Longsor Maut hingga Meteor di Langiit Cirebon pada 2025

Longsor Maut hingga Meteor di Langiit Cirebon pada 2025

Devteo Mahardika - detikJabar
Rabu, 31 Des 2025 18:45 WIB
Longsor Maut hingga Meteor di Langiit Cirebon pada 2025
Penampakan benda jatuh yang dinarasikan bola api di Cirebon. (Foto: Istimewa)
Cirebon -

Tahun 2025 menyisakan sejumlah kejadian di Cirebon yang menggemparkan masyarakat, terutama kejadian yang bersinggungan dengan fenomena alam.

Berikut detikJabar merangkum kejadian-kejadian tersebut sebagai pengingat jika alam dapat murka bilamana tidak dimanfaatkan dengan terus menjaga kelestariannya.

Infografik tragedi dan fenomena alam di Cirebon sepanjang 2025Infografik tragedi dan fenomena alam di Cirebon sepanjang 2025 Foto: NotebookLM

Longsor di Gunung Kuda

Tragedi longsor di lokasi tambang batu alam Gunung Kuda berlokasi di Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, yang terjadi pada Jumat (30/5), menyisakan duka mendalam. Sebanyak 25 orang pekerja dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kejadian sempat menyita jutaan mata masyarakat Indonesia sampai-sampai sejumlah kementerian turun tangan dalam insiden ini.

Dalam insiden ini Polresta Cirebon resmi menetapkan dua orang tersangka dalam kasus longsor maut yang terjadi di area tambang batu alam Gunung Kuda, Kabupaten Cirebon, yang telah menewaskan puluhan pekerja. Kedua tersangka tersebut adalah Abdul Karim, pemilik Koperasi Pondok Pesantren Al Azariyah selaku pengelola tambang warga Desa Bobos, dan Ade Rahman, Kepala Teknik Tambang (KTT) di lokasi tersebut.

ADVERTISEMENT

Kapolresta Cirebon saat itu, Kombes Pol Sumarni, menjelaskan keduanya diduga dengan sengaja mengabaikan surat larangan dan peringatan resmi dari Dinas ESDM Wilayah VII Cirebon terkait kegiatan tambang ilegal yang dilakukan tanpa persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Berdasarkan hasil penyelidikan, diketahui bahwa sejak 8 Januari 2025, Kantor Cabang Dinas ESDM Wilayah VII Cirebon telah mengirimkan surat larangan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) terkait penghentian kegiatan tambang karena tidak memiliki persetujuan RKAB. Surat peringatan serupa kembali dikirimkan pada 19 Maret 2025, namun tetap diabaikan.

"Modus operandinya, tersangka AK (Abdul Karim) selaku pemilik koperasi tetap memerintahkan tersangka AR (Ade Rahman) untuk menjalankan kegiatan pertambangan. Keduanya mengetahui dengan jelas bahwa kegiatan tersebut dilarang dan tidak memiliki izin operasi produksi yang sah," tegasnya.

Lebih memprihatinkan, kegiatan pertambangan tetap dijalankan tanpa memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), yang akhirnya menyebabkan bencana longsor pada akhir Mei lalu, menewaskan belasan orang dan melukai banyak lainnya.

Akibat kejadian ini, akhirnya pemerintah Provinsi Jawa Barat selaku pemegang kewenangan pertambangan di daerah yang tidak berizin berujung pada penutupan permanen.

Meski demikian, sampai dengan saat ini akibat insiden mengerikan itu masih menyimpan duka karena diduga masih terdapat korban yang hingga saat ini masih belum ditemukan.

Empat korban yang diduga masih tertimbun, keempatnya merupakan warga Kabupaten Cirebon. Di antaranya, Muniah (45) warga Desa Cikeduk Kecamatan Depok, Tono Bin Sudirman (57) warga Desa Cipanas Kecamatan Dukupuntang, Dedi Setiadi (47) warga Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang dan Nurakhman (51), warga Desa Girinata, Kecamatan Dukupuntang.

Meteor Jatuh

Fenomena cahaya merah meluncur tajam di langit disertai dentuman keras menghebohkan warga Cirebon pada Minggu (5/10) malam. Banyak warga menduga peristiwa tersebut sebagai meteor besar yang jatuh, mengingat suara dentuman terdengar begitu kuat hingga menimbulkan getaran.

Menurut peneliti BRIN, Thomas Djamaludin, fenomena tersebut merupakan lintasan meteor berukuran cukup besar.

"Berdasarkan analisis awal dari kesaksian warga serta rekaman CCTV yang menunjukkan cahaya melintas sekitar pukul 18.35 WIB, disimpulkan bahwa objek itu adalah meteor yang memasuki atmosfer dari arah barat daya," jelasnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cirebon turut mendeteksi getaran akibat fenomena tersebut. Catatan sensor menunjukkan adanya gelombang kejut pada pukul 18.39.12 WIB, bertepatan dengan laporan dentuman keras yang terdengar di wilayah Kuningan dan Kabupaten Cirebon.

Thomas menambahkan, saat meteor memasuki lapisan atmosfer yang lebih rendah, gesekan udara menimbulkan bola api terang (fireball) yang terlihat jelas oleh masyarakat.

Proses ini juga menghasilkan gelombang kejut berupa dentuman yang menggetarkan area sekitar. Setelah itu, meteor diperkirakan jatuh di Laut Jawa. Fenomena semacam ini memang jarang terjadi di Indonesia, namun tidak berbahaya bagi masyarakat.

"Peristiwa seperti ini merupakan fenomena alam biasa, meski ukurannya cukup besar sehingga menimbulkan cahaya terang dan dentuman. Publik tidak perlu khawatir," kata Thomas.

Puluhan Desa Terendam Banjir

Usai Cirebon diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi, terdapat 10 kecamatan terendam banji dengan ketinggian air yang bervariatif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mencatat ada sebanyak 22 desa di 10 kecamatan terendam banjir.

Kepala BPBD Kabupaten Cirebon, Ikin Asikin mengatakan di Kecamatan Plered terdapat dua desa yang terendam banjir diantaranya Desa Wotgali dan Tegalsari. Kemudian di Kecamatan Plumbon ada dua desa yakni Bodelor dan Kebarepan.

"Di Kecamatan Plumbon hanya Desa Kebarepan yang terbilang cukup parah karena ketinggian air mencapai 100 sentimeter. Akibatnya ada 534 KK atau 1.602 jiwa rumahnya terendam dan 15 orang diantaranya harus mengungsi," ungkapnya, Minggu (14/12/2025).

Selain itu, dalam catatan pihaknya Kecamatan Weru ada dua desa yang terrndam banjir yakni Karangsari dan Tegalwangi yang ketinggian airnya mencapai 40 sentimeter.

Kemudian di Kecamatan Gunungjati ada tiga desa yakni Astana, Jatimerta dan Klayan yang terendam banjir. "Di kecamatan ini terutama di Desa Astana ada 20 KK atau 53 jiwa yang terdampak banjir akibat rumahnya terendam," terangnya.

Sedangkan untuk kecamatan lainnya yang terendam banjir yakni Kecamatan Ciwaringin, Arjawinangun, Gempol, Klangenan, Depok dan Panguragan.

"Untuk di Kecamatan Ciwaringin hanya Desa Ciwaringin, lalu di Kecamatan Arjawinangun ada beberapa desa diantaranya Desa Sende, Bulak, Kebonturi, Geyongan dan Junjang Wetan. Ada dua desa yang merendam pemukiman warga, di Desa Kebonturi ada 96 KK atau 965 jiwa ddann di Desa Geyongan ada 23 KK atau 92 jiwa," ujarnya.

Pihaknya juga mencatat di Desa Winong, Kecamatan Gempol juga terdampak banjir dan di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan pun berdampak pada 99 KK atau 258 jiwa.

"Selaij di Desa Slangit, Kecamatan Kalngenan ada juga Desa Klangenan ada 15 KK atau 43 jiwa yang menjadi korban dan satu desa lainnya di kecamatan yang sama yakni Desa Jemaras Kidul," bebernya.

Kemudian masih terdapat tiga desa lainnya di dua Kecamatan yakni Desa Kalianyar, Kecamatan Panguragan dan dua desa di Kecamatan Depok diantaranya Desa Kasugengan Kidul dan Kasugengan Lor.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Kabupaten Cirebon, Tsabit Albani, mengatakan banjir tersebut berdampak pada ribuan warga sehingga penanganan segera menjadi prioritas pemerintah daerah.

"Berdasarkan pendataan sementara, ada beberapa wilayah terdampak banjir yang membutuhkan penyediaan makanan bagi warga. Oleh karena itu, penanganan darurat langsung kami lakukan," ujar Tsabit di Cirebon, Minggu (14/12/2025).

Tsabit menjelaskan, banjir kali ini dipicu oleh jebolnya tanggul sungai di sepanjang aliran Kalianyar-Panguragan yang menyebabkan air meluap ke kawasan permukiman. Selain itu, Sungai Bondet di wilayah Gunungjati turut meluap akibat air laut pasang yang bersamaan dengan kiriman air dari hulu.

Itulah rangkuman fenomena alam yang sempat menggemparkan Kabupaten Cirebon selama tahun 2025 ini.

(orb/orb)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads