Ziarah ke Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar Pangeran

Ziarah ke Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar Pangeran

Nur Azis - detikJabar
Kamis, 29 Sep 2022 06:30 WIB
Menengok Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar Pangeran
Menengok Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar Pangeran (Foto: Nur Azis/detikJabar)
Sumedang -

Sejumlah batu pondasi berbentuk kotak panjang masih berdiri di kawasan komplek perumahan Asabri, Desa Jatimulya, Kecamatan Sumedang Utara. Batu-batu pondasi tersebut dipercaya merupakan patilasan dari rumah Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja (1883-1919).

Terkait patilasan rumah tersebut, beberapa orang mengacu pada koleksi foto miliknya Tropen Museum di Amsterdam, Belanda yang banyak tersebar di jagat maya.

Dalam keterangan fotonya tertulis "De Regent van Soemedang Pangeran Aria Soeria Atmadja met zijn gezin Europese kinderen en enkele bediendes op de trap voor zijn huis (Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeria Atmadja bersama keluarganya dan anak-anak Eropa dan beberapa pelayan di tangga depan rumahnya).


Menengok Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar PangeranMenengok Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar Pangeran Foto: Nur Azis/detikJabar

Sementara itu dari pantauan detikJabar di lokasi patilasan, kawasan tersebut telah manjadi salah satu kawasan cagar budaya di Sumedang.

Selain masih menyisakan sejumlah batu pondasi, di sana pun kini telah dibangun sebuah monumen serta gapura yang bertuliskan Cagar Budaya, Patilasan Kandjeng Aria Soeria Atmadja, Bupati Sumedang Periode 1888-1919.

Nonoman Karaton Sumedang Larang (KSL) yang juga Ketua Pengurus Yayasan Nazhir Wakaf Pangeran Sumedang (YNWPS), Rd. Lucky Djohari Soemawilaga menjelaskan, patilasan yang berada di Desa Jatimulya atau di Sindang Taman merupakan bekas rumah peristirahatan dari Pangeran Aria Suria Atmadja.

"Di sana itu dulunya ada situ atau danau, pasti tempatnya sangat asri dan indah, karena banyak taman, maka daerah tersebut disebut Sindang Taman, jadi itu tuh tempat paniisan atau peristirahatan pangeran Suria Atmadja atau Pangeran Mekah," ungkap Lucky kepada detikJabar.

Lucky menyebut, rumah itu kini hilang keberadaannya dan hanya menyisakan batu pondasinya saja lantaran sepeninggal Pangeran Suria Atmadja atau pada sekitar tahun 1960-an sempat dibakar oleh gerombolan DI/TII.

"Jadi rumah itu sempat dibakar oleh gerombolan pemberontak atau dari DI/TII, karena saat itu mungkin gerombolan mencari emas karena rumah dulu suka dipasang paku emas, dan anehnya pada saat setelah membakar rumah itu, gerombolan tidak dapat keluar dari area sekitar rumah sehingga mudah ditangkap oleh tentara nasional kita pada saat itu," paparnya.

Lucky menjelaskan, sebagai Bupati Sumedang pada masa kolonial, Pangeran Suria Atmadja bersama keluarganya sebenarnya tinggal di Gedung Srimanganti dan Gedung Bengkok atau saat ini disebut sebagai Gedung Negara.

"Jadi saat pemerintahan Sumedang dipimpinnya, Pangeran Suria Atmadja tinggalnya di Gedung Srimanganti dan Gedung Bengkok atau kini disebut Gedung Negara dan ia pun memiliki beberapa rumah, salah satunya di Sindang Taman dan ada juga di Pangaduan Heubeul," terangnya.

Lebih jauh Lucky menyebut, Pangeran Suria Atmadja merupakan anak dari Pangeran Sugih. Berbeda dari ayahnya yang memiliki 31 istri, Pangeran Suria Atmadja hanya memiliki seorang istri, seorang anak dan satu cucu.

Menengok Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar PangeranMenengok Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar Pangeran Foto: Nur Azis/detikJabar

"Pangeran Suria Atmadja menikahi satu istri bernama Raden Ayu Radja Ningrum, beliau memiliki satu anak perempuan dan satu cucu, namun putri dan cucunya itu wafat lebih dulu sehingga dia tidak memiliki keturunan langsung sebagai ahli waris," ungkapnya.

"Oleh karenanya, keputusan dari Raad agama Sumedang Nomor 40 bulan Juli Tahun 1921 memutuskan dari ahli waris dari Pangeran Suria Atmadja adalah adik kandungnya, yaitu Raden Kadir Soemawilaga," ucapnya.

Monumen Lingga, Jejak Jasa Pangeran Suria Atmadja

Monumen Lingga dibangun sebagai bentuk penghormatan Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jenderalnya kala itu, yakni Mr. Dirk Fock kepada Pangeran Suria Atmadja pada April 1922.

Pangeran Suria Atmadja memiliki nama kecil, yakni Raden Sadeli atau dipanggil Aom Sadeli. Ia lahir pada 11 Januari 1851.

Dia menjadi Bupati Sumedang terakhir yang menyandang nama gelar Pangeran. Sehingga dikenal juga dengan sebutan Pangeran Panuntung (Pangeran Penghujung).

Jasa-jasanya bagi pembangunan Kabupaten Sumedang sangat banyak. Mulai dari bidang pertanian, pendidikan, kesehatan, kehutanan, perekonomian, politik dan bidang lainnya.

Maka tidak heran semasa hidupnya mendapatkan beragam macam penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda. Diantaranya tanda jasa Groot Gouden Ster (1891) dan dianugerahi beberapa bintang jasa tahun 1901, 1903, 1918. Payung Songsong Kuning tahun 1905, Gelar Adipati 1898, Gelar Aria 1906 dan Gelar Pangeran 1910.

Menengok Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar PangeranMenengok Patilasan Bupati Sumedang Terakhir Bergelar Pangeran Foto: Nur Azis/detikJabar

Bahkan konon dengan pengaruhnya, ia mampu mengambil alih dari Pemerintah Hindia Belanda untuk melindungi dan memenuhi segala kebutuhan tokoh Pahlawan Nasional, yakni Cut Nyak Dien saat dibuang ke Sumedang. (Forum keluarga H. Husna bin KH. Sanusi Sumedang, 2008)

Sebagai seorang pemimpin, Pangeran Suria Atmadja dikenal sebagai pribadi yang sangat sederhana dan saleh. Seusai menjabat sebagai Bupati Sumedang, ia pun pergi untuk melaksanakan ibadah haji ke Kota Suci Mekah hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada 1 Juni 1921 di sana. Dari sinilah ia pun dikenal dengan sebutan Pangeran Mekah.

(yum/yum)