Kisah Nurhayati, Hidupi 3 Anak dari Sesajen di Tengah Keterbatasan

Serba-serbi Warga

Kisah Nurhayati, Hidupi 3 Anak dari Sesajen di Tengah Keterbatasan

Burhannudin - detikJabar
Senin, 20 Apr 2026 08:00 WIB
Nurhayati, penjual sesajen di Pasar Baru Indramayu, sedang melayani pembeli.
Nurhayati, penjual sesajen di Pasar Baru Indramayu, sedang melayani pembeli. Foto: Burhannudin/detikJabar
Indramayu -

Suasana Pasar Baru Indramayu tampak seperti biasa. Aktivitas jual beli berjalan ramai, dengan pedagang yang sibuk menawarkan dagangannya, Senin (13/4/2026) sore. Di antara deretan lapak, Nurhayati (38) duduk setia di tempatnya, menata kembang dan berbagai perlengkapan sesajen yang menjadi sumber penghidupannya.

Perempuan asal Kelurahan Lemahabang, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu ini telah menekuni bisnis tersebut sejak usia 14 tahun. Ia melanjutkan usaha orang tuanya, berjualan kembang dan aneka sesajen yang hingga kini masih menjadi kebutuhan sebagian masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap hari, Nurhayati mampu meraup penghasilan kurang-lebih Rp 100 ribu. Namun, pada waktu-waktu tertentu seperti Kamis sore-malam Jumat atau hari-hari khusus, pendapatannya bisa meningkat hingga Rp 200 ribu. Meski begitu, angka tersebut bukan tanpa perjuangan berat.

"Qadarullah seperti ini. Jalan hidupnya memang sudah seperti ini, disyukuri saja," ujarnya lirih saat ditemui di lapaknya, Senin (13/4/2026) sore.

ADVERTISEMENT

Di balik ketegaran itu, Nurhayati memikul tanggung jawab besar sebagai seorang ibu tunggal dengan tiga anak. Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas 9 SMP, sementara anak keduanya masih berusia 4 tahun dan si bungsu baru menginjak usia 2 tahun.

Cobaan hidupnya tak berhenti di situ. Sekitar dua tahun lalu, penglihatannya menurun drastis hingga mengalami kebutaan sekitar 80 persen. Kondisi tersebut terjadi setelah mengalami kegagalan saat persalinan anak ketiganya.

"Sebenarnya ini sudah sangat sulit saya bertahan dengan kondisi seperti ini, tapi kalau nggak jualan bingung mau makan dari mana," katanya.

Meski dengan keterbatasan penglihatan, Nurhayati tetap menjalankan aktivitasnya setiap hari. Ia mengandalkan ingatan, 20 persen penglihatannya, dan kebiasaan untuk menata barang dagangan serta melayani pembeli.

Dagangan yang dijualnya cukup beragam, mulai dari kembang tujuh rupa, perlengkapan sesajen, hingga kebutuhan untuk ritual kematian seperti wewangian, kain kafan, hingga kayu nisan.

Menurutnya, kebutuhan untuk keperluan orang meninggal justru menjadi salah satu sumber penghasilan yang cukup terasa.

"Rezeki paling terasa itu di kebutuhan untuk orang meninggal, seperti bumbu-bumbu jenazah, kain kafan, sampai kayu nisan. Tapi ada yang waktu itu ngambil dulu nanti bayarnya setelah selesai proses pemakaman dan ternyata orangnya nggak balik lagi, itu saya rugi sekitar Rp 800 ribu," tuturnya.

Selain itu, ada satu produk yang hampir setiap hari laku terjual, yaitu ampo (makanan tradisional khas Jawa yang juga sering digunakan sebagai syarat dalam sesajen). Nurhayati membuat ampo sendiri dengan cara diasapkan selama 30 hingga 60 menit.

"Biasanya jual ampo Rp 5 ribu dapat 4 biji. Alhamdulillah dari jualan kayak gini bisa untuk keperluan saya dan anak-anak setiap hari, walaupun kadang-kadang juga harus utang di warung," katanya.

"Ampo itu bisa buat orang hamil, terus juga bisa buat kesehatan, itu juga kata orang-orang yang beli di saya biasanya saya tanya buat keperluan apa, dan jawabannya kayak gitu," sambungnya.

Di tengah segala keterbatasan, Nurhayati tetap memilih untuk bertahan. Ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi masa depan ketiga anaknya. Baginya, selama masih bisa berusaha, harapan akan selalu ada meski harus ditempuh dengan langkah yang tak mudah.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads