Ular kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis, mulai dari simbol jin jahat, jelmaan makhluk gaib, hingga pertanda buruk. Di Sunda, ular bahkan punya peran dalam mitologi padi sebagai Sanghyang Antaboga.
Kepercayaan tentang ular tersebut berkembang di tengah masyarakat dan terkadang bercampur dengan pandangan agama. Lantas, benarkah ular merupakan simbol kejahatan dan bagaimana Islam serta tradisi agama lain memandang hewan melata ini? Simak, yuk!
Ular Juga Sama-sama 'Umat' Seperti Manusia
Dalam artikel berjudul 'Menyikapi Ular dalam Islam: Antara Mitos Budaya dan Petunjuk Syariat' yang dimuat di laman Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Barat, Maman, Penyuluh Agama Islam KUA Plumbon, menjelaskan bahwa pandangan terhadap ular perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak bercampur dengan takhayul yang tidak memiliki dasar kuat.
Menurut Maman, ular merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki peran tersendiri di alam semesta. Hal ini sejalan dengan Surah Al-An'am ayat 38.
Ayat itu menjelaskan tentang tidak ada satu pun yang melata di bumi, maupun terbang di udara, melainkan umat seperti manusia dan akan dikumpulkan kembali kepada Allah SWT.
Dengan ayat itu, sangat tidak tepat jika ular langsung dianggap sebagai makhluk jahat, pembawa kesialan, atau jelmaan roh jahat hanya berdasarkan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Mitos Ular sebagai Simbol Jin Jahat
Anggapan bahwa ular merupakan simbol jin jahat menjadi salah satu kepercayaan yang kerap dikaitkan dengan dunia mistis. Sebagian masyarakat juga menghubungkan kemunculan ular di rumah dengan pertanda tertentu, seperti datangnya musibah atau kematian.
Namun, menurut penjelasan Maman dalam artikel di atas, kepercayaan semacam itu perlu dibedakan dari ajaran agama. Tidak ada dasar dalam agama Islam yang menyatakan bahwa semua ular merupakan makhluk jahat atau membawa nasib buruk.
Dalam kisah Nabi Musa AS, misalnya, tongkat yang berubah menjadi ular merupakan bagian dari mukjizat untuk menunjukkan kekuasaan Allah SWT dan mengalahkan tipu daya sihir.
"Demikian pula kisah ular lain yang muncul dalam riwayat agama, semata-mata menggambarkan peristiwa nyata atau ujian, bukan menjadikan ular sebagai simbol kutukan yang harus dibenci tanpa alasan yang jelas," tulisnya.
(orb/orb)