Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka telah mengubah hari jadi daerahnya. Jika sebelumnya diperingati setiap 7 Juni, kini ditetapkan menjadi 11 Februari. Perubahan ini pun memunculkan pertanyaan publik, termasuk soal sosok bupati pertama Majalengka.
Selama ini, nama Raden Tumenggung Dendanegara kerap disebut sebagai bupati pertama. Namun, dengan perubahan hari jadi yang merujuk pada tahun 1840, posisi tersebut kini dikaitkan dengan Raden Adipati Aria Kertadiningrat.
Keturunan ke-5 Raden Tumenggung Dendanegara, Raden Mas Ramelan Perry Soejoto, angkat bicara. Ia menegaskan, perubahan yang terjadi sejatinya hanya pada penetapan hari jadi, bukan pergantian bupati pertama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebetulnya yang terjadi itu hanya perubahan hari jadi. Kalau soal perubahan bupati pertama, itu lebih ke pelurusan sejarah. Dulu ada kekeliruan," kata Perry kepada detikJabar belum lama ini.
Ia menjelaskan, anggapan bahwa Raden Tumenggung Dendanegara merupakan bupati pertama berasal dari kekeliruan penafsiran data sejarah, termasuk daftar bupati yang sempat dirilis pemerintah daerah pada periode sebelumnya.
Padahal, berdasarkan catatan keluarga, jelasnya, Raden Tumenggung Dendanegara telah dimutasi ke Cirebon pada November 1839, sebelum Majalengka resmi berdiri.
"Majalengka itu berdiri 11 Februari 1840. Sementara eyang Dendanegara sudah pindah ke Cirebon sejak November 1839. Jadi tidak mungkin beliau menjadi bupati pertama Majalengka," bebernya.
Menurutnya, Raden Tumenggung Dendanegara memang pernah menjabat sebagai Bupati Maja sejak 1819, ketika wilayah tersebut masih berada dalam Keresidenan Cirebon. Namun, status itu berbeda dengan Kabupaten Majalengka yang baru terbentuk kemudian.
"Pada tanggal 5 Januari 1819, Dendanegara diangkat sebagai Bupati Maja. Ini (masih Kabupaten) Maja, bukan Majalengka," ujarnya.
Setelah Raden Tumenggung Dendanegara dimutasi, posisi kepemimpinan di Kabupaten Maja diisi oleh Raden Adipati Aria Kertadiningrat yang datang dari Cirebon. Dalam rentang waktu akhir 1839 hingga awal 1840, Raden Adipati Aria Kertadiningrat mengusulkan pemindahan ibu kota dari Maja ke Majalengka sekaligus perubahan nama daerah.
"Beliau yang mengusulkan nama Majalengka ke pemerintah Hindia Belanda, termasuk pemindahan pusat pemerintahan," ucapnya.
Perry juga menyinggung adanya legenda asal-usul nama Majalengka, yakni dari kisah seseorang yang mencari buah maja namun tidak menemukannya hingga muncul istilah 'maja langka'. Menurutnya, legenda tersebut turut menjadi dasar penamaan yang kemudian diusulkan secara resmi.
"Saya juga dengar awal nama Majalengka itu kan ada orang nyari buah Maja terus dibilang (buah Maja nya) Langka jadi Majalengka. Nama itu yang diusulkan oleh Kertadiningrat kepada Gubernur Belanda. Lokasinya pindah, namanya juga diganti," jelasnya.
"Nah jadi ini ada pro-kontra bahwa bukan Kertadiningrat yang mengusulkan itu, tapi nama Majalengka ini asalnya dari kata-kata tadi, ada orang mencari buah Maja tapi nggak dapat. Tapi yang terjadi adalah dua-duanya benar. Kertadiningrat mengusulkan itu namanya jadi Majalengka berdasarkan itu (cerita) legenda. Nah kata Majalengka itu diambilnya dari situ. Beliau mengusulkan namanya jadi Majalengka," sambungnya.
Berubahnya Hari Jadi Majalengka
Adapun untuk perubahan hari jadi Majalengka sendiri, jelas Perry, telah melalui proses kajian akademis yang cukup panjang. Kajian tersebut secara khusus membahas penetapan waktu berdirinya Majalengka, yang kemudian disepakati jatuh pada 11 Februari 1840.
Sejumlah tokoh dilibatkan dalam forum ilmiah tersebut, sebelum hasilnya dibawa ke seminar dan forum resmi hingga akhirnya disepakati bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD.
"Sudah ada kajian ilmiah soal hari jadi, seminar, dan akhirnya disepakati. Jadi ini bukan tiba-tiba berubah," ungkapnya.
Dari penetapan hari jadi itulah kemudian berdampak pada penyesuaian dalam pembacaan sejarah, termasuk soal siapa yang menjabat sebagai bupati pertama Majalengka pada masa awal berdirinya.
Sebagai keturunan dari kedua tokoh tersebut, Perry mengaku tidak mempermasalahkan hasil penetapan itu. Baginya, baik Raden Tumenggung Dendanegara maupun Raden Adipati Aria Kertadiningrat sama-sama memiliki posisi penting dalam sejarah keluarganya.
"Dendanegara itu eyang saya, Kertadiningrat juga eyang saya. Beliau berdua itu besanan. Jadi ini bukan soal siapa lebih utama, tapi soal meluruskan sejarah," tegasnya.
(yum/yum)
