Mengenal Batik Khas Bandung, Motif dan Filosofi di Baliknya

Zaenab Nurhabibah - detikJabar
Jumat, 02 Okt 2026 06:30 WIB
Ilustrasi Batik Bandung (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)
Bandung -

Tak hanya dikenal sebagai Kota Kembang, Bandung juga memiliki kekayaan budaya yang dituangkan dalam berbagai karya seni, salah satunya batik.

Motif batik yang berkembang di Bandung banyak mengambil inspirasi dari flora, fauna, budaya Sunda, dan cenderung mengangkat identitas lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat kota.

Sehubungan dengan Hari Batik Nasional yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Oktober, ada apa saja motif batik khas Bandung yang sudah detikers kenali?

1. Motif Patrakomala

Motif Patrakomala mengambil inspirasi dari bunga Patrakomala (Caesalpinia pulcherrima), flora khas Kota Bandung dengan bentuk khas dan warna cerah.

Dalam pengembangan motif batik, bentuk bunga dan daunnya dapat distilasi menjadi pola dekoratif yang disusun berulang pada kain.

Keberadaan Patrakomala menjadi bagian dari identitas Kota Bandung sebagai Kota Kembang.

Bunga Patrakomala dapat dikaitkan dengan keindahan, semangat, keceriaan, dan kehidupan yang harmonis dengan alam. Warna bunganya yang cerah juga memberikan kesan optimistis.

2. Motif Cangkurileung

Kalau Patrakomala mewakili unsur flora, Cangkurileung mewakili unsur fauna Kota Bandung.

Cangkurileung merupakan sebutan dalam bahasa Sunda untuk burung kutilang, salah satu fauna khas Kota Bandung.

Dalam motif batik, bentuk burung Cangkurileung dapat dipadukan dengan unsur flora, kombinasi tersebut menghasilkan pola yang menggambarkan kehidupan alam Bandung.

Burung Cangkurileung sendiri dikenal dengan suara kicauannya. Oleh karena itu, motif ini dapat dimaknai sebagai simbol keceriaan, kebebasan, keharmonisan, dan kedekatan manusia dengan alam.

3. Motif Jalak Harupat

Nama ini cukup familiar di Jawa Barat karena istilah Jalak Harupat juga digunakan untuk Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung.

Unsur burung jalak menjadi inspirasi visual yang menggambarkan karakter gagah dan kuat, motif ini dapat dikembangkan dalam bentuk burung yang distilasi atau dipadukan dengan unsur flora lainnya.

Jalak Harupat dapat dikaitkan dengan karakter yang cukup kuat, menggambarkan sosok yang berani menghadapi tantangan, tetapi tetap mempunyai keteguhan dalam menjalani kehidupan.

4. Motif Rereng Kujang

Kujang, senjata tradisional khas budaya Sunda sudah banyak digunakan sebagai sumber inspirasi dalam berbagai karya seni, termasuk batik.

Salah satunya adalah motif Rereng Kujang yang memadukan pola rereng, berupa susunan garis diagonal, dengan bentuk kujang.

Kujang dapat dimaknai sebagai simbol kekuatan, keberanian, keteguhan, dan identitas budaya, sementara pola rereng yang tersusun secara teratur memberikan kesan dinamis dan berkesinambungan.

Perpaduan keduanya menghasilkan motif yang dapat dimaknai sebagai kekuatan untuk menghadapi kehidupan dengan tetap menjunjung nilai budaya.

5. Motif Papatong Pucuk Teh

Papatong Pucuk Teh mengambil inspirasi dari dua unsur alam, yaitu "papatong" (capung) dan pucuk daun teh.

Rumah Batik Lembang mencatat Papatong Pucuk Teh sebagai salah satu motif batik kontemporer yang dikembangkan di daerah tersebut.

Penggunaan pucuk teh tidak terlepas dari karakter kawasan Lembang dan dataran tinggi Priangan yang dikenal dengan perkebunan teh, sementara capung menjadi unsur fauna yang memberikan kesan hidup dan dinamis.

Motif Papatong Pucuk Teh dapat menggambarkan hubungan antara manusia dan alam, mencerminkan pertumbuhan dan kesuburan, serta kelincahan dan kemampuan beradaptasi.

6. Motif Gedung Sate

Ketika berbicara tentang ikon Kota Bandung, rasanya kurang lengkap tanpa Gedung Sate, salah satu landmark paling dikenal di Bandung dan kini menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Bentuknya sangat mudah dikenali hingga menjadi sumber inspirasi dalam berbagai karya visual dan cenderamata yang mengangkat identitas Bandung.

Dalam pengembangan motif batik, bentuk Gedung Sate dapat dibuat menjadi stilasi bangunan yang dipadukan dengan unsur flora atau pola dekoratif lainnya.

Ciri paling mudah dikenali tentu saja bagian menara dengan ornamen enam bulatan yang menyerupai tusuk sate, ciri khas bangunan yang secara historis dikaitkan dengan biaya pembangunan sekitar 6 juta gulden.

Jika dituangkan menjadi motif batik, Gedung Sate dapat dimaknai sebagai simbol identitas Kota Bandung sekaligus pusat pemerintahan Jawa Barat, serta merepresentasikan perjalanan sejarah Bandung dan kuatnya karakter arsitektur kota.

7. Motif Binari Kawung

Terakhir ada Binari Kawung, yaitu pengembangan motif geometris Kawung yang diberikan sentuhan ornamen cahaya atau unsur dekoratif.

Kawung sendiri merupakan salah satu motif batik tradisional yang bentuk dasarnya berupa susunan geometris menyerupai buah aren atau kolang-kaling.

Dalam sejumlah penafsiran, Kawung berkaitan dengan pengendalian diri, kebijaksanaan, dan keseimbangan.

Bentuk geometrisnya yang teratur juga dapat dimaknai sebagai keteraturan dalam kehidupan.

Sementara unsur cahaya dalam pengembangan Binari Kawung dapat memberikan makna tambahan berupa harapan, penerangan, dan kejernihan.

Motif Binari Kawung dapat dimaknai sebagai pengingat agar manusia mampu mengendalikan diri, menjaga kejernihan hati, serta menjadi pribadi yang dapat memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Pengembangan motif seperti ini memperlihatkan bahwa motif tradisional dapat diolah kembali dengan sentuhan baru sehingga lebih dekat dengan identitas dan selera masyarakat masa kini.



Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork