Pendiri Suku Dayak Bumi Segandu Losarang Indramayu Tutup Usia

Pendiri Suku Dayak Bumi Segandu Losarang Indramayu Tutup Usia

Burhannudin - detikJabar
Minggu, 29 Mar 2026 17:34 WIB
Makam Takmad, tokoh sentral dalam komunitas Suku Dayak Bumi Segandu Losarang, Indramayu.
Makam Takmad, tokoh sentral dalam komunitas Suku Dayak Bumi Segandu Losarang, Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Takmad, pendiri komunitas Suku Dayak Bumi Segandu di Losarang, Kabupaten Indramayu, dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sore.

Kabar duka tersebut disampaikan pihak keluarga. Istri almarhum, Kartini yang juga dikenal dengan nama Bule, menyebutkan bahwa Takmad wafat pada usia lebih dari 100 tahun.

"Bapak meninggal usianya lebih dari 100 tahun," ujar Bule saat ditemui di rumah duka, Minggu (29/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga kini, keluarga dan warga Dayak Losarang masih berkabung dengan meninggalnya sang tokoh spiritual, Takmad, terutama sang istri yang tak kunjung usai menyeka air matanya saat ditilik oleh jurnalis detikJabar.

ADVERTISEMENT

"Saya belum siap ditinggal bapak. Kalau bapak balik (meninggal), saya kesepian," kata dia.

Pesan Takmad Sebelum Meninggal Dunia

Takmad meninggal dunia lantaran sakit lumpuh yang dideritanya kurang lebih satu tahun terakhir. Oleh keluarganya, Takmad sudah dibawa bolak-balik ke rumah sakit terdekat untuk berobat dan bahkan rawat inap. Dokter dari rumah sakit tersebut juga seringkali mengunjungi rumahnya untuk kontrol kesehatan.

"Katanya, sih, bapak stroke, tapi kakinya masih bisa gerak, hanya lumpuh dan berbaring di kasur saja," kata Bule.

Namun, pesan tersirat disampaikan Takmad empat hari menjelang ajalnya. "Bapak masih bisa ngomong seperti biasanya. Bapak bilang ke saya, 'Nok, ambilkan pangkal jambu batu untuk pegangan," ungkap Bule menceritakan pesan dari Takmad.

Setelah mendengar pesan Takmad, Bule mengumpulkan anak dan cucunya untuk mengartikan maksud dari ucapan tersebut.

"Nah, kemudian saya artikan jambu batu itu 'jam menunggu waktu' saya masih tetap bingung maksudnya apa tapi setelah itu bapak sudah tidak bisa ngomong lagi, hanya diam, tapi makanan dan minuman masih masuk ke mulutnya, dan setelah saya mengartikan ucapannya, entah kenapa setiap kali saya liat jam di HP itu selalu serasi waktunya, misalnya jam 12 lewat 12 menit, jam 1 lewat 1 menit sampai begitu terus," jelas Bule.

Di hari kepergiannnya, Sabtu (28/3/2026) sore, hujan besar turun di wilayah Krimun, Losarang, disertai petir. Saat itu, Bule berfirasat bahwa waktu bapak untuk 'pulang' semakin dekat.

"Melihat air hujan turun, saya sedih, terus ada petir juga besar-besar. Terus saya bisikkan bapak dan memberi tahu bahwa saya belum siap ditinggal bapak pulang, saya terus memandangi wajahnya, namun setelah saya memalingkan pandangan, mata dan mulut bapak yang tadinya terbuka jadi tertutup, saya cek di dadanya juga sudah tidak ada napasnya, saat itu saya teriak-teriak manggil bapak," kata Bule sambil menahan tangis.

Sampai detik itu Bule bercerita, ia masih belum bisa menahan kesedihan ditinggal suami tercinta.

Perlu diketahui, Suku Dayak Bumi Segandu merupakan komunitas lokal yang menetap di Desa Krimun, Kecamatan Losarang. Komunitas ini dikenal memiliki ajaran dan kepercayaan yang dianut secara bersama oleh para anggotanya, dan prinsipnya adalah menyatu dengan alam.

Takmad sendiri merupakan tokoh sentral dalam komunitas tersebut. Berdasarkan informasi yang telah dihimpun detikJabar, ia mendirikan kelompok ini pada tahun 1973 yang awalnya dikenal dengan nama Perguruan Silat Serbaguna, sebelum kemudian berkembang menjadi Suku Dayak Bumi Segandu seperti yang dikenal saat ini.

Sang tokoh dimakamkan di samping makam istri pertamanya, di Padepokan Suku Dayak Bumi Segandu, Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, pada Minggu (29/3/2026) pagi.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads