Jeritan UMKM Cirebon Akibat Harga Tepung Beras Melonjak

Jeritan UMKM Cirebon Akibat Harga Tepung Beras Melonjak

Devteo Mahardika - detikJabar
Selasa, 31 Mar 2026 22:30 WIB
Potret usaha kue di Desa Pekantingan, Kabupaten Cirebon
Potret usaha kue di Desa Pekantingan, Kabupaten Cirebon. Foto: Devteo Mahardika/detikJabar
Cirebon -

Kenaikan harga bahan baku kembali menghantam sektor usaha kecil. Kali ini, lonjakan harga beras pecah lokal berdampak langsung pada mahalnya tepung beras di pasaran komoditas penting bagi industri makanan tradisional. Akibatnya, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini berada dalam tekanan berat untuk mempertahankan usahanya.

Selama ini, industri tepung beras banyak bergantung pada beras pecah impor karena harganya lebih terjangkau. Namun, kebijakan penghentian impor beras untuk kebutuhan konsumsi maupun industri memaksa produsen beralih ke beras pecah lokal yang harganya jauh lebih tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data perdagangan internasional yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras pecah impor per Desember 2025 berada di kisaran 0,341-0,365 dolar AS atau setara Rp5.737-Rp6.141 per kilogram. Sementara itu, harga beras pecah lokal saat ini menembus Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram.

Riyanto Jokonur, pemilik penggilingan tepung beras, mengungkapkan bahwa beras pecah kualitas terbaik atau broken 1 kini dijual seharga Rp11.000 per kilogram. "Ini kualitas paling bagus dari beras premium dan banyak diserap pabrik tepung," ujarnya, Selasa (31/3/2026).

ADVERTISEMENT

Hal senada disampaikan Midi Iswanto, pengusaha penggilingan yang menyebut harga beras pecah di wilayahnya berkisar Rp10.000 per kilogram.

"Beras pecah ini bukan diproduksi khusus, tapi hasil samping penggilingan dengan jumlah terbatas, kurang dari 10 persen," jelasnya.

Perbedaan harga yang signifikan antara bahan baku lokal dan impor ini membuat biaya produksi tepung beras melonjak. Dampaknya pun langsung terasa di tingkat pelaku UMKM yang sangat bergantung pada kestabilan harga bahan baku.

UMKM Mulai Tertekan, Harga Produk Naik

Kenaikan harga tepung beras mulai dirasakan pelaku usaha makanan rumahan di berbagai daerah. Jumiati, pemilik usaha makanan ringan berbahan dasar tepung beras, mengaku harus menanggung kenaikan harga tepung beras yang cukup signifikan.

Harga tepung beras kemasan yang biasa ia beli kini mencapai Rp158.500 per karton atau sekitar Rp15.850 per kilogram naik dari sebelumnya Rp14.000 per kilogram.

"Kenaikan ini terasa berat karena tepung beras adalah bahan utama. Kami butuh sekitar dua kuintal per hari untuk produksi," ungkap Jumiati.

Untuk menjaga keberlangsungan usaha, ia terpaksa menaikkan harga jual produk. Keripik produksinya kini naik Rp2.000 per bal. Meski demikian, ia khawatir daya beli konsumen akan ikut terdampak.

Dengan omzet rata-rata Rp20 juta per minggu dan 12 karyawan, Jumiati berharap harga segera stabil. "Semoga harga tepung beras kembali normal. Kalau terus begini, berat bagi kami," katanya.

Ukuran Produk Diperkecil, Produksi Dihentikan

Strategi berbeda dilakukan pelaku UMKM lainnya. Di Kampung Kue Pekantingan, Kabupaten Cirebon, Wenny (39) memilih tidak menaikkan harga jual, melainkan mengecilkan ukuran kue.

"Harga tepung beras sekarang Rp7.900 per bungkus 500 gram. Belum lagi gula juga naik. Kalau harga dinaikkan, konsumen bisa protes," ujarnya.

Ia kini menjual kue seharga Rp1.600 per potong dengan ukuran lebih kecil, serta mulai beralih memproduksi kue yang tidak menggunakan tepung beras.

Sementara itu, Diki (51), pelaku usaha kue tradisional yang telah berjualan puluhan tahun, mengaku kondisi saat ini lebih sulit dibanding biasanya bahkan di tengah momentum Ramadan.

"Harga tepung beras sekarang Rp154.000 per karton. Terpaksa ukuran kue dikecilkan. Tapi tetap saja sepi," keluhnya.

Diki bahkan sempat menghentikan produksi karena minimnya pesanan. Ia khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, usahanya tidak dapat bertahan.

Kenaikan harga tepung beras menjadi sinyal serius bagi keberlangsungan UMKM kuliner, khususnya yang bergerak di sektor makanan tradisional. Ketergantungan pada bahan baku yang stabil menjadi kunci utama agar usaha tetap berjalan.

Para pelaku UMKM berharap adanya solusi dari pemerintah, baik melalui kebijakan harga bahan baku maupun penyesuaian regulasi, agar keseimbangan antara pengelolaan beras nasional dan keberlangsungan usaha kecil tetap terjaga.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads