Menjelang arus mudik Lebaran, aktivitas di stasiun biasanya meningkat. Lonjakan penumpang tidak hanya berdampak pada layanan perjalanan kereta api, tetapi juga membawa harapan bagi para pekerja jasa angkut barang atau porter.
Bagi para porter, masa ini menjadi waktu yang paling dinanti setiap tahun. Bertambahnya penumpang yang membawa koper dan tas besar berarti peluang kerja yang lebih besar bagi mereka.
Di antara para pekerja itu, ada Ayus Warnoto (53). Pria yang telah hampir tiga dekade menjadi porter ini saban hari bersiaga di area Stasiun Cirebon, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon.
Siang itu, Ayus berdiri mengamati penumpang yang turun dari kereta. Matanya sigap mengikuti mereka yang menenteng koper besar atau membawa banyak tas sekaligus.
Begitu ada yang memanggil, Ayus segera menghampiri. Dengan sigap ia mengangkat koper atau barang bawaan milik penumpang tersebut.
Pekerjaan itu sudah dijalani Ayus selama puluhan tahun. Hampir setiap hari ia datang ke stasiun untuk menunggu penumpang yang membutuhkan jasanya.
"28 tahun sih ada (bekerja sebagai porter)," kata Ayus saat berbincang dengan detikJabar di Kota Cirebon, baru-baru ini.
Ayus merupakan warga Cirebon yang menggantungkan hidup keluarganya dari pekerjaan tersebut. Namun, di hari-hari biasa, pekerjaan tidak selalu datang.
Kadang ia hanya mendapat satu atau dua kali jasa angkut dalam sehari. Bahkan, ada hari ketika ia harus pulang tanpa membawa penghasilan sama sekali.
"Kalau hari biasa ya enggak tentu. Kadang kalau belum rezeki ya enggak dapat," ujarnya.
Jika ada penumpang yang meminta bantuan, upah yang diterima juga tidak selalu sama. Banyak penumpang yang memberi sekitar Rp20.000 untuk sekali angkut.
"Tergantung orangnya. Kadang dikasih Rp20 ribu. Yang penting kita ikhlas saja," ucapnya.
Dalam kondisi normal, jika mendapat dua kali jasa angkut saja ia sudah bersyukur. Penghasilan sekitar Rp40.000 sehari dianggap cukup untuk kebutuhan hari itu.
"Kalau misalkan dapat dua, biasanya dapatnya sekitar Rp40 ribu. Cukup tidak cukup nikmati saja, yang penting sehat, bersyukur," ucap dia.
Namun, suasana berbeda biasanya mulai terasa menjelang Lebaran. Menurut Ayus, peningkatan penumpang biasanya terjadi sekitar empat atau lima hari sebelum hari raya.
"Biasanya H-5 atau H-4 sudah mulai ramai. Peningkatannya bisa lebih dari 50 persen," katanya.
Jika sedang ramai, dalam sehari ia bisa membawa pulang sekitar Rp100.000 dari jasa angkut. Meski penghasilannya tidak selalu stabil, masa mudik menjadi salah satu waktu yang paling dinanti Ayus setiap tahun.
Simak Video "Video: 3.000 Orang/Hari Diprediksi Padati Kampung Rambutan"
(mso/mso)