Sabandar Karimadi: Menjaga Napas Silat Sepuh di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Minggu, 30 Agu 2026 08:00 WIB
Sabandar Karimadi, salah satu perguruan silat paling sepuh yang masih bertahan kokoh di pesisir selatan Jawa Barat (Foto: Istimewa).
Sukabumi -

Jangan bayangkan benturan keras tulang beradu tulang atau desing jurus akrobatik yang bising. Di sebuah padepokan sederhana di Jalan Babadan, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kucuran keringat mengalir dalam senyap. Dua pesilat saling tempel lengan, meraba getaran tenaga lawan, lalu dalam hitungan detik satu tubuh terpelanting halus tanpa terlihat dipukul keras.

Inilah napas Sabandar Karimadi, salah satu perguruan silat paling sepuh yang masih bertahan kokoh di pesisir selatan Jawa Barat. Eksistensi perguruan ini berakar lebih dari separuh abad silam, bermula dari dekade 1970-an saat dirintis oleh almarhum Abah Uci.

Tokoh sepuh penerus perguruan, Abah Ateng Sofyan (70), menuturkan bahwa wadah bela diri ini awalnya bernama perguruan Muda Harapan yang lekat dengan Partisan Siliwangi, memadukan corak silat Sukabumian dan Cimande.

"Abah ngikut sama guru tuh dari umur 10 tahun, berarti tahun 1970 udah ikut. Dulunya Abah Uci mengembangkan silat Sukabumian digabung Cimande, namanya perguruan Muda Harapan, terkait Partisan Siliwangi. Tahun 80-an baru mengembangkan Budi Suci dari Abah Darji Cirebon," kenang Abah Ateng saat berbincang santai dengan detikJabar, Sabtu (29/8/2026).

Pintu masuk keilmuan Sabandar ke Palabuhanratu terbuka pada medio 1980-an, ketika Abah Ateng menyaksikan kejuaraan silat tingkat Kabupaten Sukabumi. Terpikat demonstrasi tenaga dalam yang belum pernah ada di Palabuhanratu, ia langsung mengutarakan niatnya kepada sang guru untuk mendalami ilmu tersebut.

"Kata guru, 'Boleh, nanti saya jajapin ke guru saya.' Dibawalah saya ke Cibadak, ke Abah Iip Sarip. Setelah lama latihan di Cibadak sama Abah Iip, Abah Iip cerita ke Abah Uci, 'Udah, buka aja di Palabuhanratu.' Yang akhirnya sampai saat ini ilmu Sabandar Karimadi bisa berkembang," tutur Abah Ateng.

Secara teknis, kekuatan perguruan ini bertumpu pada fondasi gerak rasa yang ringkas dan padat. Alirannya tidak mengandalkan kembangan rumit, melainkan pendalaman lima gerak pokok yang bisa diadaptasi dalam berbagai situasi.

"Inti jurusnya mah cuman lima, yang disebut Jurus Lima Sabandar Karimadi. Cuman dipecah dari lima itu jadi 24 jurus, ngambil dari yang lima itu," paparnya.

Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"


(sya/mso)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork