Lebaran Idulfitri di Jawa Barat tidak hanya dimaknai sebagai momentum ibadah dan silaturahmi, tetapi juga dirayakan dengan beragam tradisi khas yang telah diwariskan turun-temurun. Tradisi-tradisi tersebut tumbuh dari nilai budaya lokal dan menjadi bagian dari identitas masyarakat di berbagai daerah. Tak heran, bagi sebagian warga, suasana Lebaran terasa kurang lengkap jika tradisi tersebut tidak dijalankan.
Masyarakat Jawa Barat memiliki cara unik dalam menyambut hari kebahagiaan lebaran. Di Pangandaran misalnya, ada tradisi kupat sumpil, sementara di Garut, warga memiliki kebiasaan ngapungkeun balon atau menerbangkan balon udara.
Di kawasan Priangan, masyarakat juga menjalankan tradisi nyekar, yakni berziarah ke makam keluarga untuk mendoakan leluhur. Jadi lebaran itu, di samping menemui orang hidup, juga 'menemui' orang yang telah tiada di makamnya. Dalam khazanah budaya Sunda lama dikenal pula tradisi hajat walilat, sebuah bentuk syukuran yang digelar masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ingin tahu bagaimana nilai religius dan budaya berpadu dalam perayaan Idulfitri di Jawa Barat? Simak artikel ini yuk!
4 Tradisi Unik di Jawa Barat Saat Lebaran Idulfitri
1. Kupat Sumpi
Jika di banyak daerah masyarakat mengenal ketupat sebagai hidangan khas Lebaran, masyarakat Sunda di wilayah Pangandaran memiliki sajian serupa yang dikenal dengan sebutan kupat sumpi. Makanan ini diolah dari ketupat yang kemudian disajikan bersama sayur labu siam, sambal goreng, serta berbagai lauk pendamping lainnya.
Keistimewaan kupat sumpi terletak pada cita rasanya yang lebih ringan dan segar, sehingga cocok disantap untuk mengawali hari setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa. Tradisi kuliner ini juga menunjukkan bagaimana makanan menjadi bagian penting dalam perayaan Lebaran di tengah masyarakat. Demikian menurut laman resmi Desa Pamotan, Kabupaten Pangandaran.
Meski demikian, istilah sumpi sebenarnya juga dikenal dalam ragam kuliner ketupat sumpil (penyebutan sumpi dengan l di akhir) khas wilayah Banyumas dan Cilacap di Jawa Tengah, daerah yang secara kultural berdekatan dengan Pangandaran. Di wilayah tersebut, sumpil merupakan ketupat kecil berbentuk limas segitiga yang dibungkus menggunakan daun bambu.
Berbeda dengan ketupat yang umumnya menggunakan janur kelapa sebagai bungkus, sumpil memiliki aroma khas dari daun bambu dengan tekstur yang padat namun lembut. Di Jawa Tengah, hidangan ini biasanya disajikan bersama sambal kelapa atau opor sebagai pelengkap.
2. Ngapungkeun Balon
Tradisi ngapungkeun balon atau menerbangkan balon kembali digelar warga pada momen Lebaran di Kampung Panawuan, Desa Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Tradisi ini menjadi kegiatan rutin masyarakat setempat setiap perayaan Hari Raya Idulfitri.
Dalam arsip detikJabar berjudul "Ngapungkeun Balon, Tradisi Unik Warga Garut Setiap Lebaran" dijelaskan bahwa balon yang diterbangkan terbuat dari kertas minyak yang direkatkan menggunakan lem yang dicampur sisa nasi. Balon tersebut berukuran cukup besar, bahkan dapat mencapai tinggi sekitar 10 meter.
Balon diterbangkan dengan memanfaatkan tenaga angin panas yang dihasilkan dari tungku api di bagian bawahnya. Ketika udara panas memenuhi balon, balon perlahan akan terangkat dan melayang ke udara.
Tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun dan diwariskan secara turun-temurun oleh generasi masyarakat setempat. Warga menyebut tradisi tersebut sudah dilakukan sejak sekitar tahun 1990-an.
Selain menjadi hiburan, tradisi ngapungkeun balon juga dimaknai sebagai sarana mempererat kebersamaan warga. Masyarakat biasanya berkumpul setelah salat Id untuk menyaksikan balon diterbangkan sekaligus bersilaturahmi dalam suasana Lebaran.
3. Nyekar
Nyekar atau Nadran dilakukan oleh masyarakat Sunda di Jawa Barat baik pada menjelang bulan Ramadan, maupun pada pungkasan bulan ini, yaitu pada Hari Raya Idulfitri, 1 Syawal.
Nyekar merujuk pada kegiatan menabur bunga dan berdoa di makam keluarga, sedangkan Nadran selain bermakna ziarah kubur jelang Ramadan, di beberapa daerah pesisir seperti Kabupaten Indramayu, juga berkaitan dengan ritual syukuran dan doa bersama. Namun menurut Kamus Sundadigi, baik Nyekar maupun Nadran maknanya adalah ziarah kubur.
Dikutip dri Ernawati Purwaningsih, dkk. dalam buku 'Kearifan Lokal dalam Tradisi Nyadran Masyarakat Sekitar Situs Liangan' (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016), secara historis, tradisi Nadran, Nyekar, aray Nyadran di dalam tradisi Jawa, berakar dari ritual Shraddha pada masa Hindu Kuna di Jawa.
Shraddha merupakan upacara keagamaan yang ditujukan untuk mendoakan arwah leluhur sebagai bentuk manifestasi iman dan penghormatan kepada nenek moyang.
Di Jawa, istilah Nyadran diyakini berasal dari kata Shraddha yang mengalami perubahan fonetik menjadi nyraddha dan kemudian nyadran. Tradisi ini tercatat berkembang pesat pada masa Kerajaan Majapahit dan terus berlanjut hingga era Islam dengan penyesuaian nilai dan praktik keagamaan.
Di Jawa Barat, selesai shalat Idulfitri, orang akan berkumpul di kuburan-kuburan leluhur untuk nyekar.
4. Hajat Walilat
Tradisi 'Hajat Walilat' berlangsung sebelum pagi lebaran. Yaitu pada malam takbiran. Orang-orang saling berkirim makanan yang dikutip dari persediaan masakan untuk lebaran di rumah masing-masing.
Orang yang menerima kiriman makanan itu tentu merasa senang, dan senang pula untuk membalas kiriman itu dengan masakan terbaik yang dimilikinya.
R. Akip Prawira Soeganda dalam "Upacara Adat di Pasundan" (1982) menjelaskan dengan detail bahwa yang dijadikan bahan kiriman dalam tradisi berkirim itu adalah nasi dengan lauknya.
Kamus Sundadigi buatan Universitas Padjadjaran mengartikan 'hajat' sebagai berikut: (Ar.), I. kaperluan at. niat; II. hadiah at. sidekah; ngahajatan: mikeun hadiah; pahajat: hadiah at. paméré; hajat kiparat: hadiah minangka ngalebur dosa.
Selanjutnya, kata 'walilat' yang terdengar seperti kata 'walillah' (dan untuk Allah) dalam untaian kalimat takbiran. Kalimat itu lengkapnya 'Allahu akbar, Allahu akbar, laa Ilaaha Illallah, Allahu akbar, Allahu akbar walillah-ilhamdu'.
'Walilat' memang semacam pengucapan untuk 'walillah' dalam untaian kalimat takbir yang diucapkan umat Islam Sunda pada saat malam takbiran, menyongsong pagi Idul Fitri.
(iqk/iqk)
