Produsen Tahu di Bandung Kena Imbas Perang Timur Tengah

Produsen Tahu di Bandung Kena Imbas Perang Timur Tengah

Bima Bagaskara - detikJabar
Selasa, 31 Mar 2026 13:15 WIB
Proses pembuatan tahu di Cibuntu, Kota Bandung.
Proses pembuatan tahu di Cibuntu, Kota Bandung.Tahu. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Asap tipis mengepul dari tungku-tungku besar di sentra tahu Cibuntu, Kota Bandung. Sejak pagi buta, para perajin sudah sibuk mengaduk sari kedelai, menuangkannya ke cetakan, lalu memotongnya menjadi kotak-kotak putih yang siap jual.

Aktivitas tersebut sekilas tampak normal. Namun di balik rutinitas itu, ada beban yang kian menghimpit, yaitu harga bahan baku yang melonjak tajam. Para perajin kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa harga kedelai terus merangkak naik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muhamad Zamaludin, salah satu perajin tahu di kawasan tersebut, mengatakan kenaikan harga sudah mulai terasa. Dampaknya pun instan, harga jual yang sebelumnya Rp60 ribu per papan kini terkerek menjadi Rp62 ribu.

"Sekarang tahu mulai hari ini ada kenaikan harga. Dari harga Rp60 ribu per papan sekarang Rp62 ribu, naik Rp2 ribu," ujar Zamaludin saat diwawancarai, Selasa (31/3/2026).

ADVERTISEMENT
Proses pembuatan tahu di Cibuntu, Kota Bandung.Proses pembuatan tahu di Cibuntu, Kota Bandung. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)

Kenaikan itu, kata dia, tak lagi bisa dihindari. Hampir semua komponen produksi mengalami lonjakan, terutama kedelai dan plastik pembungkus. Harga kedelai impor kini menembus angka yang jauh di atas batas normal, padahal produksi sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

"Untuk bahan baku sekarang Rp10.600 - Rp10.700 per kilogram dari Amerika, kalau dari Kanada Rp10.300. Naiknya tinggi dari sebelum puasa, normalnya Rp8 ribu, sekarang Rp10 ribu lebih," jelasnya.

Ia menyebut, lonjakan harga ini tak lepas dari dampak konflik global di Timur Tengah. Hal itu, kata dia, merembet hingga ke rantai pasok bahan baku di tingkat lokal.

"Ini karena dampak perang di Timur Tengah, ngaruh sekali karena seperti plastik, biji plastiknya dari luar. Kedelai juga impor dari Amerika, Kanada juga ada," tuturnya.

Di tengah tekanan biaya produksi, para perajin terpaksa memutar otak untuk bertahan. Sebagian memilih menaikkan harga jual, sementara lainnya terpaksa mengurangi ukuran produk agar tidak kehilangan pelanggan.

"Untuk sekarang ada yang naikan harga, ada yang dikurangi ukurannya. Untuk stok sendiri banyak, cuma harganya aja," katanya.

Proses pembuatan tahu di Cibuntu, Kota Bandung.Proses pembuatan tahu di Cibuntu, Kota Bandung. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)

Ia bahkan memprediksi tekanan harga belum akan mereda. Jika harga bahan bakar minyak (BBM) ikut naik dalam waktu dekat, biaya produksi dipastikan kembali membengkak dan berimbas langsung pada harga jual tahu di pasar.

"Ini juga kemungkinan akan naik lagi kalau BBM naik, kemungkinan semua bahan naik juga. Kalau BBM naik bisa sampai Rp65 ribu per papan," ujarnya.

Dampak kenaikan harga dari dapur produksi ini langsung menjalar hingga ke lapak pedagang eceran. Yanto, seorang pedagang tahu, mengaku sudah menerima penyesuaian harga baru dari pihak perajin.

"Iya ada kenaikan, dari Rp60 ribu per papan, sekarang jadi Rp62 ribu," katanya.

Namun, kenaikan harga di tingkat produsen belum sepenuhnya direspons oleh pasar. Yanto masih menahan diri untuk tidak langsung menaikkan harga ke konsumen, meski rencana tersebut sudah sulit dihindari.

"Harusnya naik juga. Tapi belum karena baru sekarang kan naiknya (dari perajin)," ujarnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, Yanto mengaku tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual, dari semula Rp12 ribu menjadi Rp13 ribu per bungkus.

"Paling naik dari Rp12 ribu satu bungkus, sekarang jadi Rp13 ribu," katanya.

(bba/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads