8 Fakta RA Kartini yang Jarang Diketahui, Ada Julukan Kuda Liar

8 Fakta RA Kartini yang Jarang Diketahui, Ada Julukan Kuda Liar

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 21 Apr 2026 08:57 WIB
Ilustrasi ucapan selamat merayakan hari Kartini.
Foto: Freepik
Bandung -

Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026 menjadi momen yang tepat untuk kembali mengenal lebih dekat sosok Raden Ajeng Kartini. Selama ini, Kartini dikenal luas sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia.

Namun, di balik perjuangannya yang besar, terdapat berbagai sisi menarik dan kisah unik yang jarang diketahui publik, mulai dari julukan masa kecil hingga perjalanan hidupnya yang penuh warna.

Mengacu pada buku R.A. Kartini: Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia karya Adora Kinara serta buku Sisi Lain Kartini terbitan Museum Kebangkitan Nasional, terdapat sejumlah fakta menarik tentang Raden Ajeng Kartini yang belum banyak diketahui publik. Berikut rangkuman delapan sisi unik dari sosok pelopor emansipasi perempuan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

8 Fakta Unik R.A Kartini

1. Terlahir dari Lingkungan Bangsawan

Kartini lahir pada 21 April 1879 dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa. Ia merupakan anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya sendiri menjabat sebagai patih sebelum kemudian diangkat menjadi Bupati Jepara.

Dari garis keturunan ayah, Kartini masih memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro Adiningrat IV, menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Ayu, putri dari Sultan Hamengkubuwana VI. Bahkan, silsilah keluarga ini diyakini dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Majapahit.

ADVERTISEMENT

2. Menunjukkan Kecerdasan Sejak Dini

Sejak kecil, Kartini dikenal memiliki perkembangan yang cepat. Ia lahir dalam kondisi sehat dengan rambut hitam tebal dan kemampuan motorik yang di atas rata-rata anak seusianya. Bahkan, pada usia delapan bulan, Kartini sudah mampu berjalan.

Rasa ingin tahunya yang tinggi juga terlihat sejak dini. Ia gemar membaca dan selalu menunjukkan prestasi yang baik di sekolah. Sikapnya ini juga membuatnya menjadi panutan bagi saudara-saudaranya.

3. Dijuluki "Trinil" hingga "Kuda Liar"

Semasa kecil, Kartini kerap dipanggil "Nil" atau "Trinil" oleh ayahnya. Julukan tersebut menggambarkan sifatnya yang aktif, lincah, dan penuh rasa ingin tahu. Trinil sendiri merupakan nama burung kecil yang dikenal gesit.

Tak hanya itu, Kartini juga pernah dijuluki "kuda liar" atau "kuda kore" karena kebiasaannya yang tidak bisa diam.

"Saya disebut kuda kore atau kuda liar. Karena saya jarang berjalan, tetapi selalu melompat atau melonjak-lonjak..." tulis Kartini dalam salah satu suratnya.

4. Mudah Bergaul di Lingkungan Sekolah

Kartini pernah menempuh pendidikan di Europese Lagere School (ELS), sekolah yang umumnya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan kalangan bangsawan.

Di sana, ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah beradaptasi. Ia disukai oleh teman-temannya karena kepribadiannya yang luwes dan ceria. Lingkungan sekolah juga menjadi tempat di mana Kartini merasa lebih bebas dibandingkan kehidupan di rumah yang penuh aturan.

5. Menjalani Masa Pingitan

Setelah menyelesaikan pendidikan di ELS, Kartini harus menjalani tradisi pingitan selama empat tahun. Saat itu, usianya belum genap 13 tahun.

Ia sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ke HBS Semarang, bahkan sempat memohon izin kepada ayahnya. Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan. Selama masa pingitan, Kartini mengisi waktunya dengan membaca berbagai buku yang disediakan oleh ayahnya.

6. Menikah dengan Ketentuan yang Ia Ajukan

Pada tahun 1903, Kartini menerima lamaran dari Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Meski sempat ragu, Kartini akhirnya menerima lamaran tersebut setelah mempertimbangkan berbagai hal.

Sebelum menikah, ia mengajukan sejumlah syarat, salah satunya adalah izin untuk mendirikan sekolah bagi perempuan. Setelah menikah, Kartini pun mewujudkan keinginannya dengan mendirikan sekolah tersebut di lingkungan Kabupaten Rembang.

Ia juga menolak beberapa tradisi yang dianggap membatasi, seperti berjalan jongkok atau berlutut di hadapan suami.

7. Wafat di Usia yang Sangat Muda

Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, hanya beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojoadiningrat. Ia wafat di usia 25 tahun.

Jenazahnya dimakamkan di Desa Bulu, Rembang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat luas, bahkan hingga ke Belanda.

8. Karyanya Lebih Dulu Terbit di Eropa

Surat-surat Kartini kepada sahabatnya di Belanda kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh J.H. Abendanon pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht.

Karya tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Armijn Pane dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang pada tahun 1922. Buku ini menjadi salah satu warisan pemikiran Kartini yang paling dikenal hingga saat ini.

Hari Kartini bukan sekadar peringatan seremonial. Lebih dari itu, momen ini menjadi refleksi atas perjuangan panjang perempuan Indonesia dalam meraih kesetaraan.

Semangat Kartini mengajarkan bahwa pendidikan, keberanian berpikir, dan tekad untuk berubah adalah kunci dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.

Di era modern seperti sekarang, nilai-nilai tersebut masih sangat relevan. Perempuan Indonesia terus berkembang menjadi agen perubahan di berbagai sektor kehidupan.



(tya/tey)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads