Bagi detikers yang berkunjung ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pemandangan patung kuda akan jamak ditemui di berbagai sudut. Binatang yang identik dengan kekuatan angkut dan kecepatan lari ini merupakan ikon kebanggaan masyarakat Kuningan.
Bukan sekadar monumen, gambar kuda bahkan tersemat pada bagian tengah atas lambang Pemerintah Kabupaten Kuningan. Hal ini merepresentasikan harapan besar agar masyarakat Kuningan senantiasa perkasa melintasi zaman.
Kocap tercerita, kuda-kuda yang diabadikan dalam bentuk patung maupun lambang daerah tersebut merupakan representasi historis dari seekor kuda legendaris bernama Si Windu.
Bagaimana kisah Si Windu sehingga memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Kuningan? Simak ulasan ini sampai tuntas!
Apa itu Kuda?
Dikutip dari penelitian berjudul "Studi Etnozoologi Sejarah Penggunaan Patung Kuda (Equus caballus) sebagai Ikon Kota Kuningan, Jawa Barat" karya Agnita Prihandinia dan Muhimatul Umamia dijelaskan apa yang dimaksud dengan hewan Kuda.
Menurut penelitian itu, kuda (Equus caballus) dibedakan ke dalam beberapa kategori berdasarkan ukuran tubuh, postur, serta fungsi penggunaannya. Salah satu jenisnya adalah kuda ringan, yang umumnya dikenal sebagai kuda pacu. Kuda tipe ini memiliki tinggi sekitar 1,45 hingga 1,7 meter saat berdiri, dengan berat berkisar antara 450 sampai 700 kilogram. Karena tubuhnya proporsional dan lincah, kuda ringan banyak dimanfaatkan sebagai kuda tunggang dalam olahraga berkuda.
Selain itu, terdapat pula kuda tipe berat. Tingginya relatif serupa, yakni antara 1,45 hingga 1,7 meter, namun bobotnya melebihi 700 kilogram. Dengan tubuh yang lebih besar dan tenaga yang kuat, kuda jenis ini lazim digunakan untuk pekerjaan berat maupun sebagai sarana transportasi.
Sementara itu, kuda poni merupakan jenis dengan ukuran lebih kecil. Tingginya kurang dari 1,45 meter saat berdiri, dan berat badannya berkisar antara 250 hingga 450 kilogram. Ukurannya yang lebih mungil menjadi ciri pembeda utama dibandingkan jenis lainnya.
Silsilah Kuda Si Windu
Penelitian oleh Agnita Prihandinia dan Muhimatul Umamia di atas juga menguraikan karakteristik kuda Kuningan yang memiliki ciri fisik berbeda dari kuda pada umumnya.
Kuda-kuda ini digambarkan bertubuh relatif tinggi namun berbobot lebih ringan. Meski demikian, kekuatan dan daya tahannya dinilai sangat luar biasa, baik dalam membawa beban berat maupun dalam berlari dengan cepat dan lincah.
Ciri fisik yang tangguh tersebut tercermin pada sosok Si Windu. Ketangguhan, kecepatan, serta peran historisnya menjadi dasar penetapan patung kuda sebagai ikon Kota Kuningan.
Dinukil dari situs Cakra Buana, silsilah Si Windu merujuk pada keturunan kuda jantan milik Raja Kerajaan Pajang, Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Sementara indukannya merupakan kuda betina dari jenis Kuda Sumbawa.
Kisah Kuda Si Windu
Dalam narasi sejarah lokal, Pangeran Adipati Ewangga menggunakan Si Windu ketika terlibat dalam perjuangan membantu penyebaran Islam ke wilayah Jawa bagian selatan. Perjuangan tersebut dikaitkan dengan konflik melawan Kerajaan Galuh di wilayah Ciamis. Dengan demikian, Si Windu tidak hanya dipahami sebagai hewan tunggangan, melainkan juga simbol perlawanan dan dakwah pada masanya.
Dalam "Studi Etnozoologi Sejarah Penggunaan Patung Kuda (Equus caballus) sebagai Ikon Kota Kuningan, Jawa Barat" dikatakan, pernah terjadi suatu peristiwa penyatuan wilayah Kuningan bermula pada masa penyebaran Islam oleh Syeikh Syarif Hidayatulloh.
Sebelum menjadi kabupaten yang utuh seperti sekarang, wilayah ini terbagi menjadi dua bagian, yakni wilayah timur yang dikenal sebagai Luragung dan wilayah barat yang disebut Kuningan.
Dalam proses pendirian Keadipatian Kuningan, kedua wilayah tersebut kemudian digabungkan menjadi satu kesatuan administratif bernama Kabupaten Kuningan. Penentuan lokasi ibu kota baru dilakukan dengan pelemparan sebuah bokor dari Curug Citenjo sebagai simbol penetapan titik pusat pemerintahan.
Menurut cerita yang berkembang, bokor tersebut jatuh di kawasan yang kini dikenal sebagai Alun-Alun atau Taman Kota Kuningan. Lokasi itu kemudian ditetapkan sebagai pusat ibu kota dan tetap menjadi titik sentral pemerintahan hingga saat ini.
Pada periode yang sama, Pangeran Arya Adipati Ewangga diangkat sebagai pemimpin Kuningan. Pangeran Arya Adipati Ewangga turut membantu perlawanan terhadap Belanda di Batavia, bergabung dengan pasukan Cirebon dan Demak. Dalam perjuangan tersebut, kuda tunggangannya yang bernama Si Windu dikenal gagah berani.
(iqk/iqk)