Jangan bayangkan benturan keras tulang beradu tulang atau desing jurus akrobatik yang bising. Di sebuah padepokan sederhana di Jalan Babadan, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kucuran keringat mengalir dalam senyap. Dua pesilat saling tempel lengan, meraba getaran tenaga lawan, lalu dalam hitungan detik satu tubuh terpelanting halus tanpa terlihat dipukul keras.
Inilah napas Sabandar Karimadi, salah satu perguruan silat paling sepuh yang masih bertahan kokoh di pesisir selatan Jawa Barat. Eksistensi perguruan ini berakar lebih dari separuh abad silam, bermula dari dekade 1970-an saat dirintis oleh almarhum Abah Uci.
Tokoh sepuh penerus perguruan, Abah Ateng Sofyan (70), menuturkan bahwa wadah bela diri ini awalnya bernama perguruan Muda Harapan yang lekat dengan Partisan Siliwangi, memadukan corak silat Sukabumian dan Cimande.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Abah ngikut sama guru tuh dari umur 10 tahun, berarti tahun 1970 udah ikut. Dulunya Abah Uci mengembangkan silat Sukabumian digabung Cimande, namanya perguruan Muda Harapan, terkait Partisan Siliwangi. Tahun 80-an baru mengembangkan Budi Suci dari Abah Darji Cirebon," kenang Abah Ateng saat berbincang santai dengan detikJabar, Sabtu (29/8/2026).
Pintu masuk keilmuan Sabandar ke Palabuhanratu terbuka pada medio 1980-an, ketika Abah Ateng menyaksikan kejuaraan silat tingkat Kabupaten Sukabumi. Terpikat demonstrasi tenaga dalam yang belum pernah ada di Palabuhanratu, ia langsung mengutarakan niatnya kepada sang guru untuk mendalami ilmu tersebut.
"Kata guru, 'Boleh, nanti saya jajapin ke guru saya.' Dibawalah saya ke Cibadak, ke Abah Iip Sarip. Setelah lama latihan di Cibadak sama Abah Iip, Abah Iip cerita ke Abah Uci, 'Udah, buka aja di Palabuhanratu.' Yang akhirnya sampai saat ini ilmu Sabandar Karimadi bisa berkembang," tutur Abah Ateng.
Secara teknis, kekuatan perguruan ini bertumpu pada fondasi gerak rasa yang ringkas dan padat. Alirannya tidak mengandalkan kembangan rumit, melainkan pendalaman lima gerak pokok yang bisa diadaptasi dalam berbagai situasi.
"Inti jurusnya mah cuman lima, yang disebut Jurus Lima Sabandar Karimadi. Cuman dipecah dari lima itu jadi 24 jurus, ngambil dari yang lima itu," paparnya.
Dipercaya sebagai murid andalan untuk melebarkan sayap perguruan, Abah Ateng membawa panji Sabandar Karimadi melesat jauh menembus kota-kota besar di luar wilayah pesisir.
"Kalau dihitung dari tahun 80-an, murid binaan kayaknya sudah ribuan kalau dikumpulkan. Dari perguruan Abah Uci, yang melebarkan sayap ke berbagai wilayah itu Abah. Buka perguruan sampai ke luar, cabang ke Bogor, bahkan sampai ke Jakarta di daerah Kalideres," ungkapnya.
Kini, para guru perintis telah berpulang dan Abah Ateng menjadi figur kasepuhan utama. Menjelang milangkala perguruan yang jatuh setiap bulan Maulid, ia tetap merawat tradisi musyawarah bersama para murid senior.
"Alhamdulillah, saya tidak bisa jalan sendiri tanpa bermusyawarah sama senior-senior saya. Untuk milangkala, hasil musyawarah sudah disepakati hari Sabtu malam Minggu, tanggal 16 malam 17 Maulid," kata Abah Ateng.
Di sisa usianya, Abah Ateng menitipkan amanah besar agar napas perguruan ini pantang padam ditelan zaman modern.
"Saya mohon sama senior-senior dan generasi penerus, semoga peduli untuk mempertanggungjawabkan atau mengembangkan seni budayanya, diwarisi ke generasi-generasi kita. Intinya jangan sampai terhenti di sini, terus berlanjut sampai titik umur," tegas Abah Ateng.
Estafet amanah itu kini mengalir nyata ke pundak generasi kedua. Salah satunya Taufik Agus (41) alias Kang Apong, putra dari almarhum Abah Supenda, sahabat seperjuangan Abah Ateng yang juga sesama murid langsung almarhum Abah Uci.
Apong menjelaskan, nama Sabandar Karimadi merupakan penggabungan aliran silat tradisi Sunda yang berakar dari Cianjur dengan corak Cimande. Di padepokan, para murid dididik lewat sistem jenjang sabuk yang terstruktur rapi.
"Ada tahapan-tahapannya untuk masalah sabuk. Awalnya kita pakai sabuk merah strip satu sebagai pemula belajar Sabandar Karimadi. Sabuk merah strip dua itu sudah lama di Sabandar-nya. Ada yang hitam, sampai ke yang kuning. Kelas kasepuhan kalau yang kuning itu, tingkatan paling tinggi dan sudah bisa ngajar ke yang lain," beber Apong yang sudah berlatih sejak kelas 4 SD.
Bagi Apong, bergabung dengan Sabandar Karimadi bukan semata mengejar kemahiran bela diri, melainkan menjalankan kewajiban moral menjaga darah pendekar leluhur sekaligus menjaga kebugaran raga.
"Semenjak latihan di Padepokan Sabandar Karimadi, seolah-olah kita hidup sehatlah intinya mah, bukan untuk yang lain-lain. Kalau untuk bela diri kan itu sudah jadi kewajiban kita sebagai putra kasepuhan. Intinya satu, ingin mengembangkan seni dan budaya tradisi pencak silat, kedua, untuk kesehatan buat tubuh," jelasnya.
Apong menyebut, murid-murid yang aktif berlatih tak hanya datang dari Jawa Barat, melainkan dari berbagai pulau di Nusantara.
"Murid sekarang banyak, wilayah Palabuhanratu termasuk luar Palabuhanratu. Yang sekarang lagi aktif itu ada yang dari Lombok, dari Batam di luar Kabupaten Sukabumi, termasuk dari Bogor. Itu induknya ke kita, ke Sabandar Karimadi Palabuhanratu," pungkas Apong.
Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)
