Mengapa Maung Jadi Simbol Sakral di Tatar Sunda?

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Senin, 19 Okt 2026 13:00 WIB
Patung Maung (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Maung (harimau) telah lama menjadi ikon kebudayaan dan kebanggaan masyarakat Sunda di Jawa Barat. Di Bandung, ikon ini dapat dilihat mulai dari patung maung di markas militer, di markas kepolisian, julukan untuk klub sepak bola, bahkan menjadi sablonan pada kaos atau pakaian batik.

Faktanya, simbol maung juga tidak berdiri sendiri. Ikon ini dikaitkan dengan sosok Prabu Siliwangi, nama gelar untuk raja-raja Galuh/Sunda. Dikisahkan dalam naskah kuno di Sunda ada informasi mengenai perubahan wujud para petinggi kerajaan menjadi harimau. Bagaimana kisah harimau menjadi ikon di Tatar Sunda? Simak yuk!

Siapakah Prabu Siliwangi?

Dalam narasi populer, Prabu Siliwangi sering dianggap sebagai nama diri dari satu orang raja. Padahal, penelusuran naskah kuno menunjukkan fakta yang lebih kompleks.

Pakar seperti Prof. Dr. Ayatrohaedi menunjukkan bahwa nama 'Siliwangi' berasal dari kata Silih Wangi yang berarti 'pengganti/penerus Prabu Wangi', seorang raja di Galuh yang wafat dalam pertempuran Bubat.

Nama ini kemudian disematkan kepada raja-raja di Sunda setelahnya. Termasuk kepada Sri Baduga Maharaja. Sri Baduga Maharaja merupakan raja yang paling diidentikkan dengan julukan Prabu Siliwangi. Sri Baduga berkuasa pada 1482-1521 M.

Dialah yang memindahkan pusat pemerintahan dan menyatukan dua kerajaan saudara, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, dengan ibu kota di Pakuan Pajajaran (Bogor saat ini).

Prasasti Batutulis merekam keberhasilan Sri Baduga Maharaja dalam membangun Telaga Maharena Wijaya, sebuah danau yang berfungsi selain untuk memperkokoh kota, juga untuk kepentingan ibadah dan irigasi.

Kemudian dalam Prasasti Kabantenan, dikisahkan bahwa raja inilah yang menetapkan kebijakan untuk membebaskan pajak bagi tanah suci, yaitu tanah yang digunakan sebagai mandala atau tempat ibadah.

Maung Bandung diawali Maung Sancang

Lagu 'Jung Maju Maung Bandung' yang diciptakan oleh seniman Sunda, Raden Aang Kusmayatna atau Kang Ibing menjadi cikal bakal julukan 'Maung Bandung' untuk klub sepak bola Persib.

Namun, rupanya istilah 'maung' dalam lagu tersebut bukan datang secara tiba-tiba. Latar belakang budaya Sunda yang telah mengenal maung sejak lama, menjadi latar yang kuat sehingga terciptanya julukan itu.

'Maung' yang tersohor di Sunda di antaranya bisa dilacak dalam naskah sastra Sunda kuno 'Wawacan Perbu Kian Santang' yang dialih aksarakan oleh Surlina Marzuk, dkk. (1993).

Di sana, dikisahkan Prabu Siliwangi punya anak Prabu Kian Santang yang mengenal Islam langsung dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ketika Prabu Kian Santang menawarkan Islam kepada ayahnya, Prabu Siliwangi dan para menteri kerajaan lebih memilih moksa dan berubah wujud menjadi harimau. Hal ini untuk menghindari konflik antara ayah dan anak, bukti bahwa kasih sayang melebihi segalanya.

Dalam bait 230-231, terungkap bagaimana proses perubahan wujud menjadi harimau itu:

"230. Ari sakabeh para raja

jeung ieu punggawa Mantri

kabeh kudu mindah rupa

jadi macan warna warni

Piunjuk ponggawa Mantri

kabeh kudu ngiring ratu

enggalna ratu Pakuan

nyandak tukem ki lagondi

diguratkeun kana tanah padaleman"

(Adapun semua para raja

dan lagi punggawa Mantri

semua harus ganti rupa

jadi macan berwarna-warni

beritahu ponggawa mantri

semua harus turut raja

singkatnya raja Pakuan

mengambil tongkat lagondi

digariskan pada tanah bumi).

"231. Istijadna tinekanan

karaton geus salin rupi

jadi leweung jujumplukan

kitu deui Perbupati

diteunggeul ku kilagoni

sakabeh geus jadi maung

ari nu jadi ratuna

ratu Batulajang aji

enggeus budal kabeh maruru Sancang"

(Istijadnya terkabul

keraton sudah ganti rupa

menjadi hutan rimba

begitu pula para bupati

dipukul oleh kilagondi

semuanya sudah menjadi harimau

yang menjadi rajanya

ratu Batulajang

sudah keluar semuanya menuju Sancang).

Makna Maung di Sunda

Dalam kosmologi Sunda, Maung dilihat sebagai perlambang keberanian, wibawa, dan perlindungan raja terhadap rakyatnya. Karena itu, penggunaan nama Siliwangi dan lambang Maung diserap sebagai simbol penghormatan terhadap keberanian, kewibawaan, dan pengayoman raja-raja di tanah Pasundan.




(iqk/iqk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork