Bulan Ramadan tidak hanya menghadirkan suasana religius dan kebersamaan, tetapi membawa dampak ekonomi bagi sebagian warga. Di Kabupaten Indramayu, momentum ini menjadi ladang rezeki tambahan bagi para juru parkir yang berjaga di sejumlah rumah makan dan restoran.
Tradisi buka puasa bersama atau bukber yang semakin marak menjelang Idulfitri membuat kawasan kuliner dipadati pengunjung. Kondisi tersebut otomatis meningkatkan aktivitas di area parkir, terutama saat waktu berbuka puasa semakin dekat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi itu terlihat di salah satu restoran cepat saji di Jalan Jenderal Sudirman, Indramayu. Heri Iswanto (39), juru parkir di lokasi tersebut, tampak sibuk mengatur kendaraan yang terus berdatangan menjelang azan Magrib.
Dengan cekatan, ia menata deretan sepeda motor para pengunjung yang hendak berbuka puasa. Senyum ramahnya menyambut setiap tamu yang datang, sekaligus memastikan kendaraan tertata rapi dan aman.
Heri bahkan menyebut ramainya kendaraan menjelang berbuka sebagai momen 'serangan fajar'. Dari jasa parkir itu, ia memperoleh uang receh berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kendaraan.
Untuk menjaga keamanan kendaraan, Heri menerapkan sistem kartu nomor parkir. Satu nomor diselipkan pada kendaraan, sementara nomor yang sama ia berikan kepada pengendara sebagai tanda pengenal bahwa motornya kemudian diambil oleh orang yang tepat.
"Alhamdulillah lumayan, berkah menjelang Lebaran. Sekarang saja sudah dapat sekitar Rp40 ribu," ujar Heri saat ditemui, Senin (15/3/2024) sore.
Heri mengaku sudah cukup lama menjalani profesi tersebut. Ia juga memiliki tanda pengenal resmi sebagai juru parkir yang diterbitkan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Indramayu.
Sebelum menjadi tukang parkir, Heri sempat bekerja serabutan membantu di bengkel. Kini ia bersyukur karena selama Ramadan jumlah pengunjung meningkat sehingga penghasilannya ikut bertambah.
Sebagai pekerja lepas, Heri tidak mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR). Karena itu, uang receh yang ia kumpulkan setiap hari menjadi harapan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus persiapan menyambut Lebaran.
Meski usianya hampir 40 tahun dan belum berkeluarga karena alasan ekonomi, Heri tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Ia percaya, pelayanan yang baik akan membuat pengunjung nyaman dan membuat tempat makan tetap ramai.
"Semoga lapaknya tetap ramai sampai setelah puasa nanti," harapnya.
Hal senada disampaikan Asep (51), juru parkir lainnya di kawasan tersebut. Menurutnya, bulan Ramadan menjadi periode paling ramai dibandingkan hari-hari biasa.
"Kalau hari biasa paling ramai Sabtu-Minggu saja. Tapi kalau Ramadhan dari awal sudah ramai, apalagi mendekati Lebaran karena banyak yang bukber," kata Asep.
Bagi Asep, aktivitas parkir sebenarnya hanya pekerjaan sampingan. Ia memanfaatkan lapak tersebut untuk memberdayakan para pemuda di lingkungan sekitarnya.
Di balik perannya sebagai juru parkir, Asep juga menjabat sebagai ketua RT. Ia ingin para pemuda di wilayahnya memiliki kegiatan produktif sehingga tidak terjerumus pada hal-hal negatif.
"Sekalian memberdayakan anak-anak saja. Kasihan kalau tidak punya kerjaan," ujarnya.
Asep tidak terlalu memikirkan besarnya penghasilan dari parkir. Ia bahkan membuka kesempatan bagi pemuda lain, termasuk pengemudi ojek online, untuk membantu saat kondisi sedang ramai.
Pendapatan dari parkir pun dipersilakan untuk mereka sebagai tambahan penghasilan.
Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur. Prinsip itu membuatnya selalu bersyukur atas apa pun yang didapat setiap hari.
Ia juga mengenang pengalaman menarik saat ada pengunjung yang tidak memiliki uang receh untuk membayar parkir. Saat itu Asep mempersilakan pengunjung tersebut pergi tanpa membayar.
"Dia bilang nanti balik lagi. Ternyata benar, dia kembali dan malah bayar dua kali lipat," kenangnya.
Asep juga mengapresiasi hadirnya berbagai merek kuliner besar di Indramayu. Kehadiran restoran tersebut dinilai ikut membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Menurutnya, pihak manajemen restoran sangat kooperatif dengan memberikan izin kepada warga setempat untuk mengelola area parkir tanpa meminta bagian dari hasilnya.
"Waktu awal buka saya minta izin supaya parkir dikelola warga sini. Alhamdulillah dari manajemen mengizinkan dan tidak meminta apa pun," ujarnya.
Kisah Heri dan Asep menjadi gambaran bagaimana tradisi buka puasa bersama tidak hanya mempererat tali silaturahmi. Di sisi lain, momen Ramadan juga turut menggerakkan ekonomi kecil dan menghadirkan berkah bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari pekerjaan sederhana, seperti juru parkir.
(orb/orb)










































