokasih yang telah berusia 800 tahun dan terbuat dari emas seberat 8 kilogram tersebut dikirab oleh budayawan Sunda dari Sumedang, Ciamis dan Bogor sebagai bentuk silaturahmi dan napak tilas perjalanan sejarah kerajaan Sunda. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/aww.
Iustrasi arak-arakan Mahkota Binokasih. Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan membawa Karnaval Binokasih melintasi berbagai wilayah sebagai napak tilas budaya Sunda, menghidupkan kembali jejak sejarah dari Kawali hingga Cirebon dalam satu rangkaian perjalanan.

Karnaval ini akan mulai digelar pada awal Mei 2026, dengan titik awal di Sumedang, akar tradisi yang selama ini hidup di lingkungan Keraton Sumedang kini diperluas menjadi agenda resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau Karnaval Binokasih, kita mulai tanggal 2 Mei di Sumedang. Tradisi dari Keraton Sumedang itu sekarang diintegrasikan dengan pemprov supaya gaungnya lebih besar," kata Dedi, Rabu (29/4/2026).

Tak berhenti di satu titik, karnaval akan bergerak menyusuri jejak sejarah Sunda. Dari Sumedang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kawali di Kabupaten Ciamis yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sunda, lalu ke Kampung Naga di Tasikmalaya sebagai representasi budaya yang masih terjaga.

ADVERTISEMENT

Perjalanan kemudian berlanjut ke Cianjur, Bogor (melintasi Batutulis hingga Kebun Raya), Depok dengan kawasan heritage kolonial, Karawang menuju Pesantren Syekh Quro, hingga mencapai tujuan akhir di Cirebon, dari Bale Jayadewata ke kawasan Kasepuhan.

Bagi Dedi, rute panjang ini bukan tanpa alasan. Ia ingin masyarakat kembali mengenali akar sejarahnya.

"Maknanya satu, mengingatkan tentang sejarah Sunda, dari Kawali sampai terbentuknya Kasultanan Cirebon," ujarnya.

Namun, ia menegaskan, Karnaval Binokasih bukan sekadar seremoni budaya. Ada misi lain yang dibawa yakni membawa perubahan nyata di daerah yang dilalui.

"Daerah yang terlewati harus bersih. Setelah itu pasti ada program pembangunannya," tegasnya.

Sejumlah titik yang dilalui bahkan sudah masuk dalam rencana penataan, mulai dari renovasi Keraton Sumedang, penataan kawasan Kawali, peningkatan fasilitas di Kampung Naga, hingga penguatan situs sejarah di berbagai daerah.

Dedi juga menargetkan dampak yang lebih luas, tak hanya pada budaya, tetapi juga infrastruktur dan lingkungan. 'Pokoknya Jawa Barat nanti yang bersih bukan hanya Kota Bandung, seluruh wilayah Jawa Barat harus bersih," katanya.

Dengan konsep yang menggabungkan sejarah, budaya, dan pembangunan, Karnaval Binokasih diproyeksikan menjadi agenda tahunan di Jawa Barat.

"Event rutin tahunan,' pungkas Dedi.

(bba/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads