Suasana malam yang hangat begitu terasa saat memasuki kawasan Pasar Bangkir, Desa Rambatan Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Di sana, terdapat lapak penjual mi rebus yang tak pernah sepi dari serbuan pelanggan.
Wasja (54), sang pemilik lapak, tampak sibuk menyiapkan sajian terbaik bagi para pelanggannya. Sedari tadi ia terus berdiri, hanya sesekali mengambil jeda untuk duduk di tengah kepulan uap mi instan yang menggoda selera. Lapaknya yang berlokasi tepat di samping pintu masuk pasar itu mulai beroperasi sejak pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sehari, Wasja mengaku bisa menghabiskan sedikitnya lima dus mi instan. Mengingat satu dus berisi 40 bungkus, artinya ada sekitar 200 porsi yang ludes terjual setiap harinya.
"Kalau ramai bisa habis 5 karton (dus). Alhamdulillah saya jualnya satu porsi Rp12 ribu saja," katanya, seraya menyiapkan mi untuk pelanggan, belum lama ini.
Dengan harga Rp12 ribu per porsi, jika mampu menjual 200 porsi, maka dalam semalam Wasja bisa meraup omzet sebesar Rp2,4 juta.
Pria ini bercerita telah berjualan di Pasar Bangkir sejak 1999. Kala itu, ia hanya mengandalkan gerobak kaki lima. Kini, Wasja sudah mampu menyewa ruko di lokasi yang sama, sementara gerobak legendarisnya tetap bertengger kokoh di bagian depan sebagai ciri khas.
Spanduk bertuliskan "Mi Wasja" terpampang jelas di depan ruko yang kini disulap menjadi tempat makan lesehan yang nyaman. Di dalamnya, suasana hangat kian terasa. Sembari menikmati hidangan, seorang pengunjung tampak melempar humor ringan di meja makan. Sejoli itu menikmati sajian hangat sekaligus berbagi tawa, sebuah perpaduan yang tampak sempurna untuk menutup hari.
Pengunjung tersebut adalah Teguh (29), pria asal Desa Pamayahan, Kecamatan Lohbener, yang datang memboyong istrinya. Saat ditanya mengenai cita rasa mi buatan Wasja, ia memberikan jawaban yang sangat meyakinkan.
"Ada sesuatu yang membuat saya ketagihan, cita rasa gurih-asin-manis jadi satu dalam satu sendok. Terus juga disajikan tempe goreng yang masih panas beserta lontong di meja. Katanya tempe gorengnya dadak digoreng. Rasanya, tuh, bikin saya pengen ke sini lagi dan lagi," ujar Teguh kepada detikJabar.
Sebagai informasi bagi pelanggan baru, lontong dan tahu yang tersaji di piring di atas meja merupakan menu tambahan. Pembeli tidak wajib menghabiskan semuanya, karena tagihan hanya akan dihitung berdasarkan jumlah tempe atau lontong yang dikonsumsi saja.
Teguh pun tak segan memberikan nilai 9/10 atas pengalaman kuliner yang ia dapatkan di kedai yang populer dengan sebutan "Mi Wasja" tersebut.
"Kalau disuruh kasih nilai dari 1 sampai 10, saya kasih nilai 9 karena pelayanannya bagus, tempatnya juga nyaman, kamar mandi selalu bersih, penyajiannya cepat, dan yang pasti mi rebusnya sedap banget," ungkapnya.
Di tahun 2026 ini, Mi Wasja membuktikan bahwa tempat makan sederhana pun bisa tetap digandrungi jika mampu menjaga kualitas sejak 1999. Perjalanan Wasja menyiratkan pesan positif bagi siapa pun yang ingin memulai langkah kecil dalam berwirausaha.
Satu pesan berharga yang bisa dipetik dari sosok Wasja: konsistensi mungkin tidak selalu menyenangkan, namun hasilnya pasti memuaskan.
(iqk/iqk)
