Mengulik Jejak Sjarif Amin, Sastrawan Ciamis di Bumi Rahayu

Mengulik Jejak Sjarif Amin, Sastrawan Ciamis di Bumi Rahayu

Dadang Hermansyah - detikJabar
Selasa, 29 Sep 2026 14:00 WIB
Kawargian Nonoman Galuh menggelar kegiatan bertajuk Sarakan Midang yang dirangkai dengan diskusi sastra dan pengenalan tokoh asal Ciamis.
Kawargian Nonoman Galuh menggelar kegiatan bertajuk Sarakan Midang yang dirangkai dengan diskusi sastra dan pengenalan tokoh asal Ciamis. (Foto: Istimewa/Dok. Nonoman Galuh)
Ciamis -

Bumi Rahayu, Dusun Pasisian, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, menjadi ruang pertemuan bagi literasi, sejarah, dan kesenian Sunda. Di tempat ini, Yayasan Kawargian Nonoman Galuh menggelar kegiatan bertajuk Sarakan Midang yang dirangkai dengan diskusi sastra dan pengenalan tokoh asal Ciamis.

Kegiatan tersebut tidak hanya mengajak peserta berbicara tentang sastra Sunda, tetapi juga mengenalkan kembali sosok Sjarif Amin, sastrawan Sunda asal Ciamis yang turut dikenal dalam sejarah pers nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Yayasan Kawargian Nonoman Galuh Tendi Nugraha mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai unsur kebudayaan. Literasi, sejarah, dan seni dipertemukan agar generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan sebagai warisan, tetapi juga terlibat di dalamnya.

"Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan ruang pertemuan antara literasi, sejarah dan kesenian. Harapannya, kebudayaan Sunda tetap dirawat dan generasi muda bisa ikut terlibat dalam berbagai aktivitas kebudayaan," ujar Tendi, Selasa (29/9/2026).

ADVERTISEMENT

Rangkaian kegiatan dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama berupa talk show literasi sastra Sunda bersama Rama Prambhudi Dikimara yang dimoderatori Moch. Idwar Fauzan. Diskusi tersebut membahas kebiasaan membaca literatur sastra Sunda.

Peserta diajak melihat literasi tidak sebatas kemampuan membaca, tetapi juga bagaimana seseorang mengakses, memahami, kemudian mendiskusikan bacaan secara berkelanjutan. Salah satu gagasan yang muncul adalah pentingnya membangun kebiasaan membaca secara kolektif. Komunitas dinilai dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kebiasaan tersebut melalui kelompok membaca, diskusi buku hingga pertukaran gagasan.

Setelah membahas literasi, kegiatan berlanjut ke program Wanoh ka Tokoh. Kali ini, sosok yang diperkenalkan adalah Sjarif Amin.

Sastrawan Sunda asal Ciamis itu dibahas dari berbagai sisi, mulai dari perjalanan hidup, kiprah dalam kesusastraan hingga kontribusinya di dunia pers dan kebudayaan. Materi disampaikan Atep Kurnia dan dimoderatori Eggy Aditiar.

Kawargian Nonoman Galuh menggelar kegiatan bertajuk Sarakan Midang yang dirangkai dengan diskusi sastra dan pengenalan tokoh asal Ciamis.Kawargian Nonoman Galuh menggelar kegiatan bertajuk Sarakan Midang yang dirangkai dengan diskusi sastra dan pengenalan tokoh asal Ciamis. (Foto: Istimewa/Dok. Nonoman Galuh)

Tendi mengatakan, pemilihan Sjarif Amin bukan tanpa alasan. Nonoman Galuh ingin mengajak generasi muda mengenal kembali tokoh-tokoh daerah yang memiliki jejak penting dalam perjalanan sastra dan pers.

"Melalui program Wanoh ka Tokoh, kami ingin menggali kembali riwayat tokoh-tokoh lokal, khususnya yang memiliki kontribusi terhadap sastra, pers dan kebudayaan. Sjarif Amin menjadi salah satu tokoh asal Ciamis yang penting untuk dikenalkan kembali kepada generasi sekarang," katanya.

Usai diskusi, suasana Bumi Rahayu berubah menjadi panggung apresiasi seni melalui Sarakan Midang atau Gelar Kamonesan Nonoman Galuh.

Sejumlah seniman dan anggota komunitas tampil membawakan karya masing-masing. Pertunjukan diawali dengan tari yang dibawakan Sintiya. Penampilan kemudian berlanjut dengan calung oleh Ade Halimun bersama Satria dan rekan-rekan. Seni tradisional Sunda tersebut berpadu dengan pembacaan sajak oleh Wini Fitriani.

Tak hanya seni pertunjukan, kegiatan juga mempertemukan peserta dengan karya audiovisual. Forum Komunitas Film Ciamis turut memutar sejumlah film produksi mereka. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penampilan musik sape oleh Tendi Nugraha.

Menurut Tendi, keberagaman penampilan tersebut menunjukkan bahwa ruang kebudayaan dapat menjadi tempat bertemunya berbagai bentuk ekspresi. Seni tradisi dan kreativitas generasi muda dapat hadir dalam satu ruang yang sama.

"Kami ingin ruang seperti ini terus tumbuh. Tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga ruang bertemu, berdiskusi, belajar, dan berkarya bersama," ujarnya.

Kegiatan di Tambaksari tersebut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas kebudayaan yang sebelumnya telah dilakukan Nonoman Galuh di Situs Samida, Rajadesa.

Kali ini, pembahasan mengenai Sjarif Amin memberikan warna tersendiri karena peserta diajak menelusuri kembali jejak seorang tokoh sastra dan pers yang berasal dari Ciamis.

Tendi berharap kegiatan serupa dapat terus digelar di berbagai wilayah. Menurutnya, ruang literasi dan kebudayaan dibutuhkan agar generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal sejarah daerah sekaligus mengekspresikan kreativitasnya.

"Harapannya ruang-ruang pertemuan berbasis literasi dan kebudayaan ini bisa terus berkembang di berbagai wilayah Ciamis. Kami ingin komunitas, seniman, dan masyarakat bisa bersama-sama merawat kebudayaan sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk berkarya," pungkasnya.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads