Suara angklung selama ini identik dengan gerakan tangan. Tabung bambu digoyangkan perlahan, lalu lahirlah bunyi khas yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari identitas budaya Sunda. Namun di sebuah sudut Kota Bandung, angklung kini memiliki wajah baru.
Bukan lagi sepenuhnya digerakkan oleh tangan manusia, melainkan oleh dinamo, sistem mekanikal, dan kendali digital. Dari perpaduan bambu dan teknologi itulah lahir angklung robotik, sebuah inovasi yang dikembangkan Arief Fazariansyah bersama Ferdy Seniman Angin dan Arul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekilas, bentuknya masih menyerupai angklung pada umumnya. Tabung-tabung bambu tetap berdiri rapi dalam bingkai kayu. Tetapi ketika sistem mulai bekerja, setiap angklung bergerak sendiri, menghasilkan nada demi nada yang tersusun menjadi sebuah lagu utuh.
Di balik inovasi itu, ternyata terdapat cerita yang tak biasa. Ide awal adanya angklung robotik ini justru tidak lahir dari dunia angklung, melainkan dari alat musik yang akrab di telinga masyarakat Indonesia beberapa tahun terakhir yakni telolet.
"Sebetulnya ini awal ide itu di tahun 2024. Karena kan kami itu kan basic-nya di musik Telolet Horn atau di telolet. Jadi saya mikir gimana caranya sistem yang di telolet ini bisa diaplikasikan di alat musik tradisional," kata Arief, Kamis (10/9/2026).
Dari berbagai alat musik tradisional, Arief melihat angklung memiliki logika permainan yang paling dekat dengan sistem mekanikal tersebut.
"Salah satunya yang logikanya mendekati sama telolet, ya inilah angklung. Makanya kita apa punya ide bikin angklung robotik ini basic-nya dari telolet. Di tahun 2024 pengembangan sampai akhirnya final di tahun sekarang 2026 gitu," ujarnya.
Perjalanan menuju bentuk akhir angklung robotik ternyata tidak singkat. Selama hampir dua tahun, Arief dan tim melakukan berbagai percobaan. Mereka tidak hanya memikirkan bagaimana angklung bisa bergerak otomatis, tetapi juga bagaimana karakter bunyinya tetap terdengar alami.
Cara kerjanya sendiri sebenarnya sederhana. Setiap angklung digerakkan oleh dinamo yang terhubung dengan sistem puli dan as dorong. Dari mekanisme itu, tabung bambu dapat bergerak dengan presisi sesuai nada yang dibutuhkan.
"Kalau kerjanya sebetulnya simpel ya. Jadi tiap angklungnya itu digerakkan sama dinamo dengan tambahan puli dan as dorong. Untuk cara mainnya itu ada dua opsi, ada yang pakai keyboard manual sama modul controller-nya," jelas Arief.
Keistimewaannya terletak pada modul pengendali digital. Dengan sistem tersebut, angklung robotik tidak hanya memainkan satu nada atau melodi sederhana, melainkan mampu membawakan sebuah lagu secara utuh lengkap dengan ritme, variasi nada hingga bass.
"Jadi modul controller tuh fungsinya dia bisa mainin aransemen satu lagu full dengan rhythm-nya, dengan variasi nadanya, dengan bass-nya juga. Jadi dia bisa main misalkan satu lagu full, dia main sendiri tanpa harus kita mainin secara manual," katanya.
Semua gerakan angklung diatur melalui file MIDI, format digital yang lazim digunakan dalam produksi musik modern. Namun tantangan terbesar justru muncul pada hal yang tidak terlihat, yaktu gerakan kecil angklung itu sendiri.
Angklung selama ini identik dengan bunyi panjang. Sementara dalam musik modern terdapat teknik staccato, yakni nada-nada pendek yang dimainkan secara cepat. Arief dan tim harus melakukan riset panjang agar angklung tetap bisa berbunyi meski digerakkan dalam waktu yang sangat singkat.
"Untuk prosesnya sebetulnya lumayan panjang di riset mekanikalnya sih. Jadi nada tuh ada yang namanya staccato ya. Jadi kita tuh harus ngitung nih gimana caranya si angklung bisa geraknya tuh dengan bar-bar tipis, bar-bar pendek dia bisa tetap bunyi," ujar Arief.
"Itulah yang jadi riset yang lumayan panjangnya di situ. Jadi kan angklung identik dengan bar-bar panjang ya, kita ada staccato-staccatonya biar bisa dia bunyi juga. Itu yang kita bikin di programnya," lanjutnya.
Tak hanya mekanisme penggeraknya, angklung yang digunakan pun dibuat berbeda. Arief dan tim memesan angklung khusus kepada para perajin dengan tangga nada yang telah dimodifikasi agar mampu memainkan aransemen yang lebih luas.
"Kalau pembuatan angklung kita nggak buat sendiri ya, kita buat ke pengerajin juga. Kita pesan ke pengerajin cuman dengan tangga nada yang beda sama angklung konvensional," katanya.
"Kita ada beberapa custom tangga nada yang memang ada minornya. Jadi biar nada-nada itu lebih real kedengarannya gitu. Jadi nggak terbatas kita bikin aransemennya gitu," tambahnya.
Keberadaan angklung robotik ini juga memunculkan pertanyaan soal peran robot yang dikhawatirkan menggantikan pemain angklung tradisional. Arief memahami kekhawatiran tersebut.
Namun baginya, teknologi bukan ancaman bagi budaya. Sebaliknya, teknologi justru menjadi jembatan agar kesenian tradisional tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
"Ya pasti ada lah ya sedikit pertentangan atau misalkan statement-statement yang negatif mungkin takut budaya tradisional tuh tergeser. Saya sangat menghargai pendapat itu karena ya secara logika mungkin ke arah situ ada. Cuman kan tujuan kita di sini bukan untuk itu," ucapnya.
"Tujuan kami di sini membuat robotik angklung ini bukan untuk menghilangkan budaya tradisionalnya. Justru kita berharap bisa kolaborasi. Misalkan gimana caranya antara angklung tradisional dan robotik itu kita bisa main bareng, main dalam satu panggung, arahnya kan ke situ," pungkasnya.
(bba/sud)
