Bukan hanya Pulau Jawa, Kalimantan juga memiliki batik khas yang motifnya berbeda-beda antar daerah. Salah satunya adalah Batik Tidayu yang berasal dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Tidayu dalam batik ini adalah singkatan dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu, tiga kelompok etnis yang tinggal di Singkawang. Perpaduan dari tiga budaya itu terlihat jelas dalam motif Tidayu. Motif kipas merepresentasikan budaya Tionghoa, tameng atau perisai mewakili budaya Dayak, dan bunga pucuk rebung diambil dari budaya Melayu.
Ketiga elemen itu terukir, berpadu dalam kain Batik Tidayu yang melambangkan ragam etnis di dalam satu kota, Singkawang. Dari batik ini bisa dilihat kehidupan masyarakat Singkawang yang hidup berdampingan secara harmonis walaupun berasal dari suku yang berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Motif dan Ciri Batik Tidayu
Batik Tidayu memiliki beberapa pola yang mengambil unsur budaya dalam kehidupan masyarakat Singkawang. Dokumentasi iWareBatik mencatat ragam motif Tidayu antara lain motif Lembayung, Beuntai, Lentera, Hutan, Harmoni, Burung Hong, dan Burung Bangau. Motif-motif ini tentu memiliki makna dan merupakan unsur sakral yang diadopsi dari berbagai kebudayaan di wilayah Singkawang.
Masing-masing pola menggabungkan tiga unsur yang merepresentasikan etnis Tidayu itu sendiri. Motif Harmoni contohnya, ada detail oriental bentuk kotak yang dipadukan dengan motif pucuk rebung Melayu di tengahnya. Sesuai namanya, pola di motif Harmoni melambangkan keharmonisan suku dan budaya di Singkawang.
Sementara itu ada motif Hutan atau Rimba yang memadukan kekayaan flora dan fauna asli Kalimantan. Pucuk rebung melambangkan etnis Melayu, burung Hong dari budaya Tionghoa, dan burung Enggang dari budaya Dayak. Adapun motif Lembayung, Beuntai, Lentera, Burung Hong, dan Burung Bangau juga terlihat banyak digunakan sebagai motif khas Batik Tidayu.
Seperti kain batik dari Kalimantan Tengah yang disebut Benang Bintik, Batik Tidayu juga dibuat dengan warna yang menyala. warna merah, kuning, hijau, dan biru dipadukan dengan warna hitam dan emas. Kombinasi ini memberikan kesan cerah sekaligus mewah pada kain Tidayu.
Penggunaan warna cerah juga membuat Batik Tidayu punya karakter yang mirip dengan batik pesisir Indonesia. Namun, Batik Tidayu tetap memiliki gabungan unsur budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu khas Singkawang yang membuatnya semakin unik.
Filosofi Batik Tidayu
Makna di balik Batik Tidayu adalah harmoni antar suku dan budaya di Singkawang. Tiga budaya itu disatukan dalam selembar kain Batik Tidayu. Karenanya motif Tidayu menjadi simbol keberagaman, toleransi, dan persatuan, seperti gambaran kehidupan sehari-hari di Singkawang.
Selain kipas, unsur budaya Tionghoa bisa dilihat dari lampion dan burung Hong. Burung Hong atau Phoenix adalah simbol keberuntungan, keharmonisan, dan kebangkitan dalam Tionghoa. Unsur-unsur ini akan ditempatkan berdampingan dengan unsur Dayak dan Melayu.
Dari budaya Dayak, yang digunakan adalah tameng atau perisai. Tameng di sini sebagai senjata tradisional Dayak yang maknanya berarti perlindungan, keberanian, dan kekuatan. Simbol lainnya adalah burung Enggang yang menjadi hewan sakral. Enggang merupakan simbol dari persatuan, kedamaian, perlindungan, dan kemakmuran.
Sementara itu, unsur Melayu salah satunya disimbolkan dengan rebung atau pucuk rebung. Motif tanaman ini bisa ditemukan di banyak ragam hias Melayu lainnya. Bentuk tunas bambu yang sedang tumbuh melambangkan pertumbuhan, harapan, dan kehidupan yang terus berkembang.
Perpaduan motif ketiganya terlihat jelas pada motif Harmoni. Di dalamnya ada pesan bahwa masyarakat Singkawang walaupun hidup dengan keragaman, tetapi tetap memiliki satu kesatuan yang menjadi identitas mereka, salah satunya bisa dilihat dari Batik Tidayu.
