Pemandangan tak mengenakkan terlihat di jalan 'toang' Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, menuju Desa Sudimampir, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu. Tumpukan sampah berjejer di pinggir jalan sepanjang lebih dari 100 meter.
Sekadar informasi, toang adalah jalan yang diapit persawahan dan jauh dari permukiman penduduk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditinjau pada Jumat (27/3/2026), hujan yang mengguyur wilayah tersebut pada pagi hari membuat aroma sampah basah menyengat hidung.
Tampak dari kejauhan seseorang sedang mengorek sampah dengan korek besi serta karung di punggungnya. Ia mengenakan pakaian serba tertutup, khususnya di bagian kepala.
"Nyari botol bekas," katanya singkat, saat ditanya mengenai aktivitasnya tersebut.
Adalah Wahyudi (41), pria tersebut sudah beberapa tahun terakhir memulung sampah di tempat itu.
Menurutnya, tumpukan sampah mulai terlihat sekitar 2020 lalu. Upaya gotong royong masyarakat setempat untuk membersihkan area tersebut dinilai belum membuahkan hasil karena menurut Wahyudi, di sisi lain kesadaran masyarakat masih minim.
"Percuma dibersihkan kalau masyarakat masih menganggap bahwa tempat ini adalah tempat pembuangan sampah. Padahal ini hanya pinggir jalan yang bukan semestinya jadi tempat sampah, kalau sudah kaya gini mau nyalahin siapa, kan?" jelas Wahyudi.
Sementara itu, Camat Juntinyuat Ali Alamudin mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Indramayu terkait penanganan sampah yang berjejer ratusan meter di wilayahnya.
"Kami sudah koordinasi dengan DLH kaitannya dengan sampah kemarin (26/3/2026)," ujar Ali saat dihubungi detikJabar pada Jumat (27/3/2026).
Ali sudah menyampaikan kondisi tersebut kepada DLH dan meminta agar petugas kebersihan segera dikirimkan untuk mengevakuasi tumpukan sampah.
Kemudian, Ali membeberkan kurangnya armada mobil pengangkut sampah di wilayahnya yang saat ini hanya berjumlah 4 unit.
"Selain wilayah Kecamatan Juntinyuat, keempat mobil tadi juga harus melayani tiga kecamatan lainnya, yakni, Karangampel, Krangkeng, dan Kedokan Bunder," katanya.
Berdasarkan laporan DLH yang diterima Ali, beberapa truk pengangkut sampah ke Juntinyuat mengalami kerusakan. Selain itu, adanya sopir yang sedang sakit membuat proses pengangkutan sampah menjadi terkendala.
Sampah yang menumpuk dan memanjang itu akhirnya tak terelakkan. Masalah menjadi semakin parah lantaran volume sampah pasca-Lebaran melonjak drastis dibandingkan hari-hari biasanya.
Sekretaris DLH Indramayu, Didi Riyadi, tak menafikan hal tersebut. Ia menyampaikan bahwa DLH Indramayu saat ini secara total hanya memiliki 56 unit mobil pengangkut sampah.
Padahal, kata Riyadi, rata-rata volume sampah di Indramayu yang harus diangkut mencapai angka 1.000 ton setiap harinya.
Baca juga: Ribuan Gagak Seliweran di Langit Israel |
"56 itu kalau dalam kondisi sehat semua, tapi memang beberapa ada yang dalam keadaan rusak, di sisi lain rata-rata sampah yang harus kita angkut setiap harinya sekitar 1.000 ton per hari," ungkap Didi.
Meski demikian, Didi memastikan bahwa DLH Indramayu akan segera menindaklanjuti kondisi sampah di Kecamatan Juntinyuat tersebut.
"Terkait sampah itu nanti akan coba kita tindaklanjuti. Kami akan kirimkan armada ke lokasi," pungkasnya.
(orb/orb)
