Fadli Zon Siapkan Sentuhan Digital di Museum Linggarjati Kuningan

Fadli Zon Siapkan Sentuhan Digital di Museum Linggarjati Kuningan

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Jumat, 03 Apr 2026 21:16 WIB
Menbud RI Fadli Zon dan Gedung Museum Linggarjati Kuningan.
Menbud RI Fadli Zon dan Gedung Museum Linggarjati Kuningan. (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon berencana menyuntikkan teknologi digital ke dalam Museum Linggarjati, Kabupaten Kuningan. Langkah ini diambil guna mendongkrak daya tarik serta minat wisatawan terhadap situs bersejarah tersebut.

Fadli menilai digitalisasi dapat diwujudkan lewat penayangan rekaman video dokumenter hingga animasi yang menggambarkan suasana Perundingan Linggarjati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menurut saya perlu diperbanyak digital, sentuhan-sentuhan digital. Misalnya bagaimana footage ya, seperti footage tentang Linggarjatinya sendiri, atau kita buat semacam animasi jalannya perundingan, kemudian mungkin apa yang dibicarakan di dalam perundingan. Kalau ada perdebatannya, transkrip perdebatannya, itu akan menarik," tutur Fadli saat meninjau Museum Perundingan Linggarjati, Jumat (3/4/2026).

"Dibuatkan satu medianya dalam bentuk dokumenter atau animasi dan sebagainya, sehingga akan lebih hidup. Apalagi sekarang dengan teknologi sekarang, dengan AI, foto-foto pun bisa digerakkan gitu. Nah, ini sentuhan-sentuhan digital ini saya kira akan mendatangkan minat terutama dari generasi muda," tutur Fadli.

ADVERTISEMENT

Tak hanya digitalisasi, Kementerian Kebudayaan juga bakal merevitalisasi sejumlah titik di Gedung Perundingan Linggarjati yang mulai rusak. Proyek ini juga mencakup pengayaan koleksi arsip sejarah demi memperkuat nilai edukasi museum. Fadli memastikan perbaikan fisik akan segera dieksekusi.

"Nanti kita kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, memang sudah kita anggarkan juga. Jadi perbaikan-perbaikan dan perawatan tentu, apalagi ini sudah menjadi cagar budaya," tutur Fadli.

Fadli memaparkan bahwa gedung tersebut merupakan saksi bisu proses diplomasi panjang antara Indonesia dan Belanda. Menurutnya, banyak tokoh besar nasional yang menorehkan jejak sejarah di sana.

"Pada tanggal 15 November tahun 1946, yang waktu itu perundingannya dari delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang duduk di sini. Kemudian dari Belanda itu Profesor Schermerhorn yang ada di sini. Juga dari delegasi Indonesia ada Amir Sjarifuddin, ada Susanto Tirtoprojo, Adnan Kapau Gani (AK Gani), dan juga ada Mr. Roem. Dan ada saksi-saksi seperti Amir Sjarifuddin, J. Leimena, dan lain-lain," tutur Fadli.

Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyambut hangat rencana tersebut. Ia optimistis langkah ini akan menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata sekaligus sarana efektif bagi publik untuk mendalami sejarah perjuangan bangsa.

"Alhamdulillah ini bisa sebagai wahana edukasi bagi generasi muda supaya tidak terputus dari sejarah. Kedua juga sebagai penguat Kuningan sebagai destinasi wisata. Selain kita bentang alam yang indah, kita juga punya sejarah yang panjang terkait sejarah perjuangan, sejarah budaya di Kuningan," pungkas Dian.

Serap Aspirasi Seniman

Fadli Zon juga secara langsung menyerap aspirasi dari para budayawan dan seniman di Kabupaten Kuningan. Agenda tersebut dikemas dalam acara Sarasehan Budayawan dan Seniman Kuningan yang berlangsung di Kajene Forest, Kuningan pada Jumat malam (3/4/2026).

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Kuningan, serta Anggota DPR RI Rokhmat Ardiyan tersebut, Fadli Zon berdialog dengan para pegiat seni budaya guna memetakan kebutuhan pengembangan kebudayaan di daerah.

"Kita bersama Pak Bupati, Wakil Bupati Kuningan, dan juga dengan seniman budayawan yang ada di sekitar Kuningan bisa bersilaturahmi, berbincang-bincang tentang bagaimana memajukan kebudayaan, khususnya ekspresi budaya yang ada di Kuningan yang berasal dari berbagai macam latar belakang pegiat budaya, seniman, dari tradisional sampai yang kontemporer juga hadir," tutur Fadli, Jumat (3/4/2026).

Fadli menegaskan seluruh aspirasi tersebut akan ditampung sebagai fondasi kolaborasi dalam memajukan kebudayaan lokal. Menurutnya, antusiasme para seniman merupakan manifestasi semangat dalam memperkokoh kebudayaan nasional.

"Saya kira yang paling penting kan membangun semangat di dalam memajukan budaya kita, mencintai budaya kita. Karena kalau bukan kita siapa lagi, dan kalau bukan sekarang kapan lagi. Kuningan budaya kita ini potensinya sangat besar. Ditanya berapa item, saya kira semua yang menjadi warisan budaya kita, kita harus majukan bersama lewat kolaborasi," tutur Fadli.

Anggota DPR RI Dapil X Jawa Barat Rokhmat Ardiyan yang turut hadir dalam sarasehan tersebut mengungkapkan bahwa Kabupaten Kuningan memiliki kekayaan aset berupa ratusan seniman. Ia optimistis, kolaborasi yang terintegrasi dapat memacu pertumbuhan ekonomi kreatif di wilayah tersebut.

"Kuningan memiliki aset yang luar biasa, termasuk ada 200 seniman dan budayawan yang ada di Kuningan. Artinya, kalau ini dikolaborasikan dengan baik, ya, ini akan menjadi ekonomi kreatif, akan menjadi ekosistem yang baik, bisa mendatangkan wisata, bisa membangun ekosistem budaya di Kabupaten Kuningan," tutur Rokhmat.

Sementara itu, Yusuf Oeblet, salah satu seniman asal Kuningan, menilai kehadiran Menteri Kebudayaan merupakan pengakuan atas besarnya potensi budaya Kuningan di kancah nasional. Ia mendorong para insan kreatif Kuningan untuk terus konsisten melahirkan karya berkualitas.

"Hadirnya Menteri Kebudayaan ke Kuningan memberikan gambaran bahwa Kuningan adalah satu entitas kebudayaan yang penting di Indonesia. Kuningan sudah didatangi Menteri Kebudayaan. PR-nya adalah para insan-insan pelaku seni budaya di Kuningan terus memberikan apa karya-karya kreatifnya untuk mewarnai bukan hanya Kuningan, tetapi Indonesia," tutur Yusuf.

Yusuf berharap aspirasi yang telah disampaikan dapat ditransformasikan menjadi kebijakan konkrit yang mendukung ekosistem kesenian di Kuningan, terutama dalam memperluas jejaring kerja sama antar-pelaku budaya.

"Tentu harapannya adalah ada kebijakan yang berpihak terhadap apa seluruh rencana, seluruh cita-cita, seluruh upaya kesenian dan kebudayaan di Kuningan. Sehingga kita punya kekuatan untuk terus memberikan perluasan wawasan, perluasan jejaring, membangun lintas jejaring. Karena hari ini adalah era di mana kita tidak bisa tumbuh sendiri, ini adalah era kolaborasi," pungkas Yusuf.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads