Gerimis, Jazz, dan Romantisme Frank Sinatra di Hari Kedua TPJF 2026

Gerimis, Jazz, dan Romantisme Frank Sinatra di Hari Kedua TPJF 2026

Nedzar Rabbany El Haq - detikJabar
Senin, 05 Okt 2026 12:20 WIB
The Papandayan Jazz Festival (TPJF) 2026.
The Papandayan Jazz Festival (TPJF) 2026. (Foto: Nedzar Rabbany El Haq)
Bandung -

Sisa-sisa guyuran hujan sore hari yang membasahi aspal Kota Bandung menyisakan suasana yang menenangkan pada Minggu (4/10/2026). Udara sejuk yang menyelimuti area Hotel The Papandayan justru menambah kenyamanan bagi ribuan penikmat musik jazz yang datang ke The Papandayan Jazz Festival (TPJF) 2026.

Di berbagai panggung, lantunan melodi saksofon dan denting piano tak henti-hentinya mengalun, memecah keheningan malam dan memancing pengunjung untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk urusan duniawi.

Hari kedua sekaligus hari penutup TPJF 2026 yang mengusung tema "Sounds to the Soul" ini sukses menghadirkan palet musik yang kaya rasa. Tidak hanya menyuguhkan nostalgia abadi lewat tribute akbar "A Night of Frank Sinatra" oleh Dwiki Dharmawan dan kawan-kawan, panggung hari itu juga menjadi arena peleburan apik antara keintiman budaya Sunda, nuansa groove musik R&B, hingga alunan instrumental kontemporer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di bawah langit Bandung yang magis, perhelatan yang memasuki tahun ke-10 ini kembali membuktikan tajuknya sebagai "The address of Jazz in Bandung" sebuah julukan yang pernah disematkan oleh Ridwan Kamil.

Penghormatan Magis Tanpa Menghilangkan Orisinalitas

Titik magis malam itu bermula di Kota Baru Parahyangan (KBP) Stage yang mengambil tempat di Suagi Grand Ballroom. Menjelang petang, para penonton sudah tampak tak sabar menanti penampilan spesial bertajuk "A Night of Frank Sinatra". Pertunjukan ini digawangi oleh musisi kawakan Dwiki Dharmawan yang berkolaborasi dengan Dira Sugandi, Dirly Dave, serta 13 musisi muda berbakat dari Bandung Jazz Orchestra (BJO).

ADVERTISEMENT

Begitu musik berbunyi, big band orchestra itu langsung membawa penonton menaiki mesin waktu. Lagu-lagu ikonik Sinatra seperti Fly Me to The Moon, Summer Wind, Strangers in The Night, Come Fly With Me, I've Got You Under My Skin, hingga New York dilantunkan apik.

Sebagai penata musik, Dwiki dihadapkan pada tantangan besar. "Untuk menjaga karakter karya-karya tersebut, eksplorasi improvisasi yang biasanya menjadi ciri khas sengaja dibatasi agar esensi orisinal lagu tetap terjaga," kata Dwiki.

Puncak keintiman terjadi saat Dwiki berkolaborasi membawakan tembang My Way, serta ketika Dira Sugandi dan Dirly Dave berduet menyanyikan Something Stupid. Penampilan ini ternyata menjadi pengalaman perdana Dirly tampil di festival jazz. Ia harus menaklukkan tantangan teknis tersendiri.

"Tantangannya ada saat membawakan lagu-lagu Frank Sinatra yang umumnya ditulis untuk karakter vokal bariton, sementara saya memiliki karakter tenor," tutur Dirly, yang menganggap panggung ini sebagai kesempatan emas mengeksplorasi musikalitas di luar zona nyamannya.

Berbeda dengan Dirly, Dira Sugandi justru merasa seperti pulang ke rumah. "Musik Sinatra kerap diperdengarkan di rumah oleh ayah sedari saya kecil," ucap Dira, yang membuat repertoar malam itu terasa sangat personal dan penuh nostalgia baginya.

Bagi Dwiki, penampilan akbar ini bukan sekadar panggung biasa. "Ini adalah bentuk penghormatan kepada Frank Sinatra yang pengaruhnya begitu besar terhadap perkembangan musik dunia. Di sisi lain, penampilan ini juga menjadi penegasan bahwa The Papandayan Jazz Festival tetap menghadirkan esensi jazz yang kuat dalam setiap programnya," ujar Dwiki dari atas panggung.

Peleburan Budaya Sunda dan Ketenangan Instrumental

Jika panggung KBP menawarkan nostalgia Barat, panggung Mojang Jajaka justru menghadirkan kebanggaan lokal yang memikat hati. Lewat kolaborasi tari tradisional Swara Katresna dan alunan merdu Ki Dalang Anom bersama Swara Sinden, panggung yang terletak di Tropical Garden itu disulap menjadi arena pertunjukan seni yang magis. Mereka berhasil membuat para pengunjung tertegun, membuktikan bahwa ketukan jazz dan kelembutan budaya Sunda bisa berjalan beriringan dengan sangat harmonis.

Beralih ke TP Stage di lantai dasar, penonton dimanjakan oleh alunan syahdu saksofon dari Tommy Pratomo yang menyajikan deretan musik jazz instrumental sejak sore hari. Ketenangan serupa juga terasa di panggung RON88, ketika grup 5 Petani sukses melarutkan penonton lewat komposisi jazz instrumental racikan mereka yang seolah menyatu dengan udara sejuk Kota Bandung.

Antrean Mengular dan Pesta Anak Muda

Namun, tidak semua sudut bernuansa tenang. Antusiasme pengunjung, terutama dari kalangan anak muda, tampak tak terbendung saat menanti penampilan Mahalini di KBP Stage. Lautan manusia terpantau memenuhi area penonton, hingga membuat antrean mengular panjang sampai ke area koridor bawah The Papandayan.

Keseruan tak kalah pecah juga terjadi di BRI Stage yang berlokasi di HuruBatu Grill Garden. Di tengah gemerlap lampu, penyanyi muda Rafi Sudirman sukses membakar semangat penonton, terutama saat ia menyanyikan lagu pamungkasnya berjudul That Somebody.

Di sisi lain, proyek kolaborasi Freedom Jazz Society yang diisi oleh Greybox, Jevin, Kenny, Winky, dan Rinni kembali mengambil alih KBP Stage pada larut malam. Hentakan musik mereka berhasil membuat seisi ruangan tak kuasa untuk ikut berlenggak-lenggok mengikuti irama. Kemeriahan ini seolah mengamini pandangan Dwiki Dharmawan terhadap regenerasi musik Tanah Air.

"Saya melihat semakin banyak talenta muda yang menunjukkan kemampuan luar biasa dan berpotensi membawa jazz Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi," kata Dwiki optimis.

Menutup Malam dengan Tarian Bersama

Kehangatan festival ini semakin lengkap dengan riuhnya Pasar Jazz di area parkir. Sepanjang acara, pengunjung bebas menikmati aneka sajian kuliner di stan makanan. Sembari mencicipi hidangan hangat di tengah cuaca yang sejuk, mereka bertukar cerita dan kesan tentang musisi idola mereka hari itu.

Sebagai suguhan pamungkas, grup musik legendaris T-Five yang berkolaborasi dengan Melly Mono mengambil alih panggung BRI Stage jelang pergantian hari. Tembang-tembang hit khas T-Five berhasil membangkitkan kembali memori para penonton era 2000-an. Dengan sisa energi yang ada, para musisi itu mengajak seluruh pengunjung bernyanyi dan menari bersama. Keriuhan itu akhirnya menutup perhelatan The Papandayan Jazz Festival 2026 dengan sebuah pesta kebersamaan yang hangat, magis, dan berkesan.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads