Kota Bandung memiliki 30 kecamatan dengan nama yang cukup beragam, beberapa di antaranya mungkin sudah sangat familiar karena sering dilewati saat beraktivitas.
Namun, pernahkah detikers penasaran dari mana nama-nama tersebut berasal?
Ternyata, sejumlah nama kecamatan di Bandung memiliki cerita yang berkaitan dengan kondisi geografis, tumbuhan, bahasa Sunda, hingga sejarah wilayah pada masa lalu. Penamaan tersebut dalam kajian sejarah disebut toponimi, yakni kajian mengenai asal-usul nama suatu tempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, tidak semua nama wilayah lahir dari satu cerita yang benar-benar pasti, ada yang berasal dari kajian bahasa, atau berkembang melalui cerita masyarakat dan tradisi lisan.
Lantas, apa saja kecamatan dengan nama unik di Kota Bandung dan bagaimana asal-usulnya?
1. Astanaanyar
Kuburan Astanaanyar Kota Bandung Foto: Sudirman Wamad/ detikJabar |
Astanaanyar merupakan kecamatan yang berada di pusat Kota Bandung.
Nama Astanaanyar berasal dari bahasa Sunda. Kata "astana" berarti kuburan atau makam, sedangkan "anyar" berarti baru. Dengan demikian, Astanaanyar berarti "kuburan baru".
Menurut Haryoto Kunto dalam Bandoeng Tempo Doeloe, nama tersebut muncul pada awal abad ke-20 ketika pemerintah Hindia Belanda melarang kebiasaan warga pribumi memakamkan anggota keluarga di pekarangan rumah.
Makam-makam tersebut kemudian dipindahkan ke kawasan yang kini dikenal sebagai Astanaanyar.
2. Arcamanik
Jalur pedestarian di Taman Arcamanik, Kota Bandung, terlihat unik. Trotoar bergambar ular tangga dan quote yang mengingatkan warga agar gemar berjalan kaki. Foto: Wisma Putra |
Bergeser ke Bandung bagian timur, ada Kecamatan Arcamanik. Nama Arcamanik berasal dari dua kata, yaitu "arca" yang berarti patung dan "manik" yang bermakna permata.
Penamaan ini dikaitkan dengan penemuan peninggalan berupa arca di kawasan perbukitan utara Sindanglaya.
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, geolog Belanda R.D.M. Verbeek menemukan dua patung Siwa Mahadewa dan sebuah patung Dewi Durga di kawasan tersebut pada 1883.
Lokasi penemuan tersebut pun kemudian berkembang menjadi Kampung Arcamanik.
3. Cibiru
Cibiru berada di Bandung bagian timur dan menjadi salah satu pintu masuk Kota Bandung dari arah timur.
Nama Cibiru konon berkaitan dengan air dan sebuah pohon yang disebut "pohon biru" yang pernah tumbuh di Kampung Cibiru Tonggoh, Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung.
Akar pohon biru tersebut konon mengeluarkan mata air yang dimanfaatkan masyarakat. Dari sinilah muncul gabungan kata "ci" atau air dan "biru" yang merujuk pada nama pohon tersebut. Jadi, biru dalam nama Cibiru tidak semata-mata merujuk pada warna.
4. Cinambo
Cinambo merupakan kecamatan di Bandung timur yang terbentuk dari pemekaran Kecamatan Ujungberung.
Asal nama Cinambo berkaitan dengan kondisi geografis wilayah tersebut. Kata "nambo" dalam bahasa Sunda merujuk pada bekas dasar sungai.
Sementara itu, Disbudpar Bandung menyebut kawasan Cinambo hingga awal abad ke-19 berada di tepian rawa Gegerhanjuang dan memiliki karakter sebagai dataran rendah yang dahulu menjadi aliran sungai.
Nama Cinambo pun dianggap menggambarkan kondisi wilayah yang pernah berkaitan dengan aliran air tersebut.
5. Cibeunying
Cibeunying kini terbagi menjadi dua kecamatan, yakni Cibeunying Kaler dan Cibeunying Kidul. Keduanya berada di kawasan utara dan timur laut pusat Kota Bandung.
Nama Cibeunying berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda, yaitu "ci" dan "beunying". "Ci" merupakan bentuk pendek dari "cai" yang berarti air. Sementara "beunying" merupakan nama tumbuhan lokal, yaitu Ficus fistulosa.
Mengutip dari Toponimi Kota Bandung Pemprov Jawa Barat, pohon beunying dahulu banyak tumbuh di tempat sejuk dan dekat sumber air. Karena itu, nama Cibeunying menggambarkan keterkaitan antara sumber air dan vegetasi yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut.
6. Kiaracondong
Siapa yang tidak kenal Kiaracondong? Kecamatan yang berada di Bandung bagian timur ini berasal dari kata "kiara" dan "condong". Kiara merupakan nama pohon berukuran besar, sedangkan condong berarti miring.
Menurut cerita masyarakat setempat yang juga dikutip dari sumber Disbudpar Kota Bandung, dahulu terdapat pohon kiara berukuran besar dengan batang yang tumbuh miring. Pohon tersebut kemudian menjadi penanda kawasan dan namanya melekat menjadi Kiaracondong.
7. Ujungberung
Ujungberung berada di kawasan Bandung timur. Nama Ujungberung memiliki beberapa versi asal-usul, salah satunya berkaitan dengan legenda Sangkuriang.
Dalam kajian toponimi, kata tersebut dapat diuraikan menjadi "ujung" yang berarti akhir dan "berung" yang berasal dari kata "ngaberung", yakni mengumbar kemarahan atau amarah.
Ada pula versi tradisi lisan yang mengaitkan Ujungberung dengan kisah pengejaran Dipati Ukur oleh pasukan Mataram.
8. Gedebage
Masjid Al Jabbar Foto: Wisma Putra/detikJabar |
Gedebage kini dikenal sebagai salah satu kawasan yang berkembang pesat di Bandung timur. Wilayah kecamatan ini juga dikenal karena keberadaan Stasiun Gedebage, Masjid Raya Al Jabbar, hingga kawasan komersial.
Soal asal namanya, ternyata terdapat lebih dari satu versi. Menurut kajian Toponimi Kota Bandung, salah satu teori menyebut Gedebage berasal dari gabungan "gede" dan "bagea". "Gede" berarti besar, sedangkan "bagea" berkaitan dengan keberuntungan atau kebahagiaan.
Versi lainnya mengaitkan "bage" dengan bagage, istilah yang berarti bagasi atau tempat barang. Teori ini dikaitkan dengan fungsi kawasan Gedebage sebagai tempat pengangkutan barang, terutama pada masa perkembangan jalur kereta api.
9. Mandalajati
Mandalajati berada di bagian timur laut Kota Bandung.
Dalam kajian toponimi kecamatan di Bandung, nama Mandalajati tersusun dari kata "mandala" dan "jati". Kajian tersebut mengartikan "mandala" sebagai area atau kawasan, sedangkan "jati" dimaknai sebagai sifat setia atau loyal.
Dengan demikian, penjelasan linguistik ini berbeda dari anggapan bahwa Mandalajati secara langsung berasal dari istilah Sanskerta tentang "lingkaran suci". Kajian toponimi tersebut mengelompokkannya sebagai gabungan dua unsur bahasa Sunda.
10. Panyileukan
Terakhir ada Panyileukan yang berada di Bandung timur.
Nama Panyileukan cukup menarik karena maknanya ternyata tidak persis seperti anggapan bahwa "sileuk" berarti melirik atau menoleh.
Dalam penelitian Place-Naming (Toponymy) of Kecamatan in Bandung, Panyileukan dikategorikan sebagai nama yang berasal dari bahasa Sunda dan memiliki makna "sesuatu yang ditunggu atau diharapkan".
Kajian tersebut menggunakan daftar nama kecamatan dari situs resmi Pemerintah Kota Bandung dan membandingkannya dengan kajian toponimi sebelumnya.
Jadi, ketika lain kali detikers melewati kecamatan-kecamatan tersebut, di balik nama kecamatan yang terdengar biasa tersebut tersimpan cerita sejarah yang sudah berlangsung sejak lama.
(yum/yum)



