Mengenang Ibu Soed Lewat Panggung Teater Musikal di Sukabumi

Mengenang Ibu Soed Lewat Panggung Teater Musikal di Sukabumi

Siti Fatimah - detikJabar
Senin, 18 Mei 2026 15:30 WIB
Penampilan teater musikal Ibu Soed di Sukabumi
Penampilan teater musikal Ibu Soed di Sukabumi. (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Alunan biola mengalun harmoni dari atas panggung Gedung Djuang 45, Kota Sukabumi. Cahaya lampu menyorot sosok perempuan berkebaya putih yang menggenggam biola di tangan kanan. Di belakangnya, seorang tentara Belanda membawa senapan melangkah tegas, sementara lagu-lagu anak ciptaan Ibu Soed menggema membawa penonton seolah kembali ke masa kecil.

Pertunjukan teater musikal bertajuk Ibu Soed: Senada Senandika itu dipentaskan dengan nuansa dramatik dan penuh nostalgia. Lagu-lagu seperti Naik Delman, Naik Kereta Api, hingga Kupu-kupu yang Lucu dibawakan dengan aransemen baru yang lebih teatrikal dan modern.

Seluruh lagu tersebut diciptakan oleh Saridjah Niung alias Ibu Soed, wanita kelahiran Sukabumi yang merupakan tokoh pejuang maestro seni yang jasanya begitu besar bagi bangsa. Ia sangat dihormati atas dedikasinya menumbuhkan nasionalisme anak-anak dan menciptakan lagu-lagu legendaris seperti 'Tanah Airku' dan 'Berkibarlah Benderaku'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sutradara sekaligus penulis pertunjukan, Den Aslam, mengatakan pementasan itu lahir dari keresahannya melihat lagu anak-anak mulai tersisih oleh tren media sosial.

ADVERTISEMENT

"Yang mana kan Ibu Soed itu lahir dan tumbuh di sini, di Sukabumi. Dan itu jadi sesuatu bagi kami sebagai orang Sukabumi juga. Banyak yang belum tahu kalau beliau salah satu komponis terbesar Indonesia yang mewarnai masa kecil kita," kata Den Aslam kepada detikJabar, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, karya-karya Ibu Soed bukan sekadar hiburan, melainkan media pendidikan karakter bagi anak-anak Indonesia. "Dari lagu-lagulah anak-anak kita bisa punya rasa tanggung jawab, rasa memiliki, sampai tenggang rasa," ujarnya.

Den menilai generasi saat ini lebih akrab dengan lagu-lagu viral media sosial dibanding lagu anak yang sarat pesan moral. Karena itu, ia mencoba menghadirkan kembali karya Ibu Soed lewat pendekatan teater musikal yang lebih segar.

"Kalau lagu-lagu ini kita aransemen ulang, dibuat lebih fun dan populer, itu bisa jadi alternatif supaya lagu anak tetap hidup," ucapnya.

Dalam proses produksi, Den mengaku tantangan terbesar adalah mencari literatur tentang sosok Ibu Soed. Ia mengandalkan buku biografi terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan era 1990-an yang berisi wawancara langsung dengan sang komponis.

Dari riset itu pula, ia menemukan fakta bahwa Ibu Sud lahir di kawasan Jalan Kaum, Sukabumi, tepatnya di wilayah Gunungparang, Kecamatan Cikole.

"Beliau ternyata keturunan Bugis dan sempat menjadi anak angkat seorang hakim Belanda bernama Mr J F Kramer," katanya.

Pementasan itu dipersiapkan sekitar satu bulan, mulai dari riset, latihan hingga produksi. Sebanyak 13 lagu Ibu Soed ditampilkan, termasuk beberapa lagu yang dibawakan secara medley.

Sementara itu, pemeran Ibu Soed, Ghaisani Insyira (21), mengaku harus mendalami karakter sang komponis lewat proses riset yang cukup intens. Meski baru pertama kali bermain teater musikal, ia mencoba menghadirkan sosok Ibu Soed yang dikenal tegas dan berbeda dari perempuan pada zamannya.

"Ibu Soed itu bukan perempuan yang bungkam. Karakternya kuat, agak tomboi juga," ujar Cancan, sapaan akrabnya.

Perempuan yang memiliki latar belakang musik itu mengaku tertarik bergabung karena sosok Ibu Soed sangat lekat dengan dunia biola. "Kang Den mencari perempuan asli Sukabumi yang bisa main biola dan bernyanyi. Kebetulan saya basic-nya musik," katanya sambil tersenyum.

Ia menyebut proses latihan berlangsung singkat, hanya sekitar tiga minggu. Para pemain harus membangun chemistry lewat latihan intensif dan pembacaan naskah bersama.

"Ini pengalaman baru banget buat saya. Dari akting, menghafal dialog, sampai bermain musik dalam satu panggung," tuturnya.

Dalam pementasan tersebut, sejumlah lagu bertema alam hingga transportasi dibawakan dengan koreografi dinamis. Adegan demi adegan disusun seperti perjalanan hidup Ibu Soed dalam memperkenalkan lagu berbahasa Indonesia kepada anak-anak di masa penjajahan.

Bagi Ghaisani, pengaruh Ibu Soed terhadap bangsa Indonesia sangat besar karena lagu-lagunya berhasil menanamkan rasa cinta tanah air sejak usia dini.

"Ibu Soed itu sudah bikin lagu viral dari dulu, tapi bukan sekadar hiburan. Lagu-lagunya mengajarkan bahwa negeri kita indah dan kita bukan bangsa yang mudah ditindas," pungkasnya.

Sekedar informasi, Ibu Soed lahir di Sukabumi, Jawa Barat, Hindia Belanda pada 26 Maret 1908. Ia pernah menempuh pendidikan di Hoogere Kweek School Bandung, pendidikan seni dan musik. Sebelum menjadi musisi, ia sempat bekerja sebagai guru, penyiar radio, dramawan hingga seniman batik.

Ibu Soed dikenal sebagai tokoh musik tiga zaman (Belanda, Jepang, dan Indonesia) dan telah menciptakan total 480 lagu anak-anak dan 2 lagu wajib nasional. Meski jasanya begitu besar, hingga saat ini Ibu Soed belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads